
catatan penulis:
jangan lupa like komen dan vote yaaa...
makin lancar nih ide author nulisnya karena dukungan kalian, hehe 🤭...
semangatin terus ya my readers... love you all...
happy reading 😁✨❤️
---------------------------------------------------------------------------
...Author POV...
Seketika menyeruak bau gosong. Membuat Ana melihat ke belakang Claire, "M-m-ma.. ma.." seketika Ana menjadi gagap.
Ana sangat takut pada bau asap, bau gosong ataupun hal yang menyangkut api. Karena sewaktu kecil dia terjebak dalam rumahnya yang terbakar oleh api. Untung saja para warga dapat menolongnya dari insiden itu, sehingga hal itu membuat Ana sangat trauma.
Jantungnya berdegup kencang dan membuat kakinya lemas.
Claire segera menoleh ke belakang. Dan dengan segera mematikan kompor dan kembali melihat Ana yang sudah terkulai. "Matikan api nya..." Ucap Ana sambil memegangi dadanya.
Hampir saja jantungnya copot.
"Kau terlalu berlebihan." Claire menatap tajam Ana.
Ana spontan menoleh kearah Claire. "Apa kau tak punya otak! Kau hampir saja membunuh orang orang di rumah ini!" Maki Ana.
"Jika saja apinya menyeruak dan tak terpadamkan kau mau apa!" Lanjut Ana dengan emosional.
"Tak perlu melebihi lebihkan. Ini kompor listrik! Tidak akan ada api!"
"Kau memang bego atau gimana sih! Biarpun listrik kau pikir ngak bakalan bisa korsleting gitu?! Pendek banget pikiranmu!"
Claire merasa terhina dengan ucapan Ana yang mengatakan bahwa dirinya bogo berulang ulang.
Ana kembali memegang dadanya. Sungguh jantungnya masih megap.
Claire membaca pikiran masa lalu Ana. Dan ya, dia dapat mengetahui bahwa Ana sangat trauma Api.
Claire tersenyum licik, kini dia tau apa kelemahan gadis ini. Dan dari ini dia akan membuat Ana bertekuk lutut dan berhenti mengganggu hubungannya dengan Vie.
Ana segera berbalik dan berjalan sempoyongan kembali ke kamar Vie meninggalkan Claire di dapur sendirian dengan pikiran piciknya.
__ADS_1
Ana menutup pintu dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Sialan tuh udel! Untung aku ngak mati secara otomatis karena tingkat konyolnya itu! Ck. Jantungku... Astaga..."
Ana mengusap dadanya menenangkan dirinya.
Dia pun kembali tertidur.
***
Fian mengenakan pakaian serba hitam. Mulai dari sepatu hitam, celana jeans hitam, jaket kulit hitam, masker hitam, kacamata hitam dan juga topi hitam. Dia menyamar.
Drett
Ponsel Fian bergetar, "Ck. Siapa sih ini." Gusar Fian sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, "Ada apa!" Bentak Fian nammun dengan suara berbisik.
Alvaro sang asisten Fian menyerngitkan dahinya, kenapa sang bos malahan bisik bisik begini. Alvaro pun memelankan suaranya, "Begini pak. Kita ada rapat dengan investor asing siang ini, dan persiapannya memerlukan waktu pak. Bapak di mana? Kami memerlukan bapak."
Fian berdecak malas, "Kerjakan sajalah sebisamu. Saya sedang sakit! Jangan terlalu banyak bicara!"
"Tapi pak.."
"Kalau saya mati kau mau tanggung jawab! Lakukan sekarang atau tidak kau ku pecat!" Bentak Fian dengan nada ancaman.
Fian langsung mematikan ponselnya dan kembali fokus melihat ke depan, dia melihat toko kue Vie dan apa yang akan di lakukan Vie saat tanpa dirinya.
Fian sangat ingin sekali menyentuh Vie, alias istri yang masih sah di mata hukum karena belum ada surat cerai di antara mereka.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti di halaman parkir toko kue itu. Dan pada saat itu keluarlah Vie dan di ikuti oleh dua orang.
Fian menyerngitkan dahinya, seperti mengenali sosok lelaki yang merupakan salah satu dari mereka buang keluar dari mobil.
Mata Fian terbelalak saat melihat Claire yang keluar dari sana dan kemudian di ikuti oleh sosok anak kecil yang minta di gendong oleh Vie.
"Hold on. Itu anak siapa? Dan kenapa Claire ada di situ?" Fian mengenggam telapak tangannya dengan amarah, "Jangan bilang itu anak mereka?! Damn!" Kesal Fian.
Sudah dia duga Vie akan segera menikah saat meninggalkannya. Wanita itu penghianatan sesuai dengan kalimat ibunya. "Dasar brengsek!"
Fian segera bangkit berdiri dari semak semak dan pergi meninggalkan tempat ini dengan sangat muak.
Segera Fian masuk ke dalam mobilnya dan mengganti pakaiannya dengan Jas dan celana capper. Dia mulai berangkat menuju kantornya. "Apapun yang terjadi aku takkan pernah memaafkanmu Vie! Takkan pernah!"
***
__ADS_1
Alvaro mengembuskan napas lega. Sempat jantungan saat bosnya mengatakan dia takkan kerja hari ini padahal ada rapat penting dan kini jantungnya kembali berdetak normal dengan keberadaan Fian yang sekarang tengah melakukan presentasi dengan hebat.
Klien bahkan sangat terpukau dan tanpa berfikir panjang mereka langsung menyetujui untuk bekerja sama dengan perusahaan Fian.
'Syukur bapak ngeselin ini datang. Kalau tidak, tamat riwayatku.' batin Alvaro lega.
"Terimakasih telah mempercayai kami." Ucap Fian dengan mengulurkan tangannya sebagai tanda persetujuan di antara mereka.
"Kami yang seharusnya berterimakasih bapak mau membangun relasi dengan perusahaan kami. Terimakasih." Sambut lelaki bule yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini.
Setelah menyepakati segala urusan Alvaro dan Fian memasuki kantor pribadi Fian.
"Al. Bereskan semua berkas persetujuan dan hak milik atas kita, jangan sampai kita merugi dalam kerja sama ini." Ucap Fian sambil memberikan beberapa berkas yang diperlukan Alvaro dalam pendataannya.
"Baik pak." Ucap Alvaro.
Sebenarnya sangat tidak etis Alvaro memanggil Fian dengan sebutan bapak. Padahal mereka memiliki umur yang sama, namun beda masih tentunya.
"Hm. Kerjakan sana." Suruh Fian menunjuk ke pintu keluar dari ruangan dengan dagunya.
"Baik pak." Segera Alvaro pergi dan kembali mengerjakan tugasnya.
Alvaro yang amat terampil dalam segala pendokumentasian dan amat sangat dapat di andalkan dalam pengerjaan proyek pun dengan mudah mengerjakan tugasnya. Bahkan kurang dari 1 jam segalanya sudah tersusun dengan baik. Dan kini dia akan memberikan laporan pada Fian atas pekerjaannya dan apa yang perlu di perbaiki.
Alvaro kembali ke ruangan Fian dengan mengetuk pintu terlebih dahulu,
Tok tok tok
"Masuk," ucap Fian dari dalam ruangan.
Alvaro masuk dan memberikan laporannya, "Berikut laporannya pak. Apakah ada yang kurang?" Tanya Alvaro.
Fian tampak membaca segala hal yang di kerjakan Alvaro, dan akhirnya dia mengangguk, "Sudah baik. Lanjutkan dengan pendataan kemarin dengan perusahaan Grand Tyne. Mereka memiliki kelebihan yang tak di miliki perusahaan lain pada umumnya. Jangan sampai mereka lepas dari kita."
"Baik pak." Ucap Alvaro dan kembali ke ruangannya untuk mengerjakan segala hal pekerjaan.
Alvaro menutup pintu ruangan Fian.
Fian menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya dengan dengan sedikit mengentakkan kursi itu ke kanan dan ke kiri singkat, "Kenapa masih saja memikirkan wanita sialan itu?" Fian memukul mejanya sekali, "Apa aku perlu memberikan dia pelajaran agar tau dengan siapa dia berurusan?!" Kesal Fian.
Fian menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya.
"Sepertinya memang aku harus melakukan sesuatu padanya."
__ADS_1