Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Jumpa Hantu Lagi


__ADS_3

Catatan penulis:


jangan lupa di like komen di vote yaaa...


tinggalkan jejak guys.. jangan cuma nyicipi doang.


buat aku semakin semangat update cerita yaaa...


thanks...


happy reading guys 🤗😁


---------------------------------------------------------------------------


Aku masuk ke kantor Ryan dengan mengetuk pintu, "Ryan, ini aku


Vie."


Tak ada jawaban. Aku mengetuknya lagi, "Ryan.."


Masih tak ada jawaban.


Ck.


Karena terlalu lama menunggu aku langsung masuk saja. Aku langsung a berdiri kaku saat melihat Ryan menatapku tajam sekali. Seperti ada bara api di matanya.


Ini pasti karena aku terlambat datang. "M-maaf." Kataku kaku.


"Kemari kau." Katanya datar dan menusuk.


Aku pun berjalan perlahan ke padanya, tepat berada di depannya dan duduk di hadapannya.  "Aku tadi.."


"Diamlah. Kerjakan semua tugasmu sekarang. Nanti aku pikirkan apa hukuman yang layak bagi orang sepertimu."


Deg!


Aku membelalakkan mataku, "Yah... Jangan di hukum lah. Ck, masa dikit dikit di hukum." Kesalku.


Dia menatapku tajam, "Kau pikir aku perduli?"

__ADS_1


Aku teringat akan Dion, semua akan baik baik saja. Aku memiliki teman untuk komunikasi nanti, jadi aku diamkan saja si Ryan ini. Mulut Dion tak akan ember bukan, dia kan hantu.


Aku memutar mata malas. "Terserah."


Ryan makin menatapku tajam, "Aku tak suka nada bicaramu."


Aku berdecak, "Jadi harus gimana? Harus pake nada gitu?" Aku berdehem sebelum akan menadakan kalimat ku seperti bernyanyi, "Ter.. se.. rahh..."


Dia semakin kesal.


Lah ni orang kenapa sih? Kok sensian amat. Memang sih dia orangnya memang sensian, tapi hari ini dia lebih dari hari bisanya.


"Kemari." Dia menunjuk ke arah sebelahnya menyuruhku untuk  segera menuju ke sebelah.


Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju ke sebelahnya dan melihat nya datar, "Kenapa lagi?"


Dia bangkit berdiri membuat aku sedikit mendongak.


Cup


Deg!


Ni orang kenapa sih ngomong ngak jelas.


Bodo amatlah. Ngak perduli juga.


Yang aku pikirkan adalah Dion. Sampai rumah nanti aku panggil Dion dan curhat panjang lebar padanya. Dia hantu yang baik, aku tau itu dari tatapannya yang begitu tulus, di tambah ganteng lagi. Kalau manusia udah aku sprepet bener.


"Arkh." Aku tersentak dari lamunan ku saat tersadar Ryan telah menggigit dan menciumi leherku.


Tangannya telah merangkul pinggangku erat, membuat tak ada pembatas antara tubuhku dengannya selain baju.


Aku memegangi leherku, "Sakit Ryan!"


Dia menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum miring, "Sebagai Nyai kau harus ku tandai bukan? Aku tak ingin tertukar dengan yang lain."


Aku menyerngitkan dahiku. Nyai katanya?! Sejak kapan aku jadi nyai?! Maksudnya aku jadi wanita yang kedudukannya lebih tinggi dari babu dengan tugas untuk merawat majikannya seperti suami namun tetap saja bukan wanita yang diperistrikan gitu?!


Sebelum aku menyambung kalimatku Ryan kembali mencium bibirku dan menggendongku sampai mendudukkanku di mejanya. Dia tak lepas menciumku.

__ADS_1


Damn!


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu membuat Ryan berhenti menciumku, "Akan aku lanjutkan lagi hukumannya di ranjang setelah ini."


Mataku terbelalak.


Ryan melihat ke arah belakang ku yaitu pintu masuk. "Siapa." Tanyanya datar.


"Tuan ada berkas yang perlu.."


"Iya iya. Berikan padaku saat pulang nanti. Kenapa kau sangat menyusahkanku? Kau di pecat." Tegas Ryan tanpa memperbolehkan sekretaris barunya tadi masuk. Wanita yang menggoda Ryan tadi pagi.


"T-tapi tuan.. malam kita.." meminta kepastian akan malam mereka yang telah di janjikan Ryan tadi saat sebelum masuk kantor.


Dasar wanita aneh, bukannya takut di pecat, malah takut kalau Ryan tak mau menidurinya malam ini. Apa coba yang ada di pikirannya?!


"Kau ingin aku menembakmu?" Tanya Ryan sangat dingin.


"T-tidak Tuan. Baik Tuan saya akan pergi."


Kemudian terdengar suara langkah kaki seperti berlari menjauh.


Aku menatap Ryan yang kemudian di balas olehnya, "Pergi saja dengan dia. Dia bahkan menyerahkan dirinya, kenapa harus aku?"


Dia tersenyum miring yang semakin menampilkan bibirnya yang tebal dan merah muda. "Jika aku menjawab pertanyaanmu, aku akan bersetubuh dengan mu sampai lusa malam. Kau mau?"


Tanpa menunggu jawabanku dia langsung menciumku, aku mengelak. "Gak. Gak perlu di jawab." Aku mengerjap ngerjapkan mataku, "A-aku mau lanjut mengerjakan tugasmu."


Dia menahan pinggangku membuat aku melihatnya matanya lagi, dia tersenyum miring. "Melayaniku juga merupakan tugasmu."


Aku mengerjap ngerjapkan lagi mataku. Sial kenapa jantungku sangat berdebar.


Ryan meraup pipiku dengan tangannya yang besar dengan lembut sambil wajahnya semakin mendekat sambil tersenyum, "Ekspresi mu membuat aku semakin horny Vie. Ingin langsung menerkammu."


Huh? Ekspresi yang mana?!


Dia langsung menciumku dan memuaskan hasratnya membuat sekujur tubuhku lemas tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2