Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Dion dan Vie


__ADS_3

Catatan penulis:


Hai my readers tercinta. Yuk lah di like, komen dan vote guys... Jangan cuma di cicipi abis itu di buang gitu aja ya...


Aku lihat banyak yang baca cerita aku. Tapi jempolnya itu loh guys... Sulit amat klik likenya 🙂💔...


Padahal kan semakin banyak yang like komen dan vote jadi makin buat aku semangat up guyss...


Please lah guys ku terkasih. Jangan pelit pelit dungs ngasih jejaknya...


Jadi... Ingat loh ya, jangan sampai lupa guyss..


-----------------------------------------------------------


"Dion... Psstt. Dion.." Bisikku saat melihat Dion tengah duduk di bangku taman dari balik jendela.


Dia menatapku datar.


Seperti marah?


Aku mengibas ngibaskan tangan ku kedalam memanggil nya, "Sini..." Biskikku lagi, dia dengan cepat berpindah masuk ke dalam kamar ku seperti transisi, menggenggam tanganku dan seperti hembusan angin kami pindah ke suatu tempat.


Begitu silau sehingga aku menutup mataku. Dan kemudian kesilauan mereda membuat aku kembali membuka mataku perlahan.

__ADS_1


Aku berada di ruang besar dengan rak buku yang mengelilingi ku, dengan barisan buku yang tersusun di rak buku yang memanjang jauh ke atas membuat aku mendongak. "Kerenn..."


"Kenapa kau berbuat serendah itu." Terdengar suara dari sebelahku. Mataku terbelalak saat aku melihat diriku duduk di atas pangkuan Dion di atas kursi yang elegan berwarna merah maron gelap dengan lapisan berwarna emas yang melapisi kayu yang merupakan penyanggahnya bak kursi raja yang hanya dapat di duduki oleh satu orang saja.


Aku hendak berdiri namun tangannya menahan pinggangku, "Jawab." Katanya seakan menipiskan atmosfer oksigen.


Aku menundukkan kepalaku. "Kau pikir aku mau huh?"


Aku menghela nafas sebelum mengangkat bicara, "Ryan Lewis adalah seorang pembesar dan orang paling berpengaruh. Aku tak mempunyai kekuatan bahkan sekuat apapun aku memberontak."


Aku menahan air mataku ingin tumpah, "Hidupku selalu sial di manapun aku berada. Bahkan aku sudah mencoba bunuh diri tapi itu hanyalah hal yang sia sia. Aku tak punya apapun dan tak tau harus apa. Aku ingin menghilang tapi selalu gagal. Kenapa hidupku begitu susah?"


Aku menatap Dion. "Dion, aku tak tau harus bagaimana menempuh hidup. Aku mencoba bertahan tapi aku malah meremukkan tulangku sendiri. Begitu berat membuat aku terlalu gila untuk semua ini."


"Sungguh aku bahkan tak layak di katakan sebagai manusia. Aku tak pernah merasakan kemanusiaan di dunia ini." Aku menggenggam baju Dion, "Dion... Bagaimana hidupku ini?!"


"Begitu susahnya aku sampai aku hanya memilikimu sebagai teman seutuhnya. Aku tak tau lagi..." Kataku lemah.


Kepalaku tertunduk dalam dan aku terus menahan tangis sambil terus menlap air mataku dengan seengukan.


Kedua tangan meraup pipiku dan membuatku mendongak, "Aku ada untukmu. Dan selamanya." Ucapnya membuat mataku berbinar dan kemudian memeluknya erat.


"Makasih Dion..."

__ADS_1


Dia membalas pelukanku. Begitu hangat dan nyaman.


Aku mendongakkan kepalaku saat dia menaikkan daguku dan kemudian memegang tengkukku.


Cup


Dion menciumku lembut sekali membuat jantungku berdebar hebat terkejut karena perubahan sikapnya.


Kenapa dia menciumku?!


Dan bagaimana aku bisa merasakan debaran jantungnya?


Bukankah dia hantu?


Dia menenggelamkan wajahnya pada leherku, dia terkekeh singkat, "Aku suka baumu." Dia menghirup aromaku dan mencium leherku lembut, "Mint."


Aku hendak menolaknya namun dia kembali mencium bibirku perlahan-lahan.


Kemudian cahaya silau menyinari dan seakan ada angin menerpaku.


Seketika aku kembali ke kamar Ryan dan melihat dia tengah tidur di sebelahku dan kemudian memelukku.


Kepalaku terasa pusing dan membuat aku begitu mengantuk.

__ADS_1


Aku tertidur untuk menenangkan pikiranku.


__ADS_2