Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Ryan Lewis


__ADS_3

Segala berkas menumpuk membuat aku pusing tujuh keliling.


Lihatlah, dia hanya menjelaskan beberapa hal mengenai tugas kantor yang membuat aku mumet dan dia langsung menyuruhku mengerjakan tugas tugasnya sampai 2 tumpukan lebih dengan tinggi tumpukkannya di setinggi atas kepalaku.


Damn!


Baru mengerjakan setengah tulang belakang ku udah encok karena duduk terus.


Ck. Sakitnya 😑


Aku merenggangkan badanku.


"Jangan berleha leha. Buang buang waktu saja." Katanya tanpa melihatku.


Aku melihatnya penuh kegeraman. Tapi ni orang tahan banget ngerjai tugasnya. Lihatlah, dia masih fokus dan membaca lembaran tiap lembaran.


Lama aku membaca tumpukan kertas ini, aku baru menyadari ada nama seseorang yang tak asing di benakku.


Ryan Lewis


Bukannya ini nama pemimpin sekutu dagang yang kejam itu ya?


Yang memaksa kerja paksa dan membuat setiap rakyat merana serta suka bermain wanita hanya sekedar untuk senang senang kemudian membunuhnya jika terlalu banyak menuntut. Lelaki usia 35 tahun.


Ya.. walaupun nilai sejarah ku rendah, tapi aku kenal nama ini.


"Ryan ini siapa ya? Jadi penasaran." Gumamku dengan suara setengah.


"Aku Ryan. Kenapa?" Jawabnya membuat aku menoleh ke arahnya cepat dan shock.


D-dia?!


Anjir!


Pantesan kejam begini.


Waduh...


Ngak selamat nih aku di sini!


Dia menatapku datar dan dingin. "Jawab. Kenapa?"


Deg!


Aku menggeleng kepala, "Gak ada. Lupakan aja."


Aku kembali melihat kertas dengan darah yang aku rasa hampir membeku karena tanganku terasa semakin dingin.


Sial!


"Hei kau. Kemari!" Tegasnya.


Tanganku semakin dingin sambil menoleh ke arahnya. Namun pikiranku berkecamuk, aku membenci orang kejam dan tidak adil. Membuat aku menjadi berani dan akan menuntut jika di kekang.


Aku berdiri dan berjalan ke arahnya.


Dia menepuk pahanya, "Duduk di sini."

__ADS_1


Aku menatapnya jijik, "Enak aja!"


Dia tersenyum miring.


Tiba tiba dia menarik pinggangku dan spontan aku terduduk pas di pahanya. Dia mendekatkan wajahnya sehingga aku terus mundur dengan cepat karena dia terus mendekat.


Dia tersenyum miring saat aku spontan melingkarkan tanganku di lehernya karena hendak terjatuh.


Sial!


Sebelum dia menciumku tanganku dengan cepat menutup mulut dan membuat dia malah mengecup punggung tanganku.


Dia menatapku datar karena kesal. Kemudian dia malah meraba perlahan pinggangku dan terasa semakin naik.


Aku menahan tangannya dan menatapnya emosi. "Brengsek kau ya!" Aku melepaskan diri nya dan kemudian setelah menjauh aku melemparkan sendal ku padanya.


Plak


Tepat sasaran.


Mampus!


Aku tertawa bangga. "Headshot! Hahaha... Makanya jangan aneh aneh."


Aku melihat dia memegangi jidadnya yang lecet karena lemparan sendalku.


Seketika dia melihatku sangat tajam dan menusuk.


Bodo amat! Kaga peduli!


Aku berkacak pinggang dan menarik saat pucuk hidungku dengan telunjukku seperti hidung babi. "Ble ble... Ngak takot!"


Aku auto lari keluar kamar sambil melihat ke arah belakang dan..


Bruk


Aku terantuk oleh sesuatu di hadapanku, aku mengeluh sakit. "Aduh.."


Kemudian aku melihat ke depan, ada seseorang di hadapanku ini. Aku mendongak, lelaki itu menatapku sinis kemudian melihat ke arah belakang ku, "Hey Ryan, who is she? Same like a stupid girl."


Bukk


Aku menginjak kakinya dan dia meringis. "Siapa yang kau bilang bodoh huh bodoh!" Aku kembali menghinanya dengan membalikkan kalimatnya menganggap dialah yang bodoh.


Dia menatapku heran sama seperti Ryan menatapku saat pertama kali. "Who are you?"


"Kenapa? Penasaran huh? Cari tau aja sendiri, tadi kan kau sok pintar." Hinaku.


Dia semakin mendekat dan menatapku dengan tersenyum miring penuh tanda tanya.


Aku mundur dan menatapnya datar, "Aneh!" Kemudian aku berbalik dan hendak pergi lagi.


Bukk


Aku kembali terantuk seseorang, aku  mendongak lagi, "Adohh!!" Ucapku kesal.


Ryan tepat ada di hadapanku.

__ADS_1


Damn!


Sebelum aku kabur lagi dia menahan tanganku dan dengan cepat menggembok tanganku dan tangannya. "Takkan bisa kabur."


****!


Aku hanya bisa diam dan mengusap wajahku gusar.


Dasar tua Bangka!


Ck.


Aku melihat ke arah depan, ke arah teman Ryan.


Si Teman Ryan masih melihat ku, "Who is she huh?"


Ryan melihat ku sekilas kemudian kembali melihat ke arah temannya, "Babu baru."


Sakit banget dengernya anjir!


Teman Ryan mengagguk, "Ever you taste this girl before? I want to taste her." Tanyanya dengan tatapan bejat.


"Eh Om Om! Ngak sadar diri kau ya! Udah tua! Ingat umur anjir! Ingat istri di rumah!" Hinaku frontal.


Yup, aku bilang om om karena memang dia kelihatan seumuran dengan Ryan.


Walaupun sebenarnya mereka tampak awet muda dan tampak seperti 25-an serta tampan. Tapi tetap saja aku tak suka!


Dia terkekeh singkat, "Aku tak pernah dan takkan akan mau menikah. Cukup mencicipi wanita saja sudah cukup." Katanya tanpa tau malu.


Aku menatapnya tajam.


Kemudian aku menoleh ke arah Ryan. 


Cup


Mataku terbelalak saat bibir Ryan tepat mendarat di bibirku. Aku terdiam dan badan ini terasa kaku seperti batu dengan detak jantung yang sangat hebat.


"Aku belum menyicipinya, bagaimana aku dapat memberikannya padamu?" Katanya pada Temannya tapi malah melihat ku, Ryan tersenyum miring dengan wajah nya masih sangat dekat.


Plak


Aku menamparnya. "DASAR BEDEBAHHH!" aku memegangi bibirku dramatis, "FIRST KISS-KU LENYAP!!!"


"Weren. Kembalilah lain waktu. Aku ingin memberikan pelajaran pada babuku ini." Ryan melihat ke arah Temannya datar.


Damn!


Dia mau apakan aku coba?


Temannya hanya mengangguk dan tersenyum miring, "Hm. Nanti kalau bosan kirim dia ke aku. Aku butuh wanita muda." Kata temannya santai.


"Hm," Ryan tersenyum miring.


Teman pergi dan dia langsung menarik tanganku paksa.


"Gak aku ngak mau!!!"

__ADS_1


"Ini hukuman karena kau tak sopan dan keluar kamar tanpa izin."


Someone... Help me!!


__ADS_2