
"Tenanglah, kau takkan sia sia menjadi babuku. Aku akan membayarmu 10 jt perbulan di tambah konsumsi beserta makananmu di tanggung secara terpisah tanpa pengurangan gajimu." Jelas Fian memberi kesempatan untuk hidup layak jika Vie menjadi babunya.
"Gak!" Tolak Vie mentah mentah.
Fian heran. Bukankah itu sudah cukup untuk kesejahteraan hidup? Fian menaikkan salah satu alisnya dengan tatapan datar, "Kenapa?"
"Karena kau memberikan itu semua setelah itu akan menjadikanku seorang wanita pemuas nafsumu! Kau pikir aku bodoh huh?! Lebih baik aku mati kelaparan dari pada memberikan perawanku pada orang brengsek sepertimu!" Tukas Vie to the point.
Fian tersenyum miring, cukup pintar.
"Trus. Apa yang bisa ku dapat darimu setelah aku memberimu fasilitas hm?" Tanya Fian menguji.
"Ya gak ada. Makanya ngak ada gunanya aku disini!" Cetus Vie.
Fian tersenyum miring, "Sayangnya aku takkan mau melepaskan seseorang begitu saja tanpa ada keuntungannya bagiku."
"Heh! Jangan mengada ngada! Kau punya otak di pasang napa sih!"
Cup
Vie terdiam dengan mata terbelalak saat Fian menciumnya.
"Hukuman karena dari tadi gak bisa diem." Ucap Fian santai dengan langsung menggendong Vie ke ranjangnya.
Fian menghempaskan badannya bersama Vie di ranjang dengan badan Fian menghadap miring di sebelah Vie sedangkan sebelah kaki dan tangannya menimpa tubuh Vie memeluknya erat.
Melihat posisi yang sangat rawan ini Vie berteriak walaupun Fian belum ada melakukan apapun terhadapnya, "LEPAS! AAAAA LEPAS..."
Fian ingin tertawa terpingkal pingkal melihat tingkah Vie, tapi dia berusaha tetap dingin, "Diem atau gak aku perkosa." Ucap Fian membuat Vie mati kutu dengan wajah merah dan keringat dingin.
Lagi lagi tingkah Vie membuat Fian gemas. Biasanya wanita yang telah berada di bawah kungkungan Fian akan diam dan malah akan berharap Fian melakukan hal yang lebih panas. Tapi berbeda dengan wanita aneh ini. Dia ketakutan.
'Haha... Lucu bukan?' kekeh Fian dalam hati.
Melihat Vie yang diam membisu membuat Fian kembali ingin mengerjainya. "Kenapa diam? Udah mulai menikmati hm?"
Vie menoleh tajam ke Fian. "Kepalamu itu! Kan kau tadi yang suruh diam!"
Masih semakin gemas melihat wanita yang di dekapnya ini.
Tanpa basa basi Fian ******* bibir Vie dan memposisikan tubuhnya di atas Vie masih dengan mendekapnya.
Bibir Vie menjadi candunya sekarang.
Well, sebenarnya dia ingin melakukan lebih dari ciuman ini seperti wanita lainnya yang pernah dia tiduri. Tapi ntahlah, dia tak ingin melakukannya untuk sekarang. Dia hanya ingin bersenang-senang dulu dengan bibir wanita ini dan kemudian nanti baru dia akan lakukan lebih.
Well... Dalam mindset Fian, wanita hanyalah hiburan. Tak lebih dari itu.
Terasa aneh saat berciuman dengan Vie. Bibirnya bergetar bersama dengan tubuhnya. Fian menghentikan ciumannya dan melihat wajah Vie penuh dengan air mata.
Wajar saja dia menangis. Tapi baru kali ini Fian merasa sangat nyeri saat Vie menangis di sebabkan olehnya.
"...." Vie mengusap air matanya. "Aku membencimu!"
__ADS_1
Deg!
Mendengar kalimat Vie seperti ada pedang yang menusuk hatinya. Tapi Kenapa?
Vie semakin menangis sejadi jadinya.
"Hu hu hu... Kau jahat..." Ringis Vie.
Fian diam dan kembali berbaring di sebelah Vie dengan tatapan tajam menyembunyikan rasa aneh yang ada di dadanya. "Aku tak perduli." Fian kembali memeluknya Vie takut takut dia pergi.
Tapi kenapa dia takut Vie pergi?
Fian mengintip sedikit melihat Vie.
Vie masih se-enggukan karena menangis tadi dan menetralkan nafasnya. "Aku mau bunuh diri aja." Kata Vie dengan suara pelan hampir tak terdengar.
Fian langsung membelalakkan matanya marah. "Awas aja kalau kau bunuh diri!"
Vie menoleh kaget karena baru sadar Fian mendengarnya tadi. "Emangnya kenapa? Kenapa kau marah? Ya terserah ku lah." Kata Vie putus asa.
Fian diam dengan tatapan tajam sulit di artikan.
"Diamlah. Kalau kau mau mati, aku yang akan membunuhmu." Ucap Fian asal. Dengan tatapan mengintimidasi.
Vie membuang wajahnya, sungguh tak punya hati. Vie tetap berpikiran akan cari cara untuk keluar dari sini, kalau tak segera mendapatkan cara keluar dia lebih baik mati bunuh diri bukan mati konyol di tangannya!
"Jangan pikir aneh aneh! Awas aja!" Kecam Fian pada Vie.
'Ni orang kaya cenayang anjir... Tau aja apa yang ku pikirkan.' pekik Vie dalam hati.
"Gak bisa masak." Ucap Vie bohong. Bagaimana bisa dia tak bisa masak. Dia harus hidup mandiri selama hidupnya bukan?
Vie menarik nafasĀ dalam dalam. Sudah sekali hidup seperti ini. "Pesan aja kek, apa kek, masakanku gak enak." Ucap Vie ala kadarnya.
"Kau gak masak, aku akan merenggut perawan mu malam ini sebagai makan malam."
Vie bergidik ngeri.
Fian menata dalam Vie dengan tatapan nakal, "Atau... Gimana kalau aku lakukan sekarang saja hm?"
Tangan Fian mulai bergerak nakal dengan mengelus perut Vie hendak memasukkan tangannya ke dalam baju Vie.
Tep
Vie menahan tangan Fian dan menatapnya kesal. "Iya aku masakin!"
Fian tersenyum miring kemenangan.
***
Vie menggerutu sepanjang saat dia masak. Walaupun seperti itu saat melihat bahan makanan yang begitu komplit Vie jadi sedikit bersemangat. Dia tak pernah melihat bahan sebanyak ini. Sungguh mencengangkan.
Berbeda dengan Vie yang memasak hanya ala kadarnya, murah meriah muntah.. Hem, itulah moto hidupnya.
__ADS_1
Fian melihat Vie memasak di hadapannya. Ntah kenapa dia jadi terpana.
"Nah. Siap." Vie menyodorkan makanan yang telah di masaknya.
Vie dengan memegang piring yang berisi makanannya duduk di sebelah Fian dan makan.
Ktak
"Arkh.." Vie memekik kesakitan saat Fian menjitak kepalanya.
"Heh. Siapa yang suruh makan deluan hm?" Katanya datar.
Vie memegangi kepalanya yang sakit. "Jadi aku gak makan gitu?"
Fian menaikkan salah satu alisnya tersenyum miring, "Setiap sekali satu suapan, cium pipiku. Gitu tehniknya."
"HEH! APAAN?!"
"Wajib."
"Ck. Kalau gitu aku ngak jadi makan!"
Fian menyuap sesendok ke dalam mulutnya, "Kalau tak makan. Aku yang akan memakanmu."
Vie masih belum konek. "Huh?"
Fian melihat ke arah tubuh Vie dari atas ke bawah dengan nakal, "Menikmati tubuhmu."
Deg!
Sungguh bukan pilihan. Masa cuma itu pilihan yang ada?!
"KAU GILA YA!"
"Pilih dalam 3 detik. Kalau tidak, aku akan melakukan keduanya terhadapmu."
Damn!
"Satu."
Sial, aku harus apa?
"Dua."
Arh.. Brengsek!
"Ti.."
"IYA! A-AKU... A-ku pilih yang pertama. Setiap satu sendok menciummu."
Fian tersenyum miring, I am always win right?
Akhirnya Vie memakan makanannya dengan suapan jumbo agar tak terlalu banyak mencium Fian si lelaki brengsek.
__ADS_1
Dan Fian... Dia hanya terkekeh dalam hati.