Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Alasan Menikahi Vie


__ADS_3

...Author POV...


"Sayang. Kok kamu diam aja?" Tanya Vie menyadarkan Fian dari lamunannya. Fian menggeleng singkat dan tersenyum kaku.


"Em. Mengenai itu. Gak usah di pikirin dulu sekarang sayang. Mama Papa juga masih sibuk, jadi sulit untuk berjumpa."


Vie menundukkan kepalanya, lumayan kecewa dengan alasan Fian. Apa salahnya jika bertemu? Toh juga apakah mereka tak ingin mengobrol dengan menantu mereka?


Fian yang menyadari kesedihan Vie menaikkan dagu Vie lembut, "Nanti aku usahain hubungi Mama sama Papa ya. Semoga mereka beberapa hari ke depan gak sibuk. Oke?"


Vie mengangguk perlahan.


Fian mencubit kedua pipi istrinya pelan, "Jangan cemberut. Nanti cantiknya pudar." Fian mencoba mencairkan suasana dan tersenyum kecil.


Vie terkekeh singkat dan tersenyum. "Biarin aja. Terus kalau aku makin jelek cari aja cewe lain yang lebih cantik." Goda Vie sedikit kesal karena Fian meledeknya tadi.


"Gak lah. Walaupun kamu jadi jelek aku tetap cinta." Fian terkekeh.


"Oh.. Jadi kamu ngatain aku hm?!" Vie membolangkan matanya kesal.


Fian menggeleng cepat dan mempererat pelukannya, "Gak sayang gak gitu..."


"Jadi?!"


Fian menggaruk kepalanya, kenapa jadi serba salah gini. "Intinya kamu cantik. Cantik banget. Aku yang jelek. Beneran!" Ujar Fian tak tau lagi mau berkata apa lagi.


Vie terkekeh melihat suaminya yang panik, "Aku bercanda kok sayang. Haha, sampai pucat gitu mukanya."


Fian mengerucutkan bibirnya, "Hmm. Kamu ih. Buat takut aja."


Fian tersenyum kecil, "Yang.. lanjutin yang tadi ya?"


"Yang mana?" Vie bingung. Karena yang di ingat Vie tadi hanyalah obrolan mengenai orang tua Fian.


Fian mengeratkan pelukannya dan menatap Vie nakal, Fian menenggelamkan wajahnya di cermin leher Vie dan mengecupnya, "Yang ini..."


Mengetahui maksud Fian, Vie langsung jantungan.


'Padahal sering melakukannya tapi kenapa masih takut hm?' batin Fian sambil tersenyum kecil merasakan tubuh istrinya yang menegang takut.

__ADS_1


Fian langsung memulai aksinya seperti singa mendapatkan mangsanya.


Setelah mendapatkan pelepasan kenikmatannya Fian mencium bibir Vie dan kemudian pucuk kepalanya.


Fian menutup kembali tubuhnya dan sang istri dengan selimut sambil kemudian memeluknya.


Vie yang kelelahan mulai tertidur. Sedangkan Fian masih menatap wajah sang istri yang terlelap sambil tersenyum. Fian begitu mencintai sang istri. Sangat mencintainya.


Fian kembali teringat akan kalimat Vie yang ingin berjumpa dengan kedua orang tua Fian. Tak di sangka Vie akan bertanya itu pada akhirnya. Itulah pertanyaan yang di takuti oleh Fian selama ini.


Pasalnya Fian tak memiliki hubungan baik dengan kedua orang tuanya setelah dia mengajukan permohonannya untuk menikahi Vie.


Flashback


"Menikah?!" Fian memastikan apa yang di dengarnya.


Kedua orang tua Fian mengangguk pasti, "Iya menikah."


Fian menatap sungguh kedua orang tuanya yang kini berhadapan dengannya, "Fian ingin menikah dengan wanita yang Fian mau. Buka dari perjodohan yang Mama dan Papa pilih."


Orang tua Fian tampak sangat marah. Terutama ibu Fian. Pasalnya ibu Fian lah yang memilih wanita yang menurutnya tepat untuk Fian.


Pikiran Fian berlabuh pada Vie. Wanita yang sudah berapa kali dia tiduri.


Tapi Fian lebih baik menikah dengan Vie di bandingkan dengan wanita yang di pilih oleh Mama yang sama sekali tak di kenalnya.


Itulah yang di rasakan Fian saat itu.


"Aku memiliki pilihan sendiri." Tekan Fian dengan tatapan tajam.


Kedua orang tua Fian saling bertatapan. Mereka tak percaya pada anaknya ini, bagaimana mungkin Fian bisa mengatakan hal itu padahal mereka tau Fian tak pernah mau serius pada wanita. Hal itulah yang membuat mereka ingin menjodohkan Fian.


"Fian jangan mengada ada!" Amarah Mama Fian.


"Tapi Fian berhak atas kehidupan Fian!" Fian tak ingin di atur oleh siapapun dalam hal percintaan. Itu hal pribadi menurutnya.


"Hentikan Fian! Jangan melawan Mamamu! Kau harus tetap di jodohkan dengan wanita pilihan kami!" Bentak Papa Fian.


Fian mengeraskan rahangnya, "Aku mempunyai pacar dan aku akan menikahinya! Jika kalian tak menyetujuiku menikah dengannya aku akan bunuh diri!" Ancam Fian.

__ADS_1


Sesungguhnya Fian hanya menggertak. Mana mungkin dia mau bunuh diri karena seorang wanita?


Tidak ada sama sekali dalam rumus kehidupannya.


Kedua orang tua Fian sangat emosi dengan tekanan darah yang mulai naik. Baru kali ini anaknya berani mengancam mereka terutama hanya karena wanita. Hal itulah yang membuat orang tua Fian menganggap wanita pilihan Fian adalah wanita yang tidak baik yang membuat anaknya memberontak.


"Aku sungguh sungguh." Ucap Fian tajam. Fian bahkan jijik melihat dirinya sendiri, baru saja dia menghina adegan romantis yang masuk beranda Instagram dengan isinya seorang lelaki rela mati jika tidak menikahi wanita pilihannya, kini Fian sudah terkena bala karena hinaannya itu.


Papa Fian hendak menampar Fian namun di tahan oleh istrinya. "Sabar pa." Ucap Mama Fian meredam emosi sang suami.


Papa Fian menarik nafas mengontrol emosinya. Bagaimana pun mereka sangat sayang pada anak semata wayangnya ini.


Hingga satu ide terbesit pada pikiran Papa Fian. "Aku akan menyetujuimu menikahi pacarmu jika kau menikah besok. Jika tidak kau harus menikah dengan wanita pilihan kami."


Fian awalnya terdiam. Kemudian terkekeh, "Baiklah. Kami akan menikah besok." Ucap Fian enteng membuat kedua orang tua Fian terkejut.


"Bagaimana kau bisa memastikan wanita itu mau menikah?! Jangan mengada ada Fian!" Amarah Mama Fian.


'Tentu saja mau. Aku telah merebut kesuciannya bukan? Dia juga pasti tak ingin mempunyai anak haram?' batin Fian sambil tersenyum miring.


"Dia pasti mau. Aku yakin." Ucap Fian tanpa ragu.


Sudah di pastikan oleh sang ibu bahwa wanita yang di maksud Fian adalah wanita yang tak beres.


Wanita mana yang langsung menyetujui pernikahan yang sangat mendadak terutama di saat mereka masih berstatus sebagai pelajar?


Padahal sang ibu tak tau apa yang telah di lakukan Fian terhadap Vie sebelumnya.


Kemudian Mama Fian menatap tajam ayah Fian. Kesal rasanya kenapa suaminya membuat keputusan seperti itu tadi. Lihatlah, ini menjadi bumerang bagi mereka sendiri.


Ayah Fian hanya mengangguk sekali dan menatap Fian, "Baiklah kalau begitu. Tapi aku sangat yakin pernikahan kalian takkan dapat bertahan lama. Dan pastikan anakku, kami takkan mau berjumpa dan bahkan berkenalan dengannya. Kau akan menderita." Kecam Papa Fian dengan penuh tatapan tajam dan penekanan setiap kalimatnya.


Fian tak perduli. Dia hanya menganggap kalimat orang tuanya hanyalah omong kosong belaka. Dia tau kedua orang tuanya sangat menyayanginya.


'Hanya menikah. Apa susahnya? Kalau besok menikah, bulan depan juga bisa cerai bukan? Toh juga aku tak mencintai Vie. Hanya saja aku mengenalnya makanya aku memilihnya. Dan setelah aku bercerai nanti, Mama sama Papa takkan mau menjodohkanku karena aku bakalan kasih alasan trauma menikah. Selesai bukan?' batin Fian.


Kemudian kedua orang tua Fian meninggalkan Fian secara sepihak.


Flashback End

__ADS_1


Fian kini termakan kalimatnya sendiri. Kini dia mencintai Vie lebih dari apapun. Dia bahkan bisa gila jika hidup tanpa Vie.


Fian memeluk erat Vie, dia harus melakukan sesuatu agar kedua orang tuanya bisa menerima Vie nantinya.


__ADS_2