
Author POV
Dengan girang Vie terbangun dari tidurnya yang lelap. Berapa bahagianya dia karena Dion menyetujui untuk jalan jalan keluar istana. Vie mengelus pipi sang suami lembut, "Sayang... Bangun... Udah pagi tau," ucap Vie lembut.
Dion terbangun dari tidurnya, sungguh sebenarnya dia baru tidur 2 jam saja. Semalam dia begitu risau akan hari ini, Dion menoleh ke arah Vie yang ada dalam pelukannya, "Udah bangun hm?"
Vie mengangguk dengan senyuman manisnya. Melihat Vie yang begitu antusias membuat kekuatiran Dion berkurang. Dia kembali meyakinkan dirinya untuk bisa berjalan jalan hari ini tanpa adanya gangguan nantinya.
Dion mengelus pucuk kepala sang istri, "Kita sarapan dulu ya. Nanti baru kita perginya."
Vie mengangguk.
Cup
Vie mencium bibir sang suami lembut, "I love you."
Sedangkan sang suami yang menerima serangan tiba tiba itu terkejut dan kemudian tersenyum. Beginilah istrinya jika sedang merasa sangat bahagia, pasti akan bertindak di luar dugaan. Biasanya sih yang selalu mencium itu Dion, namun kalau ada maunya Vie pasti yang menciumnya deluan.
Tak menyia nyiakan kesempatan yang ada, Dion dengan cepat kembali mencium bibir sang istri dan kembali membuat pagi dingin terasa lebih panas.
***
Beberapa saat setelah berbenah diri dan sarapan pagi, Vie dan Dion dengan mengendarai kereta kuda mengelilingi kampung pedesaan yang ada di sekitaran istana.
__ADS_1
Sebenarnya antara wilayah kekuasaan Dion dengan wilayah kerja Ryan sangat jauh jaraknya, bahkan di pisahkan oleh lautan. Namun tetap saja Dion merasa kuatir. Semua dapat terjadi bukan?
Mata Dion sibuk memperhatikan kondisi sekitar. Melihat dan mewanti wanti melacak keberadaan Ryan.
Vie yang melihat alam sekitar sangat bahagia, menghirup dalam dalam udara pedesaan yang segar. Tak terasa senyuman lebar terukir di wajah Vie tat kala melihat pemandangan ini.
Sesaat kemudian Vie melihat anak anak kecil sedang bermain lompat tali, seru sekali tampaknya!
Vie langsung membayangkan bagaimana jika anaknya nanti akan tumbuh menjadi anak anak bahagia seperti anak anak yang bermain di sana, Vie mengelus perutnya dan terkekeh singkat, Vie menoleh ke arah Dion ingin memberitahukan hal yang di lihatnya itu.
Namun tampaknya sang suami tak menikmati pemandangan yang ada, suaminya hanya tampak sangat awas melihat ke setiap penjuru wilayah yang mereka lewati. Vie tidak tau apa yang ada di benak suaminya hingga terasa sangat terusik dengan keadaan mereka sekarang.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Vie kuatir.
Dion menoleh ke Vie dan mencoba tersenyum, "Ah tidak apa sayang. Aku hanya mengingatkan pekerjaan ku sedikit tadi." Ucap Dion berbohong.
Vie yang menyadari bahwa dari awal memang suaminya tak menginginkan untuk pergi jadi merasa bersalah karena merasa bahwa dia terlalu memaksakan suaminya itu. Vie menundukkan kepalanya sedih, "Maaf sayang. Aku terlalu memaksa mu pergi bersamaku, kau jadi merasa tak bahagia,"
Dion memegangi pipi istrinya, takut istrinya semakin sedih, "Sayang... Apa yang kamu pikirkan, aku senang. Tentu saja aku menikmati pemandangannya. Aku hanya kurang istirahat malam saja, kemarin aku bergadang mengerjakan pekerjaan." Bujuk Dion.
Vie mendongak dengan mata berbinar yang tampak seperti kelinci yang menggemaskan, "Benarkah?"
Dion tersenyum, "Sungguh.."
__ADS_1
Senyum Vie kembali mengembang dan kemudian Vie memeluk sang suami, "Aku tadi sempat mikir kalau kamu kesal sama aku tadi karena memaksamu..."
Dion menggeleng, "Ngak... Yang penting kamu bahagia, aku pasti bahagia juga..." Dion mengeratkan pelukannya.
Di sisi lain, ternyata Ryan mendapatkan pekerjaan di luar pulau untuk melihat perkembangan ekonomi yang di gunakan sebagai perbandingan dalam perdagangan. Jika wilayah yang akan di kunjungi Ryan ini berpotensi besar untuk berkembang pesat, maka Ryan akan mulai melakukan monopoli perdagangan di sini dan menguasai wilayahnya dengan cara licik ala kolonialisme.
Pelayaran yang memakan waktu 2 Minggu itu terbalaskan hari ini, saat dia dan anggotanya sampai dengan selamat di dermaga besar. Di sambut oleh para penduduk yang ramah dan sopan santun membuat Ryan dengan mudah dapat membaca situasi yang ada.
"Tuan saya akan mengantarkan Tuan ke tempat penginapan untuk beristirahat, mari Tuan," ucap salah satu bawahan Ryan.
Ryan mengangguk dan kemudian mereka berjalan memasuki desa dengan anggotanya.
Tak sengaja Ryan melihat ke arah kereta kuda yang berjalan tak jauh dari hadapan mereka.
Matanya terbelalak saat melihat seseorang yang tak asing.
Apakah itu wanita yang ada di dalam mimpinya?!
Tiba-tiba kepala Ryan rasanya pusing. Suatu tangan menahan tubuh Ryan yang lunglai. "Tuan? Apakah anda baik baik saja?"
Rya sedikit menggelengkan kepalanya menetralkan rasa pusing di kepalanya. Kemudian Ryan kembali melihat ke arah depan. Kereta itu tak tampak lagi.
"Ah... Mungkin itu hanya bayanganku saja." Pikir Ryan.
__ADS_1
Lagipula memanglah benar, Ryan belakangan ini tak berjumpa dengan wanita itu dalam mimpi, membuat Ryan menjadi semakin lesu tanpa kehadirannya. Mungkin itu faktornya mengapa Ryan jadi menghalusinasikan wanita itu.
Ah.. bisa jadi