
...Author POV...
Vie memasak makanan untuk pagi ini. Fian belum terbangun membuat Vie ingin sedikit berkreasi di dapur.
Bi Minah yang ada di dapur panik bukan main. Pasalnya Fian selalu menekankan padanya agar Vie tidak melakukan apapun untuk pekerjaan rumah, mulai dari bersih bersih hingga memasak Fian melarang hal itu dengan keras.
Namun Vie tetaplah Vie. Dia sungguh keras kepala dan membuat Bi Minah jadi ketar ketir sendiri.
"Non. Udah dong non. Nanti saya kena marah sama Tuan." Bisik bi Minah.
Vie menggeleng, "Gak bi. Saya mau buat sesuatu yang spesial untuk Fian. Kue tart coklat yang mantep! Jadi bibi tinggal duduk santai dan sarapan aja dulu." Vie menuntun Bibi untuk duduk dan menyediakan piring untuk bibi.
Waduh. Bi Minah makin panik. 'Kan saya pembantu, kenapa jadi kaya tuan begini? Waduh... Kalau ketauan tuan muda bakalan repot!' batin bi Minah mengingat kejamnya Fian.
Vie tengah menganggang kuenya di oven. Harum nikmat menyebar ke seluruh ruangan. Sebentar lagi masak.
Ting!
Bunyi oven berdeting pertanda kue telah matang. Vie segera mengeluarkan kue dan menghirup aroma kue dalam dalam.
Harum kue itu membuat Fian terbangun. Harum begitu nikmat dan mengiurkan. Fian berjalan ke meja makan.
Mata Fian kembali memicing melihat Bi Minah tengah duduk di meja makan sedangkan Vie sedang ada di dapur yang berhadapan dengan meja makan. Fian mendatangi Bi Minah dengan tatapan berapi-api sedangkan bi Minah hanya merunduk.
"Siapa yang menyuru.."
"Pagi sayang!" Panggil Vie membuat atensi Fian beralih ke Vie. Fian menatap bi Minah dengan tatapan mengancam dan kemudian berbalik tersenyum manis pada Vie yang kemudian dia berjalan ke arah Vie dan memeluk wanitanya dari belakang. "Kenapa malah di sini sayang? Kenapa ngak di kamar hm?"
Vie menunjukkan maha karyanya pada Fian, "Cantik kan? Ini pasti enak."
Fian tersenyum miring dan kemudian menaikkan salah satu alisnya, "Cantikan lagi kamu. Dan rasanya lebih nikmat."
Vie mencubit perut Fian membuat sang pemilik tubuh memekik namun di barengi dengan kekehan. "Mesum!" Kesal Vie.
Fian mencium bibir Vie singkat. "Sayang... Ke kamar aja ya. Hari libur enaknya di kamar tau." Pinta Fian dengan suara parau.
Sungguh suaminya ini semakin lama semakin mesum saja. Membuat Vie jantungan sendiri. Bisa bisa dia takkan bisa berangkat ke sekolah besok karena permainan ranjang Fian.
Vie segera menyendokkan kue ke mulut Fian, "Makan ini. Dan setelah ini kita jalan jalan."
Fian tersenyum merasakan enaknya kue sang istri. But dia masih menatap Vie penuh harap mana tau Vie mau berubah pikiran dan kembali ke ranjang bersamanya.
"Gak Fian." Kesal Vie mengetahui maksud terselubung dari tatapan suaminya.
Fian terkekeh, mendapatkan penolakan dari Vie. Istrinya sangat peka.
__ADS_1
"Iya sayang. Becanda doang." Fian mencubit hidung Vie.
***
Vie menatap baju baju gaun pesta yang begitu indah dan menawan di toko ternama di kota ini. Sungguh membuat mata Vie berair karena sangat mempesona.
Fian terkekeh kemudian menoel hidung Vie, "Kalau mau ambil aja."
Vie menoleh dan tersenyum melihat Fian, "Gak ah. Untuk apa juga gaun mewah. Toh juga ngak akan kepake.
Buang buang uang. Mending di kasih ke orang yang membutuhkan."
Fian menatap Vie, hatinya mencelos mendengar kalimat tulus istrinya. Bangga tentu dia rasakan bisa mendapatkan wanita sebaik Vie.
"Beli aja bajunya. Besok kita bangun 5 panti asuhan. Uangku takkan berkurang untuk itu." Ucap Fian santai. Anak Sultan mah bebas.
Vie terkekeh. Mau di katakan suaminya ini berlebihan tapi yang di lakukan suaminya tak salah, Vie jadi lucu sendiri.
"Kok ketawa." Fian mengerucutkan bibirnya.
Vie melingkarkan tangannya di leher Fian membuat Fian merangkul pinggangnya, Vie mendekatkan wajahnya pada Fian.
Cup
Fian kaget karena kecupan itu. Namun kemudian hal itu membuatnya tersenyum. "Aku makin sayang kamu jadinya."
Vie tersadar karena sikapnya yang tiba tiba jadi agresif ini. Segera Vie mendorong tubuh Fian dan menyelipkan sedikit rambutnya di daun telinganya.
Fian terkekeh. Dia yang mulai kenapa dia yang malu hm?
Fian kembali merangkul pinggang Vie dan kemudian tanpa aba aba mencium dan ******* bibir sang istri membuat Vie semakin malu.
Fian melepaskan ciumannya dan menatap wajah Vie lekat. "Pulang yuk. Gak tahan."
***
Fian dan Vie berjalan melewati taman. Vie terus menggerutu sepanjang perjalanan karena Fian membuatnya sangat malu di depan pelayan toko karena ungkapan Fian yang menyatakan 'Gak tahan,' memalukan sekali... Terutama para pelayan malah jadi baper karena mereka.
Ntah di mana mau di letakkan wajahnya ini.
Fian tersenyum kecil memperdulikan sang istri, "Jangan cemberut gitu. Nanti aku hilaf baru tau."
Vie bergidik ngeri. Kemudian memukul lengan sang suami, "Aw aw," pekik Fian.
Vie mendengus kesal. "Kamu ih!"
__ADS_1
"Becanda doang sayang..." Ucap Fian lembut. 'Tapi kalau beneran aku mah gas terus...' batin Fian mesum.
Vie mengembuskan napasnya dan kembali menenangkan dirinya. "Udah ah. Aku mau makan. Laper."
Fian mengangguk, "Aku juga lapar. Kita pilih resto mana yang dekat sini ya?" Mata Fian melihat ke sekeliling.
Vie mengacak rambut Fian, "Ih kamu. Makan di kali lima aja udah enak kali.."
Fian bergidik, "Ogah. Gak higenis sayang. Kalau kamu sakit gimana? Belum lagi kalau aku juga sakit, dan gimana kalau di dalam campuran makan itu ada zat kimia berbahaya, yang mengancam nyawa dan menyiksa kita sebelum mati. Gimana coba?"
Vie mendengus mendengar penuturan yang berlebihan dari sang suaminya ini. "Fian. Aku udah 17 tahun makan kaki lima dan bahkan sekarang hampir ke 18 tahun. Lihat aku, sehat sehat aja kan? Masih hirup oksigen bukan monodioksida." Kesal Vie.
Fian menatap Vie dengan tatapan puppy eyes. "By... Ngak mau... Aku terakhir kali makan pedagang kaki lima aku mencret 3 hari. Sakit banget rasanya."
Rasanya Vie ingin terbahak bahak mendengar pengakuan Fian namun rasanya kasian juga kalau ditertawakan.
Mungkin memang iya dia lebih sensitif pada masakan jalanan kali ya? Ck, dasar orang kaya.
"Jadi kamu mau makan di mana?" Tanya Vie.
"Di restoran biasa aku makan sayang. Kita makan di sana aja."
Vie mengangguk dan akhirnya mereka makan bersama.
***
Malam ini sungguh nyaman. Fian tertidur lelap dengan memeluk Vie di sampingnya. Kebiasaannya yang sulit tidur malam seakan menghilang saat dia sudah bersama Vie. Wanita ini terlalu nyaman untuk selalu membuatnya terlelap nyaman.
Ada suatu rasa yang mengganjal di hati Vie. Ntah itu feeling atau hal lainnya yang ntah dari mana asalnya, "Fian. Kau sungguh mencintaiku kan?" Tanya Vie pada Fian.
Walaupun tertidur Fian sangat peka akan suara terutama suara sang istri tercinta, "Hm. Iya sayang." Jawab Fian dengan suara parau mengantuk. "Kenapa ayang tanya gitu hm?"
Vie mengeratkan pelukannya pada Fian, "Ntah lah. Aku hanya takut saja. Aku tak tau kenapa hatiku tiba tiba saja merasakan hal ini."
Fian mendongak dan menatap wajah sang istri, "Aku cinta banget sama kamu. Banget banget."
Vie tersenyum kecil mengalihkan ekpresi ragu yang masih ada hal yang mengganjal di hatinya.
Fian memeluk Vie, "Sayang percayalah. Kenapa kau harus ragu hm? Aku milikmu dan kau milikku. Itu kebenaran atas segalanya."
Vie kembali bernafas lega. Vie yakin akan Fian, tak ada kemunafikan dalam tatapan wajahnya.
Vie kembali memeluk Fian dan menutup matanya sambil tersenyum, "Aku percaya padamu sayang. Janji."
Fian tersenyum. "Love you."
__ADS_1
"Love you too,"