
...Author POV...
Semua bertepuk tangan meriah saat ayah dan ibu tiri Ryan saling berciuman dengan mesra saat acara hari jadi pernikahan mereka.
Ryan berdiri disebelah ayahnya sambil tersenyum palsu di saat ayah, ibu dan adik tirinya berbicara padanya. Ryan disanjung oleh keluarganya, karena Ryan merupakan ketua dalam kongsi dagang yang memegang peranan penting bagi kekuatan perdagangan bebas internasional.
Sangat berbeda dengan tahun tahun sewaktu dia masih kecil yang selalu di tindas oleh ayah dan ibu tirinya karena merupakan anak haram.
Disebabkan Ryan hanyalah anak biologis dari seorang perempuan Penari dan Nyai ayahnya dulu. Dia sangat hina sewaktu kecil.
Ayah Ryan dulu sangat mencintai ibunya, namun karena memang ibunya yang berselingkuh di belakang ayahnya, ayah Ryan mengamuk dan membenci kemudian menembak mati sang ibu.
Saat kematian sang ibu, Ryan tak pernah di beri sepeserpun uang oleh dari keluarganya, di beri makan seadanya dan bahkan dengan porsi nasi sisa bekas ayah dan ibu tirinya. Sangat tertindas.
Dan hari ini Ryan datang ke pesta bukan karena patuh, tapi karena tak ingin di cap oleh orang lain sebagai anak yang tak tau diri dan merusak identitasnya sendiri sebagai orang besar, dia lebih baik bermuka dua dengan tetap diam.
Ayah dan Ibu tiri yang menyusahkan.
Cih.
Ayah Ryan hendak memberikan sedikit dari kekayaannya pada Ryan agar dapat menaklukkan hati Ryan. Namun mengetahui otak kotor ayahnya, Ryan dengan sopan menolak walaupun dalam hati dia memandang jijik lelaki tua ini.
***
"Sudah lewat tengah malam dan kemungkinan si babu sudah tidur," Ryan bermonolog dalam kendaraan pribadinya sedang supir fokus dalam menyetir.
Ck.
Saat sampai, sang supir keluar rumah dan membuka pagar kemudian kembali masuk ke dalam mobil untuk mengendarainya sampai ke dalam rumah.
Setelah itu sang supir keluar dan membuka pintu mobil untuk Ryan, Ryan keluar.
Melihat pintu tak terbuka, Ryan sangat sadar bahwa Vie tertidur.
Ide jahil kembali masuk ke pikirannya, Ryan melihat sekitar dan menemukan batu kerikil.
Bukan tidak bisa Ryan mengetuk pintu agar Vie membukanya, tapi Ryan senang saja melihat Vie tersiksa dan menahan marah sampai wajahnya memerah.
Inisiatif nya adalah memecahkan jendela kamar Vie, setelah itu menyuruh Vie untuk merapikan yang berantakan itu dan membeli kaca yang baru besok. Ide yang sangat cemerlang bukan?
Ryan terkekeh singkat, ada hiburan bukan?
__ADS_1
Sedang sang supir menggeleng pelan menyadari kenapa tuannya jadi aneh seperti bocil belakangan ini. Suka mencari gara gara hanya pada Vie seorang.
Ryan melempar kerikil ini ke arah jendela kamar Vie dengan keras.
Prang!!
Pecah.
Vie tersentak terbangun, Vie terkejut karena Dion memeluknya erat saat tertidur. Tadi kan hanya gandengan tangan doang?
Bukan gimana gimana. Hanya saja jantung Vie rada ngak normal saat Dion berada terlalu dekat.
Ya kali, Dion itu udah ganteng dengan pesonanya yang memikat. Bagaimana wanita bisa tahan?
Sebenarnya Ryan juga memiliki pesona yang luar biasa, namun karena menyebalkan, semua ketampanannya hangus seketika di mata Vie.
Vie mendorong tubuh Dion namun di tahan olehnya, "Biarkan saja dia di luar sana. Aku hanya ingin bersamamu malam ini." Ucap Dion dengan suara serak ala orang baru bangun tidur tanpa melihat Vie.
Jantung Vie makin tak karuan dan kembali mendorong Dion, "Jangan begitu. Dia Tuanku. Lagipula tadi kan aku maunya kita hanya pegangan tangan, tapi kenapa malah meluk aku segala." Kata Vie gerogi.
Dion menatap Vie datar, "Kau yakin hanya menganggapnya sebagai Tuan bukan? Bukan sebagai lelaki?" Tanya Dion menyelidik.
Mendengar kalimat itu Vie mengangguk pasti, "Tentu."
Prang!!
Kaca kembali pecah.
Ryan sangat kesal karena Vie tak kunjung keluar dari kamar. Dia telah menunggu setidaknya 5 menit dari waktu berharganya.
Vie melihat ke arah Dion, "Sudahlah. Aku harus segera membuka pintu. Nanti dia semakin marah. Kau pergilah sekarang."
Dion menatap Vie kecewa namun kemudian mengangguk, "Baiklah."
Kemudian Dion menghilang.
Dan beberapa saat kemudian lampu kamar Vie menyala, dia keluar dan melihat ke arah luar.
Vie melihat ke arah Ryan dengan kesal dan marah.
Ryan mempelototinya dan membuat Vie kincep dan langsung tersenyum ramah di paksakan.
__ADS_1
Ryan tersenyum miring, mulai merasa tersiksa huh?
Namun karena telah lama merespon Ryan akan segera menambah hukuman pada Vie nanti.
Vie kemudian masuk dan setelahnya pintu depan rumah terbuka.
Ryan berjalan masuk sedang Vie menunggu di depan pintu.
Ryan melempar tasnya pada Vie spontan Vie mengambil tasnya.
Vie mendengus berat menahan emosi, Ryan menatapnya tajam untuk menggertak Vie. Dan benar saja, Vie langsung tersenyum ramah di paksakan.
Cih. Rasain...
Ryan melihat Vie dari atas sampai bawah. "Kalung apa itu?" tanya Ryan menyadari ada kalung perak dengan motif bintang yang terbuat dari kaca pada mata kalung itu.
Vie melihat lehernya, dia bahkan tak tau ini berasal dari mana dan sejak kapan kalung ini bisa melingkarkan di lehernya.
Vie melihat kearah Ryan. Dari pada makin kena marah mending bilang aja ini dari leluhur keluarga Vie.
"Ini punya nenek. Kalung turun temurun." Ucap Vie asal.
Ryan membuang wajah acuh tak perduli kemudian menatap Vie tajam, "Karena kau membuatku kesal tadi. Kau harus menghiburku sekarang."
Vie menatap Ryan bingung, "Hiburan apa?"
Ryan mengedikkan bahu malas, "Apapun. Kalau tidak menghiburku, aku akan menghukummu ganti atap gudang malam ini juga."
Ingin rasanya menjerit di muka Ryan sambil menyekiknya hingga mati karena sesak nafas. Tapi Vie berusaha tenang dan kemudian mencoba berfikir.
"Waktu habis. Kau terlalu lama berfikir." Ryan mengebas ngebaskan tangannya di udara acuh, "Pergi sana, ganti atap genteng sekarang juga."
Vie mengepalkan tangannya dengan matanya membulat berapi-api emosi.
Ryan menoleh ke Vie, "Mau tambah hukuman lagi?"
Vie langsung tersenyum memaksa, "Tidak Tuan. Saya akan mengganti genteng gudang sekarang."
Ryan rasanya ingin terbahak bahak melihat ekspresi Vie. Namun dia menahannya sambil memasang muka datar, "Hm. Kerjakan sekarang."
Vie langsung berbalik dan berjalan menuju gudang dengan dalam hati terus merutuki Ryan sejadi jadinya.
__ADS_1
Catatan penulis:
jangan lupa tinggalkan jejak ya ✨