
Catatan penulis:
Ey Yoo... Makasih ya guys...
Karena dukungan kalian like bertambah dan popularitas cerita bertambah...
I love you 🥰💞...
So hari ini aku crazy up 3 eps yang panjang panjang yaa.. Semoga kalian suka ya 🥰💞
Semoga besok besok lebih banyak lagi yang nge-like cerita yaaa... Semakin banyak like, comment dan gift aku bakalan sering sering crazy up loh guysss 😆✌️....
Semangat kalian baca adalah semangat ku dan support kalian adalah kekuatan ku...
Happy reading guys 🥰
...Ryan POV...
Aku mendengus. Dan berdecak marah, "Kenapa Vie tak berontak?! Kenapa dia diam saja dan malah menurut?!"
Aku menelentangkan badanku dan menatap langit langit kamar, "Kau sungguh membuatku marah Vie! Kau tau itu!"
Aku kembali berguling ke kanan, "Siapa coba lelaki yang coba mendekati Vie? Apa dia tak tau tengah berurusan dengan siapa huh?!"
"Apa karena dia lebih kuda dari padaku jadi dia semena kena mendekati Vie?! Dasar brengsek!"
Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya menenangkan pikiranku,
Aku sebenarnya sungguh tak ingin berpisah ranjang dengan Vie. Tapi aku tak ingin wanita itu jadi besar kepala jika aku masih berlaku baik padanya. Dia harus di hukum karena perbuatannya yang selingkuh di belakangku.
Tapi memangnya dia selingkuh apa?
Bukannya yang ku lihat dia cuma berduaan dengan seorang lelaki dan itupun aku melihatnya cuma sekali?
__ADS_1
Ah iya! Aku ingat! Aku kesal padanya karena dia ingin keluar dari rumah dan ingin pergi jauh meninggalkanku!
Kenapa coba dia ingin pergi? Pasti gara gara lelaki itu bukan?!
Lelaki berengsek itu!... Siapa dia?!
Aku memijat pelipisku. "Sial. Kenapa aku bisa semarah ini? Bukankah dia hanya nyai yang bisa ku buang begitu saja jika bosan?"
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya, "Tenangkan dirimu Ryan. Dia hanya pribumi. Kau bisa mendapatkan lebih dari padanya."
"Aku mulai mengetahui kedok wanita sialan itu. Dia adalah wanita bermuka dua"
Aku melipat tanganku di bawah bantal yang menyangga kepalaku, "Aku akan balas dendam terhadapnya dan lelaki itu. Sungguh aku membenci mereka."
***
Aku terbangun dari tidurku saat mendengar sesuatu. Aku membuka mataku sedikit.
Aku melihat dia tengah membuka lemariku.
Aha! Dia pasti mau mencuri!
Aku hendak bangun dan memakinya.
Tapi,...
Dia mengambil baju kerjaku dan peralatan kantor lainnya dia persiapkan. Membuat aku terdiam.
Dia membereskan tanpa mengatakan sesuatu atau bahkan menganggu tidurku.
Aku kembali menutup mata saat dia berjalan ke arahku.
"Ryan maafkan aku.." ucapnya sangat pelan hampir seperti berbisik. Suaranya bergetar seperti menahan tangis.
Kemudian suara itu menghilang dan terdengar pintu tertutup kembali.
__ADS_1
Aku membuka mataku dan bangkit berdiri berjalan ke arah sesuatu yang di siapkannya ini.
Dia telah menyiapkan bajuku dan tasku.
Hatiku terenyuh. Apakah lebih baik aku memaafkannya saja?
Aku kembali menggeleng. Apa yang kau pikirkan Ryan! Dia wanita yang menyakitimu! Dia wanita rendah! Dia pasti ingin mengelabui mu dengan sikapnya!
Aku kembali mengekuhkan diri dan kemudian membereskan diri untuk berangkat ke kantor sentral gubernur jendral.
***
Aku duduk di meja makan sedangkan dia mengepel lantai. Aku melihat makanan udah tersimpan di tudung saji dan tercium sangat lezat.
Aku duduk dan menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutku.
Nasi goreng ini berbeda. Ada keju dan tercium aroma segar dari saledri yang di masak bersamaan dengan nasi goreng ini.
Enak sekali. Membuat aku tersenyum kecil. Kemudian aku berhenti tersenyum untuk kembali menetralkan emosional ku. Aku harus membencinya.
Aku kembali menguapkan nasi ini ke dalam mulutku lagi dan lagi. Sungguh nikmat.
"Apakah lezat tuan?" tanyanya membuat aku berhenti makan. "Tidak enak sama sekali." Ucapku ketus.
Dia melihat ke arah piringku yang ludes habis.
Dasar bodoh. Kenapa bisa habis secepat ini? Dasar rakus.
"Aku terpaksa menghabiskannya. Nanti siang ada rapat di kantor, pasti takkan sempat bagiku untuk makan siang. Jadi aku habiskan semua," alasanku.
Dia mengangguk dan dengan cepat masuk lagi ke dalam dapur dan memberikan aku sesuatu. "Ini bekal makan siang Tuan. Jika tak sempat makan di luar makan saja bekal ini."
Serius? Dia sudah menyiapkannya dari tadi?
Aku menepisnya sampai makanan itu jatuh ke lantai. "Cih. Kau pikir aku akan melembut setelah kepura pura baikan dirimu yang sekarang? Cih. Tidak akan pernah."
__ADS_1
Aku menunjuknya rendah, "Kau adalah babu. Manusia rendahan dan murahan. Cam kan itu." Aku pergi meninggalkannya.
Dasar sampah!