
...Author POV...
Dion menggendong anaknya yang memayunkan bibirnya saat tertidur, sangat menggemaskan Saman seperti ibunya saat tertidur.
Dion mencium pipi anaknya itu sembari menghirup aroma tubuh anak kecil ini. Baunya khas bayi membuat Dion semakin gemas.
Teng..
Seketika kepala Dion berdenyut. Rasanya sangat sakit sehingga membuat Dion terduduk dan perlahan memegang kepalanya dengan salah satu tangannya.
"Kau Vie?"
"Hm. Iya? Apakah kita pernah berjumpa?"
Apakah dia sungguh buyutku?
Seperti ada potongan ingatan suatu penglihatan. Itu Vie! Namun bukan Dion yang berada dalam tubuh orang yang berkomunikasi dengan Vie. Ini tubuh orang lain.
"Vie! Dia tak pantas untukmu! Jangan pernah dekati dia lagi!"
"Ck. Memang kau siapa sih?! Kenapa kau selalu mengatur kehidupanku?!"
"Baiklah! Karena kau sungguh ingin mengetahui siapa diriku aku akan memberikannya padamu. Aku Claire, keturunan dari Hassasco!"
"Heh? Kau semakin membuatku bingung."
"Arh. Sulit sekali memberitahumu. Kau tetap saja tak mengerti! ck! Sudahlah, yang penting kau adalah tanggung jawabku dan kau tak bisa mendekati siapapun tanpa izin dariku!"
"Huh?! Apa kau gila?! Gak! Urusin aja hidupmu, ngapain urusin hidupku!"
__ADS_1
Penglihatan itu terhenti dan pandangan Dion kembali ke keadaan semula.
Dion termenung sejenak memikirkan apa yang barusan terjadi pada pikiran nya itu.
Kemudian suatu kesilauan cahaya menghampirinya dengan angin yang kencang menerpa tubuh, membuat dia seakan akan tak memijak bumi dan melayang, namun Dion tak dapat membuka matanya karena teramat silau yang sangat menusuk.
Brukk
Dion terduduk di suatu tempat. Dan keadaan ini lumayan teduh membuat Dion dapat mencoba untuk membuka matanya perlahan. Di mana tujuan utamanya saat membuka mata adalah melihat kondisi anaknya. Kenapa anaknya sama sekali tak menangis?
Anak yang dalam gendongannya tadi menghilang. Membuat jantungnya berdebar kencang takut.
Dengan bangkit berdiri Dion mendongakkan kepalanya.
Deg!
Dia melihat seseorang yang tengah duduk melihatnya dengan tatapan datar. Remaja itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati Dion, dia melihat Dion dari bawah hingga atas, "Hm. Jadi kau yang bernama Dion? Atau... Hassasco?" tanya remaja itu kembali membuat Dion membolangkan matanya. Bagaimana lelaki ini sangat tidak sopan padanya?
Remaja itu menutup telinganya santai. "Tenanglah. Jangan berteriak."
Ucapnya datar.
Remaja itu menunjuk dirinya sendiri, "Aku Clein, keturunanmu. Dan kau berada di masa depan." Ucapnya santai.
Dion menyerngitkan dahinya bingung.
Claire melipat kedua tangannya di dada. "Dan anakmu. Alias buyutnya buyutku dari buyutku, pastilah berada di masa lalu. Kenapa dia tak ada di sini, karena aku hanya memanggilmu."
Dion terkesiap, apakah sungguh ini keturunannya? Bagaimana bisa sangat tak sopan seperti ini?
__ADS_1
"Aku. Tak sopan?" Tanyanya dengan nada terkekeh, "Santai aja kali. Ini bukan di zamanmu yang mengedepankan sopan santun, di sini hal sikapku yang seperti ini sudah biasa di kalangan remaja. Bahkan sebenarnya aku termaksud anak yang sopan." Ucapnya membanggakan dirinya.
Dion memperhatikan Claire dengan seksama, dia dapat membaca pikiran Dion. Apa mungkin kekuatannya mendapatkan penerus seperti Claire?
"Hm. Tak sepenuhnya Tuan Hassasco. Lebih tepatnya aku hanyalah indigo biasa. Ini terjadi karena suatu kecelakaan membuat aku di katakan mati suri, dan bangun bangun aku sudah dapat melihat sesuatu yang tak kasat mata dan bahkan dapat melihat isi pikiran seseorang."
Claire mendekati Dion, "Keturunan mu menikahi seorang janda yang mempunyai seorang anak. Namun kau tak perlu takut karena wanita yang di nikahi anakmu itu adalah wanita yang baik dan sangat mencintai anakmu dengan tulus."
Dion yang mengetahui itu terbungkam, bagaimana anak ini bisa membaca kejadian masa lalu itu cukup hebat menurutnya.
"Sudahlah. Tak perlu memujiku.
Dan kau tau kenapa aku memanggilmu?" Tanya Claire singkat.
"Kenapa?" Dion mulai penasaran.
"Itu karena aku ingin kau dapat melihat istrimu untuk terakhir kalinya sebelum ajal menjemputmu."
Deg!
Rasanya jantung Dion berpacu kencang, tubuhnya memanas karena tersulut kebahagiaan yang mengalir dari dalam dirinya. "Apa kau sungguh!"
Claire mengangguk, "Tentu."
Dion langsung memeluk keturunannya itu dengan sangat bangga. Tak dapat dia katakan lagi dengan kalimat apapun, dia sangat bahagia bisa mendapatkan keturunan seperti Claire.
Claire yang merasakan pelukan Dion pun merasakan bahagia. Dia tau betapa menderitanya sang Kakek tua ini dalam penantiannya terhadap Vie, seseorang yang paling di cintai sang Kakek. Namun karena kesalahan sang Kakek itu sendiri membuat sang Kakek pun terjebak dalam kutukan yang dia buat bersama Dewa Kebengisan.
Dengan mengandalkan kekuatan supranaturalnya dan dengan ilmu pengetahuan dari buku buku kuno peninggalan sang Kakek yang tersimpan tersembunyi dan tak sengaja di temukan Claire, Claire akhirnya dapat memanggil sang Kakek untuk pertama dan terakhir kalinya. Sekedar untuk membahagiakan sang Kakek agar dapat mati dengan tenang.
__ADS_1
Kemudian Dion memberi ruang antara dirinya dan Claire, "Oh ya. Mari kita segera melihatnya."
Claire mengangguk dan berjalan mendahului sang Kakek buyut jauhnya ini.