Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Dion Van Dijk


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Ryan, lelaki yang memiliki aura yang sangat memikat ini mampu membuat setiap orang menyorotnya dari bawah sampai atas terpana, terutama bagi kaum hawa.


Aku berjalan di belakang Ryan dengan melihat sekitar yang sama sekali tak memperdulikanku.


"Selamat pagi Tuan, ini laporan Minggu ini." Ucap seorang gadis yang menghampiri Ryan dengan sangat manja. Ryan menoleh ke arah ku, aku yang sudah sangat membenci Ryan hanya membuang wajahku acuh.


Ryan kembali menatap wanita itu, mengelus wajahnya perlahan dengan langsung merangkul pinggang ramping wanita itu. "Bisakah kau mengantarnya langsung ke kantor ku sayang..." Ryan mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu, "Aku ingin kau memuaskanku. Sudah cukup lama aku tak merasakan hal nikmat." Ryan melirikku di akhir kalimatnya, seakan menyindirku yang tak membuatnya puas.


Rasanya aku ingin membuang ludah di wajahnya. Dasar tak tau diri!


Bukankah dia yang memaksaku?! Dan sekarang malah seakan akan mencampakkan ku!


Dunia ini sangat tak adil!


Aku kembali memalingkan wajahku.


Sesaat kemudian aku melihat lelaki pribumi yang kemarin itu pernah aku berjumpa. Lelaki yang tak kuat mata yang pernah mengajakku berbincang.


****!!


Aku yang awalnya takut jadi kembali berfikir. Mungkin di jaman ini aku Indigo kali ya? Tapi ntahlah, aku juga membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Aku tak mempunyai siapapun bukan?


Aku pergi meninggalkan Ryan dan menghampiri lelaki itu.


Pakaiannya tampak berbeda. Dan bahkan sekarang terlihat sangat merakyat, berbeda dengan beberapa hari lalu saat pertama kali berjumpa dia tampak sangat classic dengan kemeja berbalut Jas formal dan celana panjang hitam.


"Hai." Kataku saat berada di hadapannya.

__ADS_1


Dia tersenyum, "Ternyata kau masih mengenaliku."


Aku mengangguk, "Tentu."


Dia menatapku serius, "Kau tak takut?"


Deg!


Dia tau kalau aku mengetahui identitas hantunya?


Aku mengusap tengkukku kaku, "Tentu aku takut. Walaupun begitu aku akan tetap ingin berteman denganmu. Sekalipun aku tau kau itu hantu."


Dia terdiam kemudian mengepalkan tangannya di mulutnya menahan tawa, "Pff.."


Aku mengerutkan keningku, "Memangnya kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"


Aku mengangguk, "I-iya. Tapi aku ngak takut lagi kok. Jadi santai aja."


Dia mencubit pipiku, dan kemudian mengangguk, "Yes, I am a ghost. And I want to be your friend."


Ada perasaan senang dan bahagia saat akhir aku punya teman. Tapi.. kenapa dia bukan manusia?


Aku memeluknya erat, well, dia bukan manusia kan, so ngak masalah dong. "Janji ya kita berteman. Jangan pernah ngilang kalau aku butuhin kamu." Dia diam dan kemudian membalas pelukanku.


"Jangan mentang mentang hantu kamu bisa ngilang dan ninggalin.


Awas aja kalau coba coba ninggalin.." ancamku.

__ADS_1


Dia terkekeh singkat dan mengacak rambutku, "Jadi aku harus ada sama sama kamu terus?"


Aku mengangguk pasti. "Iya! Harus!"


"Terus kita tidur bersama gitu?" Tanyanya.


Aku terdiam sejenak. Ntahlah, aku tak menyukai kalimat tidur bersama. Rasa trauma menjalari tubuhku.


Dia terkekeh, "Aku bercanda. Jangan terlalu serius Vie..."


Aku mendongak melihatnya dengan melebarkan bola mata, "Janji ya kamu jangan hilang hilang timbul."


Dia tersenyum, "Janji Vie.."


Aku menampilkan deretan gigiku. "Yes!!"


Sesaat kemudian aku mengingat sesuatu. Takutnya Ryan malah marahi aku kalau kelamaan ninggalin dia. Tapi aku juga lupa menanyakan namanya.


"Oh ya. Nama kamu siapa?" Tanyaku penasaran.


"Dion." Jawabnya.


"Oo.. oke Dion." Kataku.


"Oh ya Di, aku mau balik dulu. Nanti, aku kembali lagi." Aku melepaskan pelukanku, "Bye bye Dion." Aku melambaikan tangan dan pergi.


Dia tersenyum kecil dan juga jalan pergi meninggalkanku.

__ADS_1


__ADS_2