Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Kebahagiaan Dion


__ADS_3

...Author POV...


Dion menangis tak karuan di kamarnya. Membayangkan betapa kejamnya dunia padanya, bagaimana dunia ini memisahkan dirinya dari pada kekasihnya itu? Bukankah sudah cukup menderita baginya untuk merelakan Vie bersama Ryan? Kenapa dunia ini harus kembali memisahkan dirinya dengan Vie dengan kematian Vie yang tragis ini.


"APA KAU SUDAH PUAS?! PUASKAH KAU MENYIKSAKU HAI DUNIA?!"


Dada Dion serasa sangat sesak sekali. Sungguh dia tak mampu menghadapi ini... Sungguh!


Tok tok tok


Pintu kamar Dion terketuk. Dion menlap air matanya dan dengan suara berat mulai berbicara, "Masuk."


Kemudian masuklah Penasehat Tua Dion yang bernama Domblert masuk ke dalam kamar dengan menggendong sesuatu. "Tuan... Maafkan aku telah mengganggu waktu Tuan."

__ADS_1


Domblert tau betul apa yang di rasakan Dion sekarang. Dia tau Dion sekarang sangat tersiksa dengan keadaannya. Lelaki tua itu sudah kedua kalinya melihat Tuannya menangis karena suatu hal dan keduanya itu sama sama karena satu orang wanita, yaitu Vie.


Dion mengangguk dan menatap Domblert itu datar, "Ada apa kau datang ke sini? Dan apa yang kau bawa?"


Domblert tau seberapa baiknya Vie yang membuat sang Tuan jatuh cinta untuk pertama kalinya dan untuk terakhir kalinya bagi sang Tuan karena dia tau setelah seminggu ini sang Tuan akan menghilangkan dari bumi. Domblert memutuskan untuk berusaha mempertahankan janin Vie saat Vie keguguran tanpa di ketahui Dion, dengan kekuatan sihir yang luar biasa di kerahkan seluruhnya dan menghabiskan sangat banyak energi dari tubuh akhirnya saat ini janin itu nyata hidup.


Domblert datang menghadap Dion dengan menunjukkan sang bayi, "Tuan. Bayi ini adalah anakmu Tuan. Aku berusaha untuk mempertahankan kehidupan bayi ini yang merupakan saksi atas cinta kalian yang pernah hidup."


Dion yang mendengar itu terasa haru dan langsung mendekap tubuh bayinya itu. Aliran kebahagiaan muncul dalam darahnya membuat dia kembali menangis dan terisak. Dion mengelus wajah anaknya itu, "Kau harus tetap hidup anakku. Pimpinan kerajaan ini dengan kekuasaan dan kebesaranmu anakku. Jiwa ibumu dan aku akan selalu berada dalam dirimu. Kami akan selalu bersamamu... Selalu..."


Mendengar kalimat tulus sang Tuan, membuat Domblert menangis. Namun segera dia menlap air matanya takut takut dia malah di ledek Tuannya.


Dion yang mengetahui itu malah terkekeh, "Keluarkan saja. Aku sudah melihatnya juga."

__ADS_1


Domblert pun menangis, "Ya Tuan dan Rajaku... Aku tak dapat tahan jika kau juga tiada. Anak ini akan menjadi yatim piatu Tuan... Aku tak sanggup jika akan melihat dia terus menangis karena menggarapkan pelukan orang tuanya..."


Dion merangkul Domblert, "Domblert, ku serahkan kekuasaan mengasuh dirinya padamu. Pimpinlah dia menjadi seorang raja yang besar dan arahkan dia menjadi pribadi yang tangguh."


Domblert mengangguk mengerti.


Dion menarik nafas dalam dan tersenyum kecil, "Kehidupanku terasa menjadi lebih baik karena kehadiran anak ini."


Dion menatap sang anak dengan tatapan sungguh, "Kau... Anak lelakiku yang paling ku banggakan. Seluruh kerajaan ini ku serahkan pada mu! Hiduplah bahagia dan jadilah tangguh! Itu harapanku padamu!"


Walaupun bayi kecil ini tak mengerti apa maksud sang ayah, namun matanya berbinar melihat ayahnya itu dengan senyuman merekah terbit di wajah mungilnya. Bayi itu tertawa bahagia dan melonjak kegirangan.


Dion tersenyum puas melihat anaknya ini dan kembali memeluk anaknya dan beberapa kali mencium pipi dan kepala botak anaknya itu. Dia sungguh bahagia!

__ADS_1


__ADS_2