
...Author POV...
Claire menarik tangan Ana yang baru saja akan masuk kost kosan, "Kau jangan membuat kesabaranku memuncak! Kau pikir dengan perbuatan baikmu aku yang menolongku dari api membuatku lebih empati padamu huh?"
Ana melepaskan tangannya, "Lepasin!
Apa masalahmu?!"
Claire kembali menahan tangannya, "Kesabaran ku telah habis nona. Kau akan tau akibatnya."
Claire menarik Ana kedalam kost-kostan Ana dan mengunci pintu sambil menahan tubuh Ana.
Claire mencetek saklar yang berada di sebelahnya. Membuat lampu ruangan ini hidup remang remang.
Ana yang di bekap mulutnya terus meronta.
"Aku akan membunuhmu untuk memuaskan rasa benciku padamu." Claire tersenyum miring licik.
Dia sudah sangat muak dan membenci wanita sialan ini. Wanita ini selalu saja merusak segalanya! Dan mulai dari hari ini tak akan ada lagi yang merusaknya. Karena dia akan melenyapkan Ana sekarang juga.
Tanpa di sadari, lampu ruangan ini sudah sangat buruk keadaannya, banyak kabel lampu yang sudah bercopotan karena belum pernah di perbaiki. Maklum Ana hanya mampu membeli kost kosan yang murah.
Kabel yang melewati lemari Ana sudah korsel dan kini lebih buruk lagi keadaannya, api dengan mudah melahap habis kayu dan kain baju.
"Api!!!" Batin Ana menjerit karena bibirnya terkatup oleh tangan Claire.
Claire yang membaca pikiran Ana segera menoleh ke belakang. Dia melihat api yang sudah menyambar pula.
Pikiran gila Claire muncul, "Jika aku pergi meninggalkanmu aku takkan bisa melihat wajahmu yang tersiksa. Jadi..."
Claire tersenyum miring seperti orang gila, "Alangkah baiknya kita sama sama terbakar. Aku ingin lihat betapa tersiksanya kau dengan api yang membakarmu. Jiwaku akan mati dengan tentram."
Lagipun dia sudah prustasi dengan keadaannya, dia tak dapat merebut Vie sekeras apapun dia mencoba.
Deg!
Lelaki ini sungguh gila.
Dengan sekuat tenaga Ana menampar pipi Claire, "Apa kau bodoh?! Sadarlah Vie bukan milikmu! Jika kau mau mati ya mati aja sendiri! Jangan ngajak ngajak!
Dengar! Jika kau memaksakan suatu cinta, cinta itu akan membencimu! Dan kau takkan pernah bahagia! Camkan itu!"
Ana mendorong Claire dan keluar dari kost kosannya yang mulai terbakar. Dia meninggal Claire.
Kumpulan asap menaungi Claire, dia masih diam di dalam.
Mendengarkan kalimat Ana seketika menyadarkannya. Wanita bodoh itu benar. Yang dia lakukan itu sia sia.
Claire tersenyum miring, miris sekali dirinya. Dia sungguh tampak seperti lelaki murahan yang mengemis cinta pada wanita.
Ana yang ada di luar segera mencari bantuan. Warga sekitar segera membantu meredakan api.
Namun Ana kembali berfikir, 'Tu orang kok ngak keluar keluar. Beneran mau bunuh diri dia?'
Api semakin membesar dan Ana mulai panik.
Batin iblis Ana, 'Biarin aja anjir dia mati di situ. Nyusahin juga kalau hidup.'
__ADS_1
Batin kebaikan Ana, 'Tolongin tuh! Kalau mati malah jadi hantu yang nempel samamu baru tau!'
Ana bergedik ngeri. "Serem juga kalau malah didatengin sama setan kaya dia. Iih.."
Ana segera mencari keberadaan Claire namun hanya mengintip sedikit dari kejauhan kost kosannya. Dan benar saja Claire sudah tak ada di dalam.
"Apa dia udah gosong dia. Aduh... Gimana tuh?!"
Ana segera ingin lebih dekat ke tempat berapi itu dan hendak masuk.
Set..
Seketika suatu tangan menariknya menjauh dari tempat itu.
Dan Ana mendongak ke atas, 'Masih hidup! Wah.. syukurlah ngak jadi hantu gentayangan.' syukur Ana dalan hati.
Ana segera melepaskan tangannya dari Claire. "Lepas.."
"Kau benar. Tak seharusnya aku melakukan hal bodoh seperti ini." Kata Claire.
Ana terdiam. Benarkah?
"Iya. Aku udah sadar sekarang. Makasih untuk mengingatkan." Ucap Claire padanya.
Ana mengaruk tengkuknya yang tak gatal. "Terserah, syukurlah kau dah sadar."
Claire mengangguk.
Ana kemudian kembali tersadar, "Heh! Tapi kost kosan aku gimana?! Astaga..." Ana ingin menangis rasanya. Apa lagi dia lagi tugas makalahnya hampir selesai dan kini malah hangus terbakar.
Ana masih tak percaya, "Serius?"
"Hm."
"Ini gak nipu kan?"
"Gak."
Ana berfikir sesaat, 'Gak Ana. Pasti lelaki ini punya otak jahat padamu. Ingat Ana! Jangan pernah percaya padanya pada orang lain!' batin Ana.
Claire menatap datar Ana, "Kau ini keras kepala ya."
Ana kaget, "Lah napa tiba tiba bilang gitu?!"
"Kenapa mikir aku yang aneh aneh hm?"
Ana membelalakkan matanya, "Lah kok tau?"
Claire menggeleng malas, "Susah memang ngomong sama orang susah."
"Is... Sok oke kau. Dasar jele.. aw.." ringis Ana saat mengangkat tangannya hendak memukul Claire.
Ana ingat tadi dia saat keluar lengannya sedikit menabrak tembok karena tak lumayan panik dengan api.
Claire menarik tangan Ana yang satunya dan kemudian membawa Ana ke arah mobilnya.
"Mana yang sakit?" Tanya Claire saat melihat Ana meringis tadi.
__ADS_1
"Gak ada." Bohong Ana. Dia tak mau berutang budi terlalu banyak pada Claire.
Claire sedikit menarik tangan Ana yang sakit, "AW AW. Sakit sakit..."
"Tadi katanya ngak ada." Ledek Claire.
Claire segera membalut luka Ana, Lain kali kalau jalan pake mata."
"Jalan pake kaki."
Hening terjadi beberapa saat, "baru tau rasanya kalau bertepuk sebelah tangan itu sakit yang kita cintai itu sakit." Ucap Claire singkat.
Ana terkekeh, "Ya emang. Makanya jangan pernah terlalu cinta. Nanti kalau lari jalur jadi obsesi kaya kau."
Claire menjitak kepala Ana, "Diem."
Ana meringis sambil sedikit terkekeh. Kemudian dia menghentikan tawanya perlahan, keheningan kembali terjadi.
"Kau pernah kaya aku?" Tanya Claire kemudian.
Ana kembali menelisik kehidupannya, "Hampir. Tapi ngak pernah segila kau."
Claire tersenyum miring, "Sama si dokter itu hm?"
"Eh ngak lah! Dia itu teman masa kecil doang." Bantah Ana.
"Bukannya dia menembakmu waktu di rumah sakit?" Claire terkekeh kecil saat membaca pikiran Ana.
Ana kaget, "K-kok tau?"
"Gak sengaja lihat kemarin. Tapi aku gak bilang." Alasan Claire.
"Dasar tukang ngintip!"
"Biarin."
Ana berdecak kesal, "Aku ngak terima. Gak suka juga sama dia. Kalau yang aku suka itu teman kampus ku, bukan dia."
Claire hanya berdehem.
"Trus, apa yang kau lakukan setelah kau tersakiti?" Tanya Claire.
"Kalau aku sih meluk temanku yang ku ajak curhat kemarin itu. Sampe nangis nangis malahan aku kemarin." Kata Ana, "Eh. Ngapain juga sih kita. Kenapa aku jadi curhat gini."
Claire terkekeh, kemudian
Dreb
Claire memeluk Ana. "Maafin aku kalau pernah jahat. Dan ku harap kita bisa menjadi teman." Kata Claire tulus.
Ana mengusap bahu Claire, "Hm. Udah ku maafin."
Claire tersenyum kecil, tak menyangka dia bisa berteman dengan orang yang super duper menyebalkan ini. Aneh memang.
"Makasih."
"Sama-sama."
__ADS_1