Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Dunia Nyata?


__ADS_3

Aku menarik nafas panjang setelah terbatuk batuk karena air memenuhi tenggorokanku, "Ohok ohok.."


Mataku mulai menangkap siluet seorang yang basah kuyup yang tengah mengusap usap wajahnya yang basah.


Dengan sekuat tenaga aku bangkit dari posisi tidurku dan melihat sekelilingku, "I-ini di mana?"


Yang dapat ku tangkap adalah sebuah hutan dengan sungai yang membentang di sebelah kiriku.


Lelaki itu menatapku tajam dengan mata melotot, "Are you stupid?!" Katanya kesal sambil menggeleng menatapku marah. Kemudian dia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. "Ck. For what that I speak with you. Human in this region are so stupid and idiot." Katanya datar dan menghina.


"Eh bule! Songong amat kau!" Aku menunjuk wajahnya dengan tatapan api, "Kalau kau tak terima tinggal di Indonesia, ya balik aja sana ke ke negaramu! Tolol!" Tegasku pada lelaki turunan barat dengan mata biru yang kini menatapku terkejut.


Telunjuk ku turun ke bawah ke arah bajunya, "Dan apa apaan yang kau pake huh?!... Pake baju ala kolonial Belanda pula... Ey! Alay!.. Kau pikir ini zaman penjajahan apa?! Bodoh!"


Aku bangkit berdiri walaupun agak linglung karena baru bangun dari tidur.


Wait... Tidur?


Aku baru saja akan satu hal lagi... Ngapain aku di hutan sama ni cowo?!...


J-jangan jangan...


Aku berbalik cepat dan melihat ke arah nya yang sekarang telah berdiri.


Aku melihatnya dengan sedikit mendongak karena dia tinggi, "Woy aneh! Kau ngapain aku huh?!... BRENGSEK KAU YA!!!..."


Lelaki itu manatap ku bingung sambil tersenyum miring, "Hei... You know what I said?"


"Ya tau lah sat!... Kau pikir aku bodoh!.." Aku berkacak pinggang, "Yang bodoh itu kau. Bukan aku. Dasar tolol!" Hinaku balik.


Rasain. Siapa suruh menghina ku tadi.


Dia tersenyum kecil misterius, "Kau penduduk kampung mana?"


Memangnya aku terlihat seperti orang kampung apa?!


Aku melihat bajuku.


HUH??!!...


Mataku terbelalak saat melihat bajuku yang terlihat seperti baju yang terlihat seperti seutas kain yang di lilit lilitkan membentuk baju terusan yang menutupi tubuhku dari atas dada sampai atas mata kaki.


"EH!!... APA APAAN NIH?!... NGAPA AKU JADI PAKE BAJU BEGINIAN?!" Jerit ku.


Aku melihat lelaki yang di hadapanku tadi menatapku aneh, "Semua wanita pribumi rendah seperti mu memang akan menggunakan pakaian itu. Bodoh."


Pikiranku traveling sekarang... Ini kenapa coba?!...


"M-maksudnya apa aku ngak ngerti?! Astaga... Ini apa?!" Kepalaku terasa sangat pusing memikirkan hal yang terjadi.


A-apa aku pindah dimensi ya?!...


Ah enggak enggak. Ini pasti cuma mimpi.


Aku menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya, "Yup. Ini mimpi. Ya... Mimpi..." Kataku menenangkan diri.


Aku melihat ke arah lelaki itu, "Hus hus.. pulang sana.. aku udah tau ini mimpi.."


Aku membalikkan badan dan berjalan santai meninggalkan lelaki itu.


Duk


"Aduh.. sakit!" Pekikku saat kakiku menghantam batu yang keras. "Anjaii..."

__ADS_1


Mataku terbelalak. "Lah... Kok terasa sakit?!"


Aku kembali berbalik badan dan melihat ke arah lelaki itu lagi, "That's real." Dia mengedikkan bahunya.


DAMN!!!....


Loh kok... Huh?... M-maksudnya?


Aku kembali menguji kesadaran ku dengan menampar pipi dan mencubit tanganku, "Bangsat!!... Sakit...."


Sial... Ini ngak mimpi...


Huh?...


G-gimana mungkin?


Kepalaku semakin pusing memikirkan ini dan rasanya pandangan ku menjadi gelap.


***


Aku terbangun tersentak dengan nafas memburu, "Gak. Tadi cuma mimpi... Mimpi..." Aku mencoba semakin tenang saat berkata mimpi. "Ya... Mimpi..."


"Sudah bangun?" Kata seseorang dari arah sebelahku yang fokus pada tumpukan kertas sambil terus menulis nulis.


Deg!


Dia lelaki tadi?!


Dan aku...


Aku melihat diriku telah di atas ranjang dengan pakaian dress putih ala Noni Belanda.


Wait... Siapa yang gantiin bajuku?!


"Pelayan wanitaku yang menggantinya," Katanya datar.


Kemudian dia berhenti menulis dan berjalan ke arah ku, menatapku dengan tatapan aneh penuh selidik.


"Kenapa matamu huh?! Heh dengar ya, jangan coba macam macam padaku! Kalau tidak...." Aku bangkit berdiri dan memasang kuda kuda ala karate di atas ranjangnya. "Aku akan membunuhmu!"


Dia terdiam kemudian tersenyum kecil.


Ntah apa yang di pikirkan lelaki ini terhadapnya. Sungguh aneh...


Tunggu... Aku ingat sesuatu... Aku di zaman ini masih suci bukan?...


Haaa!!! Itu pasti!!!


Nah!!!... Aku harus lebih garang dan galak sekarang agar aku tetap hidup!!!...


Dia menaiki ranjang saat aku masih berdiri. Aku langsung melompat dari ranjang dan berdiri sempurna di atas lantai.


Yosh...


Aku berbalik dan menatapnya, "Awas!... Jangan macam macam!" Dengan jari telunjuk aku mengancamnya.


Dia mengepalkan tangan di mulutnya menahan tawa.


Lah? Apa yang lucu?!


Bodo amat! Aku tak perduli dan mencari jalan keluar... Setidaknya aku   kalau aku tidak bisa menjalani hidup tenteram di dunia ku sebelumnya, sekarang aku harus bisa hidup tentram di sini!...


Aku berjalan menuju pintunya.

__ADS_1


Memegang ganggang pintu dan mencoba membukanya.


Crek crek crek...


Pintu terkunci.


SIAL!!!


Aku langsung mencari sesuatu benda tumpul keras yang bisa di gunakan sebagai bahan perlawanan...


Arh... Ngak ada!


Mataku tertuju pada lampu tidur yang ada di meja di dekat ranjang. Aku berlari ke arah lampu itu dan secepat mungkin menarik dengan cepat menarik lampu dan berlari kembali menuju pintu.


Aku menyodorkan tanganku dengan lampu tidur sebagai alat ancaman, "Buka pintunya! Cepat!"


Dia tersenyum miring dan melipat kedua tangannya di dada, "Kau mengancam ku dengan lampu hm?"


"Aku lempar lampu ini, bocor juga kepalamu!" Aku semakin galak.


Dia tak menjawab dan malah duduk dengan menyilang kakinya di atas ranjang dengan tangan bertumpu pada satu tangannya melihatku masih tetap tersenyum misterius.


Ck! Kenapa sih?!


Aku tak memperdulikannya dan mencari cari di mana kunci di simpannya.


Aku mengecek mejanya. Setiap laci di sana. Ck, ngak ada!


"Cari ini?" Katanya tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya, dia menunjukkan suatu kunci yang tergantung di pita yang di pegangnya sekarang.


"Dasar Gila!... Berikan itu padaku! Sekarang!"


Dia menaikkan salah satu alisnya, "Kalau mau ya ambil." Katanya santai.


Hah! Aku tau maksudnya!


Dia akan membodohiku. Setelah aku ke sana dia malah akan melakukan hal tak senonoh bukan?!


"Lempar aja kuncinya!" Kataku.


Dia berdiri dan berjalan ke arahku. Aku kembali mengacungkan lampu tidurnya.


Dia menarik lampu itu dengan cepat dan kemudian meletakkan lampu itu ke sembarang arah dan merangkul pinggangku, menatapku lekat lekat dan tersenyum miring.


Dia membuat ku tersudut dengan terus mendekatkan wajahnya ke padaku.


"Awas aja macam macam! Aku akan mengigit mu!" Ancamku.


Matanya yang tadinya melihat ke arah bibirku beralih menatap mataku. Dia tersenyum miring, "really?" katanya dengan senyuman miring.


Aku sebenarnya terkagum melihat wajahnya sungguh. Dia tampan sekali!


Aku menggeleng menyadarkan diri kemudian menatapnya tajam. "Dengar. Aku bukan sembarang orang! Aku... Aku..."


Anjir... Aku mau jawab apa lagi coba?!


"Aku?" Ulangnya lagi menuntut penjelasan dengan matanya yang seperti mengetahui sebenarnya aku hanya mencari alasan.


"Dukun! Ya... Aku dukun!" Kataku mantap setelah mendapat ide aneh di pikiran ku.


Dia terkekeh singkat, "Kalau begitu panggil setan yang paling ganas di wilayah ini. Aku tak takut." Hinanya.


Aku meneguk salivaku berat.

__ADS_1


Dia menaikkan salah satu alisnya dan kembali tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku, "Kalau belum mahir berbohong, jangan coba coba. Apa lagi sama aku," bisiknya dengan suara beratnya.


__ADS_2