Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Andra Dalton


__ADS_3

Catatan penulis:


Yuhu... I am come back...


Jangan lupa di like komen vote dan beri hadiah juga ya.


Oh ya... Seriusan guys. Paling ngak kalian like dong guys cerita aku nya, jangan hanya di read doang tanpa ada dukungan. Please dong... Jangan jadi silent reader pleaseeee....


Aku lihat banyak yang baca tapi kenapa yang like ngak sebanyak yang baca guyss🥺...


Please dong di dukung akunya... Semakin banyak dukungan aku akan semakin semangat update cerita loh guyss...


Oke deh. Cuma mau bilang itu doang. Jangan lupa di hayati dan di lakuin ya guyss...


Oke deh... happy reading all 🤩👍


-----------------------------------------------------------


Tok tok tok


Pintu kamar terketuk saat aku tengah memasang dasi Ryan.


Pintu terbuka tanpa izin dan membuat kami melihat ke arah sana.


Tampak seorang wanita yang lebih tua dari padaku 5 tahunan sepertinya. Dia menatapku tajam. Dia berjalan manja ke arah Ryan dan bergelayut manja.


Mataku terbelalak saat melihat dia mencium pipi Ryan mesra dan Ryan tak menolaknya malahan tersenyum.


Ryan beralih ke wanita itu. "How are you?" Tanya Ryan.


Wanita itu tersenyum kecil. "I am fine Ryan. And who is she?"


"Nyai."


Wanita itu mengangguk dan menatapku remeh. Dia kembali bergelayut manja dan mendorong aku menjauh dari sisi depan Ryan untuk memberi dia ruang memeluk Ryan. "Aku kangen..." Ucapnya manja.


Ryan tersenyum miring sambil sedikit terkekeh, "Really?"


Aku sangat kesal dengan pemandangan ini. Bagaimana bisa Ryan semanja ini dengan wanita lain di hadapanku? Aku kan pasangannya!

__ADS_1


Wait. Ngak. Aku gak cemburu. Hanya saja.. Ryan harus bertanggung jawab atasku bukan?! Dia sudah meniduri ku!


Cih! Dia memang lelaki berengsek!


Ryan mengusap kepala wanita itu, "Nanti saja kangen kangennya. Aku masih mau kerja."


Pikiranku sudah di ambang batas. Emosiku memuncak dan sangat kesal.


Aku hendak pergi tapi tanganku di tarik Ryan. "Mau kemana?" Tanyanya tanpa dosa.


Udah ngak jelasin ini cewe siapa, romantis romantis di depan mataku, dan sakarang malah nanya aku mau ke mana?!... Apa ngak punya otak kali ya?!


"Pergi." Jawabku singkat.


"Iya tau. Tapi ke mana?"


"Bukan urusanmu." Aku menatapnya tajam.


Ryan kembali menarik tanganku dan tersenyum kecil, "Cemburu?"


Aku menepis tangannya, "Gak. Gak penting juga. Udahlah aku mau pergi."


"Kalau aku mau tetap pergi kau mau apa?" Ancamku lagi.


Dia menatapku tajam, "Jangan membantah. Dan tetap di sini."


Aku membalas tatapannya, "Heh. Kau urus saja wanitamu ini. Aku mau ke luar cari udara segar."


Dia tersenyum miring, "Benarkan kau cemburu."


Aku memutar bola mataku malas dan berjalan menjauh dari mereka. Kemudian seperti ada yang menahanku, aku menoleh. "Hai. Aku Andra. Teman Ryan," sapa wanita itu sambil tersenyum.


Aku menatapnya datar.


Dia terkekeh, "Jangan marah begitulah. Oh ya, dari pada kamu jalan jalannya sendiri mendingan jalan bareng aku." Ucap Andra ramah.


Hm. Kayanya wanita ini baik deh. Aku aja yang negatif thinking dengannya.


Jadi merasa bersalah aku. Mungkin memang cara pertemanan di luar negeri memang bebas cium ciuman kali ya?

__ADS_1


Aku mengusap tengkukku, "Aku Vie. Senang berkenalan denganmu."


Dia menggandeng tanganku, "Ya udah kalau gitu. Kita langsung jalan jalan ke luar aja. Boleh kan Ryan?" Izin Andra di akhir kalimatnya pada Ryan.


Ryan mengangguk, "Baiklah."


Andra dengan antusias langsung menggandengku ke luar kamar dan mengajakku berjalan jalan ke kota.


Kami berjalan berdampingan. Aku melihat wajah Andra, dia sangat ceria.


Jadi sedikit iri deh. Hehe. Tapi memang dia adalah wanita yang cantik.


Ku kembangkan senyuman kecil.


"Kamu suka apa? Mau beli apa?" tanyanya.


Eh. Kan aku ngak ada uang.


Aku menggeleng tersenyum kaku, "Eh. Ngak usah. Aku ngak mau beli apa apa."


Lebih baik di tolak ya kan.


Dia tersenyum ramah, "Ah.. gak usah malu."


Aku kembali menggeleng, "Eh. Beneran gak usah Dra, aku lagi ngak ingin apa apa. Hehe."


Dia cemberut yang membuat dia terlihat imut, "Hm.. kalau gitu aku mau beli martabak manis 2 porsi. Satu untuk aku satunya untuk kamu."


"Eh. Ngak us.." kalimatku terpotong saat telunjuknya menutup mulutku.


"Stt.. gak boleh nolak. Aku mau beli pokoknya. Aku akan traktir semua makanan dan apapun nanti." Katanya sambil tersenyum.


Dia menarik tanganku dan sedikit berlari riang menuju tukang jualan martabak.


Aku tersenyum.


Ternyata ada juga orang bule yang baik seperti Andra. Tak sangka aku...


...Andra POV...

__ADS_1


"Sialan wanita ini. Dia pikir bisa merebut Ryan dari aku. Cih. Takkan ku biarkan kalian hidup tenang. Ryan milikku dan selamanya akan begitu."


__ADS_2