Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Love You Too


__ADS_3

...Author POV...


Hari ke hari kondisi Fian semakin memburuk. Fian berjalan menuju lift kantornya dan menekan tombol 1. Dia hendak pulang dari kantornya malam ini.


Fian mengemudikan mobilnya setelah mengeluarkan mobilnya dari parkir dan mengemudikannya ke arah parkiran mobil Club malam.


Saat berjalan memasuki Club, kepala Fian terasa pusing. Fian tak dapat melihat dengan benar dan suara desing terdengar di telinganya.


Pandangannya gelap dan kini dia tak dapat merasakan apa apa lagi.


***


Vie menghidupkan televisi sedangkan dia sendiri tengah mengerjakan tugas pekerjaannya di ruangan itu. Vie sengaja menghidupkan TV agar suasana tidak terlalu sepi.


Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar, Vie mengangkat ponselnya.


Nomor yang tidak dia kenali.


"Ini siapa?"


"Selamat siang Bu. Saya yang yang menolong suami ibu di club tadi. Bapak itu tiba tiba pingsan. Ibu bisa datang ke rumah sakit murni."


Vie mengerutkan keningnya, "Istri siapa? Saya tidak punya suami."


"Lah. Tapi di hp bapak ini tertulis istriku pakai tanda love Bu. Nama bapak ini Fian." Kata lelaki ini sast melihat tanda pengenal Fian.


Deg!


"Fian pingsan?!"


"Iya Bu. Pucet banget mukanya waktu saya gotong ke rumah sakit. Mending ibu langsung ke sini aja Bu!" Ucap lelaki itu panik.


Vie segera mematikan ponselnya dan bergegas ke rumah sakit itu.


Vie segera ke ruangan Fian yang tengah berbaring lemas di ruangan inap.


Vie duduk di sebelahnya, rasa kasian meliputi Vie.

__ADS_1


Fian membuka matanya perlahan dan melihat Vie di sebelahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Fian memelas dan ingin menangis rasanya, Vie begitu baik padanya hingga masih memperhatikannya.


"Kenapa malam malam malah di club? Cari penyakit aja." Cerewet Vie.


Fian mengusap wajahnya, "Aku tak tau harus kemana. Pelabuhan ku hilang. Aku terdampar." Ucap Fian.


Fian menatap Vie sungguh dan air matanya mengalir.


Biasanya Fian tak pernah cengeng begini, tapi ntah kenapa saat bersama Vie dia tak dapat menutupi itu semua.


Fian bangkit untuk duduk dan menlap air matanya namun air matanya terus mengalir.


Vie bangkit berdiri menghadap Fian, dia menyingkirkan tangan Fian dan mengambil alih menlap air matanya. "Kenapa nangis?"


Fian tak perduli dan langsung memeluk Vie, "Kangen... Hu hu hu..."


"Vie aku kangen kamu tau. Kangen banget. Mau mati rasanya tanpa kamu. Apa aku mati aja ya?" Tangis Fian putus asa.


Fian menatap Vie lekat. "Vie... Aku kangen..."


Vie juga merindukannya. Namun Vie belum yakin akan perasaannya sekarang.


Memang Vie dulu sangat mencintai Fian, namun kini Vie bingung apakah ini di sebut cinta karena merindukannya juga atau hanya sekedar rasa rindu sementara saja?


"Ku mohon padamu Vie... Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku hanya ingin kamu. Cuma kamu... Aku sayang kamu. Gak ada yang lain byyy..." Rengek Fian tulus.


Persetan dengan perawat yang kini telah memasuki ruangan yang tengah membawa cairan infus baru untuk di gantikan dengan infus Fian yang sudah mau habis.


Vie tersenyum kaku ke arah perawat sambil sedikit mendorong Fian menjauh. Namun bukannya menjauh Fian malah semakin memeluk Vie.


Perawat itu hanya membalas senyuman Vie dengan tersenyum kecil dan bergerak gerogi karena bingung dalam keadaan romantis yang ada di hadapannya. Harap maklum soalnya dia jomblo.


Setelah mengganti infus sang perawat segera meminta Izin, "Izin ya Bu." Kemudian di balas Vie dengan anggukan. "I-iya sus."


Segera sang perawat pergi dengan kaku dan kemudian kembali menutup pintu.

__ADS_1


Sedangkan Fian masih setia dengan memeluk Vie.


"Vie..."


Fian kembali menangis dan mengeratkan pelukannya, "Vie. Beri aku satu kesempatan lagi... Ku mohon..."


Vie yang luluh bercampur sedih juga pun membuat Vie mengangguk, "Iya ya udah."


Mata Fian terbelalak senang bukan main. "Sungguh?!"


"Oh, jadi kamu mau aku bilang ngak?" Kata Vie dengan menekan kata Ngak.


Fian segera menggeleng dan kemudian bangkit berdiri dan memeluk Vie. "Enggak sayang. Aku malah senang banget kamu bilang iya."


"I Love You Vie..." Kata Fian mendekap erat tubuh Vie. Kemudian menatap wajah Vie lekat dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.


Cup


Vie kaget. Sedangkan Fian malah tersenyum lebar tanpa dosa.


Vie memukul dada Fian, "Apaan sih. Buat malu aja." Vie menutup wajahnya yang kini merasa sangat panas karena malu.


Fian terkekeh dan membuka tangan Vie.


Fian mencium pipi kanan, kiri, dahi, hidung, dagu dan berakhir di bibir dam mendalam ciumannya, "Yang... Besok nikah ya?... Udah ngak tahan."


Blush


Semburan merah pun menjalar di pipi Vie, Fian sungguh membuatnya malu sekali. Kenapa makin lama mantan suaminya ini semakin blak blakan ngomongnya sih?


Fian yang melihat kikuk Vie dan kemudian mendorongnya. Membuat dia semakin mendekat dan menatap wanitanya itu. "Gak sayang. Aku bercanda."


"Kamu sih aneh aneh aja!" Vie mengembangkan pipinya kesal.


Fian tersenyum dan menangkup pipi Vie. "Sayang kamu banget..."


Fian terkekeh dan kembali memeluk Vie.

__ADS_1


Vie membalas pelukan Fian dan tersenyum. Ingin sekali Vie menjawab I Love You Too... Tapi, di mana harga dirinya? Gak. Dia harus tetap jaim.


__ADS_2