Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Membayar Kegadisan Vie


__ADS_3

Vie sangat terkejut saat lelaki itu merangkul pingangnya dan tangannya. Dia mendekatkan wajahnya dengan cepat ke arah telinga Vie dengan berbisik, "Masih perawan kah?"


Bulu kuduk Vie kembali merinding mendengar suara Brandon. Suaranya yang terdengar berat dan mendesah membuat Vie takut setengah mati.


Vie hendak memberontak namun di tahan oleh Brandon yang pandangannya telah tertutup oleh n*fsu terutama saat menghirup aroma tubuh wanita yang baru di jumpainya ini.


Terasa sangat membangkitkan gairah nya...


"Lepaskan aku!" Pekik Vie ketakutan.


Seperti tuli Brandon malah menyudutkan Vie ke sudut ruangan ini dengan cepat, karena sebelumnya juga Brandon duduk di bangku yang di sudut Bar.


Wajah Brandon telah terbenam sepenuhnya dalam ceruk leher Vie yang terlihat mulus


Karena pengalaman meniduri wanita, Brandon sangat paham mana wanita yang pernah bercinta mana yang awam dan mana yang tak pernah sama sekali  jika di lihat dari mulusnya leher wanita itu... Dan ini masih suci.


Hm... Let's make a love baby...


Vie terkejut bukan main saat bibir Brandon menyentuh lehernya. Mata Vie bergerak liar mencari pertolongan.


Yang benar saja, mata Vie malah menangkap sosok lelaki seumuran dengannya yang sering menghinanya j*l*ng. Lelaki itu tengah memangku wanita berbaju ketat dan minim yang sangat agresif mencium lelaki itu walaupun lelaki itu tampak tak perduli dan menatap Vie tajam.


Deg!


Sial!


Vie menolak keras tubuh lelaki yang membuat dirinya merasa rendahan ini dan membuat lelaki itu sedikit mundur karena tolakan tangan Vie.


"DASAR BIADAB!" Vie menjerit dengan suara melengking dan meninju sel*ngk*ng*n lelaki itu yang membuat lelaki itu memekik kesakitan.


"MAMPUS!" Emosi Vie.


Vie segera berlari keluar dari bar mewah itu dengan secepat kilat dan berhenti saat telah cukup jauh dari tempat itu dengan nafas tersengal senggal karena ngos-ngosan capek berlari.


'Unting masih bisa kabur,' Pikir Vie.


"Dasar bejat tu orang! Ish!... Belum lagi tadi mataku ternodai melihat si cowo brengsek ciuman panas sama pelacur! Arrhhh... Sialan!" Kata Vie prustasi.


Begitu sialnya dia malam ini.


Belum lagi siap Vie mengumpat dan memaki hal yang terjadi barusan, ada tangan yang menariknya memaksa dan membuat badan Vie berbalik.


Lelaki itu langsung memeluk Vie dan menunduk mencium leher Vie dengan ganas. Bahkan terasa sekali lidah lelaki itu menggeliat saat bibirnya bertautan dengan leher Vie.


Vie mendorong keras lelaki itu dan membuat lelaki itu terpaksa menghentikan aktivitasnya dengan menatap Vie datar.


Fian?!

__ADS_1


Yup. Fian adalah lelaki keturunan konglomerat songong yang ada di bar tadi.


"Kalau kau mau bayaran, aku bisa bayarin kau seberapa kau minta!" Tegasnya.


Vie menyerngitkan dahinya bingung dan emosi. "Kau gila ya?! Kau pikir aku jualan!... Dan dan... Kenapa kau sembarang c-cium... Arhh!!! Kau gila sumpah!!!"


Fian kembali memeluk Vie dan kembali menciumi lehernya agresif.


Vie mendorongnya dan menendangnya. Tapi sangat sulit karena posisi tubuhnya yang mengunci badan Vie.


"FIAN STOP!" Vie terus berontak dan memukulnya. Apa saja asal dia bisa lepas dari lelaki gila ini.


"Aku menghapus jejak bibirnya dengan bibirku. Dan kau harus mengingat bibirku saja!" Tekannnya dengan nada kesal sambil menciumi leher Vie.


Tanpa berfikir panjang, Vie mendapatkan satu cara untuk melepaskan diri dari Fian.


"ARGHH.." Jerit Fian kesakitan saat Vie menggigit leher Fian. Membuat leher lelaki itu sedikit tergores dengan gigitan Vie tadi.


Fian memegangi lehernya dan menatap Vie dengan tatapan sulit di artikan.


Bodo amat bagi Vie! Dia tak perduli dan langsung cabut dengan secepat mungkin.


AKU HARUS PULANG SEKARANG SEBELUM LELAKI GILA ITU MENGEJAR KU!


***


Semua bercampur aduk di dalam benak Vie.


Aku sangat benci hari ini!!!


***


Di sisi lain, Fian duduk di tepi ranjang big size nya yang empuk dan mewah sambil tangan tak luput dari memegang lehernya terus menerus dengan perlahan.


Goresan luka ini... Dia menyukainya...


Membuat dia tersenyum kecil sambil mengingat kejadian tadi.


Fian membaringkan tubuhnya di ranjang dan mengelus ranjangnya yang nyaman.


Membayangkan betapa bergairahnya dan panasnya ranjang ini saat Vie dan dirinya tengah beradu cinta dan mencapai pelepasan yang nikmat.


"Ahhh.... Vie...." Desah Fian saat berimajinasi liar tentang Vie.


Dia sangat mengingini Vie. Sangat...


Dari awalnya Fian sungguh tak tertarik dengan Vie. Wanita kampungan dan bukan tipenya sama sekali.

__ADS_1


Tapi ada suatu tarikan yang membuat dia terus ingin menatap dan memilikinya.


Ini sangat aneh. Biasanya Fian hanya menginginkan wanita hanya sebatas memuaskan libidonya, tapi Vie... Rasanya Fian mengigini Vie seutuhnya! Miliknya sepenuhnya tak ada yang lain!


***


Pagi hari tiba. Vie segera berangkat ke sekolah lebih awal agar tak berjumpa dengan Fian. Sungguh menjijikan membayangkan kejadian semalam. Dan yakinlah jika bertemu dengan Fian pasti Vie rasanya ingin membunuh pria itu!


Vie duduk di kelas dan kelas memang masih sangat sepi saat dia datang.


Vie menyandarkan badannya dan sambil membuka buku novel kasus pembunuhan dan misteri yang dia kemarin pinjam dari perpus.


Karena asik membaca buku dia sampai tak menyadari ada seseorang yang datang ke dalam kelas.


Fian


Dengan cepat Fian menyingkirkan meja belajar Vie menjauh, menarik buku Vie dan melemparnya ke bawah dan kemudian mengunci pergerakan Vie di kursi. Kejadian ini sangat cepat membuat Vie telat mengelak. Sial!


Fian menenggelamkan wajahnya langsung pada ceruk leher Vie. Dan mulai menciumnya.


"FIAN!" Vie terus berontak. Sungguh kenapa dia harus di posisi mahluk yang lemah!


"FIAN LEPAS! DASAR BRENGSEK! TOLONG!!!" Vie marah dan mengumpat. Dia berteriak-teriak meminta tolong tapi tak ada yang mendengar.


Ya iyalah. Kan masih pagi buta!


Seakan tuli, Fian terus menciumi leher Vie tanpa sisa. Dan kemudian terhenti saat melihat jejak kemerahan  pada sisi leher Vie. Hal itu membuat Fian tersenyum miring puas, itu tanda dari ciumannya kemarin.  Fian hanya mengecupnya saja pada bagian kemerahan itu dengan bangga.


Fian menatap wajah Vie dan malah semakin tergoda melihat wajah Vie yang memerah ntah karena itu marah atau kesal, dia tak perduli namun dia suka ekspresi Vie itu.


"Kita sambung di kamarku nanti atau sekarang aja, hm?" Bisik Fian.


"EH BANGSAT! MAKSUD KAU APAAN?!"


Cup


Mata Vie membulat sempurna saat Fian mencium bibirnya singkat.


"Intinya kau akan ke rumahku pulang sekolah." Katanya tanpa dosa dan kemudian keluar kelas Vie seperti tak terjadi apa apa.


Vie mengerjap ngerjapkan matanya karena masih cengo dengan perbuatan Fian tadi.


Vie menggeleng kepala. "HUH? APA?! GAK! AKU NGAK MAU! SIALAN!"


Fian tak perduli. Karena dalam hidupnya dia tak akan mau menerima kalimat penolakan.


You are mine Vie...

__ADS_1


__ADS_2