Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Ketahuan Menikah


__ADS_3

...Author POV...


Vie berdiri di halte. Matanya melihat ke kanan kiri memperhatikan kapan taksi akan lewat. Fian tak memperbolehkan Vie untuk naik angkot, jadi Vie wajib naik taksi dan kemudian memberikan bukti foto pada Fian.


Vie sedikit mendengus. Lama sekali taksinya lewat. Namun seketika senyumannya terbit saat melihat taksi yang berjalan ke arahnya. Vie melambaikan tangan membuat sang taksi melaju mendekatinya.


Taksi berhenti namun seketika ada seseorang yang membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Orang itu langsung hendak menutup pintu taksi namun di tahan Vie.


Vie menatap lelaki itu kesal, dia awalnya hendak marah, namun ketika melihat orang itu lebih tua darinya dan mengenakan jas yang rapi Vie jadi membuat dirinya lebih sopan karena berhubungan dengan orang yang lebih tua. "Maaf pak. Ini taksi saya. Saya dulu yang melihatnya."


Lelaki itu menatap Vie tajam. Apakah dia setua itu?! Namun memang benar dia berusia 30 tahunan, tapi bukankah dia masih sangat tampan?


Lelaki itu bernama Brandon. Lelaki itu awalnya marah menjadi bungkam karena mengingat satu hal. Dia pernah melihat wanita itu di club. Wanita yang tampaknya polos ini tak sepolos itu bukan?


Hari ini yang seharusnya di benci oleh-nya karena mobil yang seharusnya di pakai malah mogok di jalan membuat dia mau tidak mau harus mencari keberadaan lain untuk pulang, malah menjadi hari yang membuatnya senang karena melihat Vie.


Brandon mulai tersenyum kecil hampir tak tampak. "Kau tak mengingatku hm?" Tanya Brandon.


Vie menggeleng, memang ingatan Vie sangat terbatas, dia memang bermemori rendah terutama pada seseorang yang hanya di jumpainya sekali. Berbeda dengan Brandon yang ingatannya sangat kencang dan otak tang sangat pintar hingga dia bisa menjadi CEO di suatu perusahaan.


"Vie belum pulang?" Terdengar suara bertanya yang cukup kencang dari orang yang berada di dekat halte.


Fian, Claire dan teman sekelompoknya mendatangi Vie.


Vie kembali menegakkan dirinya. "Hm. Belum. Kamu sendiri ke apa belum kerja kelompok."


"Belum, tadi kami masih membeli peralatan yang di perlukan untuk kerja kelompok. Sekarang baru mau berangkat ke rumah Claire." Ucap Fian santai membuat Vie mengangguk.


Fian tersenyum kecil dan memeluk Vie, Fian mengecup kedua pipi Vie dan kemudian mencium bibir Vie intens. Fian sungguh tak tau tempat dan kondisi saat bersama Vie.


Semua teman teman Fian menjadi canggung dan membuat Vie malu sekali. Vie mendorong tubuh Fian, "Jangan gitu."


Fian terkekeh. Sungguh dia tak dapat mengontrol diri di dekat Vie.


Claire membuang wajahnya malas dan tak sangka melihat sang Abang ada di dalam taksi, "Kau ngapain di sini?" Tanya Claire pada Brandon.


Brandon yang melihat adegan romantis dan memuakkan mendesis geram. Dia membenci saat wanita itu seenaknya di cium oleh lelaki bocah yang ada di hadapannya itu.


Ntah apa yang membuatnya benci pada Fian. Namun dirasanya dia sangat benci! Seperti ada desiran permusuhan yang mendarah daging dalam dirinya, padahal dia juga baru berjumpa dengan Fian.


Aneh. Itu yang di rasakan Brandon.


Melihat abangnya diam Claire0 kembali bersuara, "Bang!"


Brandon tersadar dan kembali mengingat sesuatu, "Kalian mau kerja kelompok di ruang Claire?"

__ADS_1


Beberapa siswi yang sekelompok menyerngit sambil tersenyum mengangguk. Mereka sangat di manjakan dengan wajah tampan Brandon.


Sungguh Brandon sangat tampan dan mempesona. Bahkan tanpa banyak bicara lelaki itu tampak sangat seksi.


Brandon tersenyum kecil. "Berarti kamu juga?" Tanya Brandon dengan suara lembut pada Vie.


Fian melihat ada kejanggalan dari tatapan Brandon. Segera Fian menarik Vie ke belakang badannya membuat Vie mengikuti arahan Fian saja, "Dia wanitaku." Ucap Fian to the point.


Brandon sungguh tak suka dengan anak tengil ini dan membuat dia tersenyum kecil palsu. "Kau tak menjawab pertanyaannyaku."


Vie tau seberapa kesalnya Fian pada lelaki yang ada di hadapannya ini namun dia tak ingin terjadi perkelahian, terutamanya Fian belakangan ini sangat sensitif.


Vie mengusap punggung Fian, kemudian kembali melihat Brandon, "Tidak pak. Saya bukan sekelompok mereka."


Bapak?! Dia kembali memanggilku bapak! Kesal Brandon dalam hati membuat Fian terkekeh melihat ekspresi Brandon yang kentara. Untung juga dia memiliki istri yang polos.


Brandon tersenyum miring, "Kau mau pulang bukan? Mari pulang bersamaku." Brandon menepuk pelan bangku yang ada di sebelahnya.


Fian langsung naik darah. Sungguh tak tau diri lelaki tua ini pada istrinya!


"Dia istriku." Tekan Fian membuat suasana menjadi hening.


Vie sungguh panik. Kenapa Fian malah membocorkan semuanya?!


Bisa-bisa dia akan semakin menjadi bulan bulannan di sekolah.


"Fian Fian. Jangan mengada ngada. Kau pikir kami percaya?" Andrian salah satu teman Fian terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Kalau pacaran aku masih percaya, tapi nikah?... Jangan mengadi ngadi." Ucap Andrian.


Andrian cukup tau sepak terjang Fian. Lelaki bejat yang suka gonta-ganti pasangan bagaimana bisa menikah muda? Fian takkan pernah bisa serius dengan seorang wanita.


Namun Fian cukup serius. Fian memicingkan matanya melihat semua orang dan kemudian dia mengeluarkan buku nikahnya dan membuka terang terangan di hadapan mereka semua.


Dan semuanya terdiam.


Pupus sudah kehidupan Vie. Semua orang akan menghujatnya. Sungguh Fian tak dapat di ajak bekerjasama!


Fian melihat sekelilingnya, "Ku peringatan. Jangan ada yang pernah menyentuh istriku kalau masih mau hidup."


***


Fian mendengus kesal melihat Vie. Vie bahkan tak berbicara sepatah katapun sejak kejadian tadi sepulang sekolah.


Tentu saja dia marah. Semua bercampur aduk dalam dirinya. Dia akan di cap sebagai wanita murahan dan tak tau diri di mata setiap orang yang melihatnya. Bagaimana bisa wanita yang tampak baik baik saja ternyata sudah menikah? Belum lagi bagaimana jika dia hamil dalam waktu dekat ini? Tentu saja dia akan semakin menjadi trending topik di sekolah.


"Vie..."

__ADS_1


Vie menutup telinganya dan tidur memunggungi Fian.


Fian memeluk Vie dari belakang namun Vie menolak dan kemudian mendorong Fian.


Fian semakin sedih dan menatap Vie memelas, "Vie... Kenapa diam mulu.."


Vie tak menggubris.


Fian menarik tubuh Vie sedikit paksa dan membuat Vie berbalik. Segera Fian memeluknya dan menata Vie intens, "Sayang..."


Vie menatap Fian tajam dan kemudian menutup matanya memilih diam dan tidur.


"Vie..."


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


Fian menatap Vie lekat. Wajah Vie tanpak jutek tapi pipinya merona. Bagaimana bisa lelaki ini menahan diri untuk tidak gemas.


Fian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Vie dan bergelayut manja, "Ayang kenapa sih? Fian buat salah apa hm? Kasih tau ayang..." Fian terus menerus menggoncang badan Vie. Sungguh dia tak paham kenapa istrinya sangat marah.


Fian panik saat melihat istrinya menangis, dia menlap air mata Vie dan menatapnya serius, "Aku buat apa? Salah apa sayang... Kalau kamu mau hukum aku hukum aja sekarang. Please jangan nangis, aku ngak tau harus apa."


Vie semakin menangis, "Kenapa kamu bilang ke mereka."


"Bilang apa sayang."


Vie memukul dada Fian, "Kamu bilang kita udah nikah. Kamu bongkar semuanya. Mereka pasti bakalan hujat aku, mereka bakalan hina aku." Vie menangis seunggukan.


Fian mengelus kepala sang istri, "Maaf sayang. Aku hanya tak tahan jika ada yang menggodamu. Kau hanya milikku."


Vie mengerucutkan bibirnya sedih, malahan itu membuat Fian gemas. "Sayang. Siapapun yang coba menghinamu aku pastikan mereka mati." Ucap Fian tak main main.


Fian menatap wajah Vie yang sembab,  membuat Fian ingin melahap istrinya ini.


Fian mengecup pipi Vie berkali kali sambil tersenyum kecil kemudian menatap wajah Vie lekat hingga hidung mereka bersentuhan. Fian tersenyum miring, "Kamu tau. Kamu sangat membuatku gila. Apa yang kamu lakukan padaku sayang?" Desah Fian sebelum akhirnya dia ******* bibir Vie.


Fian memperdalam ciumannya dan membuat kedua pangutan bibir itu terdengar kecapan seksi. Bibir Vie sangat manis dan memabukkan. Candu? Memang sangat candu.

__ADS_1


Fian perlahan melepaskan ciumannya, nafas mereka sangat memburu. "Just me. And always me babe."


Fian kembali melanjutkan aksinya, dia tak suka setengah setengah.


__ADS_2