
...Author POV...
Claire mengusap lembut rambut Vie tengah tertidur pulas. Sungguh takut itu yang di rasakan Claire saat Vie mendadak drop seperti ini. Ini semua kesalahan anak kecil sialan itu, jika saja dia tidak kecelakaan pasti Vie takkan seperti ini. Dia teramat membenci anak sialan Fian itu.
Tep
Claire menatap tajam orang yang disebelahnya yang sengaja menepis tangannya dari kepala sang wanitanya.
"Itu istri orang. Sadar diri bisa kan?" Ucap Ana tajam.
Ana sedikit kesal dengan Fian yang sedari tadi ntah kemana? Dia suami Vie kenapa tidak muncul muncul juga. Kemana dia?
Ana menatap jijik Claire, 'Apa dia masih tidak tau malu. Udah di lihat suami bos tadi datang, bisa bisanya dia malah menyentuh bos. Apa dia ngak bisa cari cewe lain huh? Sangat tidak laku sekali.' batin Ana.
Claire yang mengetahui apa yang ada di pikiran Ana menatap wanita mengesalkan itu dengan tajam.
Tidak taukah dia bahwa Claire adalah lelaki idaman wanita? Begitu banyak wanita yang rela memberikan apapun asal bisa menjadi pacarnya. Pacarnya? Bahkan mendekati Claire saja setiap wanita menganggap dirinya sangat beruntung. Bagaimana wanita ini dapat memikirkan kalau dia lelaki yang tak laku. Sialan sekali! Batin Claire muak.
"Apa liat liat. Emang aku cantik." Sombong Ana dengan tajam.
Claire berdecih. Jika saja di sisi tidak ada Vie, Claire pasti akan mematahkan tulang rusuk Ana dengan sekali tendangan, tak perduli apakah Ana itu wanita atau tidak. Dia membenci sosok orang yang mencoba menghalanginya dalam mendekati wanita incarannya.
__ADS_1
"Bahkan ikan kaleng saja lebih cantik dibandingkan dirimu." Hina Claire tak kalah nyinyir.
Untuk pertama kalinya Claire adu mulut dengan seseorang. Biasanya dia akan langsung membereskan lawannya dengan membunuh lawannya dan membersihkan tangannya dengan kuasanya yang terbilang cukup hebat jika menghadapi lawan rendah seperti Ana.
Ana mengedikkan bahunya, "Wajar sih kau bilang gitu. Otakmu kan ngak normal, gimana bisa membandingkan wanita cantik dengan jelek. Haha. Lemah."
Damn!
Kali ini cukup. Claire emosinya sudah di ubun-ubun. Dia akan menyiksa Ana sekarang juga, namun tidak di ruangan ini tapi di luar.
Claire menarik tangan Ana namun Ana segera menepisnya, "Jangan pegang pegang. Aku alergi sama jomblo ngenes." Ucap Ana seakan akan dia sendiri ngak jomblo ngenes. Padahal mah dia jomblo paling ngenes yang pernah ada.
Claire kembali menarik tangan Ana. "Ikuti aku."
"Ana." bentak Claire.
"Kalau aku bilang tidak ya tidak.
Eh. Perasaan aku ngak pernah ngasih tau namaku. Kau tau dari mana namaku?" Ana marah namun sedikit kaget karena bingung.
"Tak perlu kau tau. Intinya ikut aku." Ucap Claire mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tidak mau!... Sekali lagi kau menyuruhku aku akan menjerit!" Ancam Ana.
Tangan Claire terlepas saat Ana kembali menghentakan tangannya.
"Jangan macam macam! Dasar Jelek!" Hina Ana pada Claire.
Claire membolang matanya dan menunjuk Ana dengan sorotan tajam, "Kau..."
"Ana..." Terdengar suara rintihan seseorang yang baru terbangun dari tidurnya. Claire kembali menarik nafas dan menenangkan amarahnya, dia tak boleh terlihat buruk di hadapan Vie yang baru sadar dari pingsannya tadi.
Ana menoleh ke arah Vie, "Iya kak. Kakak udah sadar?... Tenang saja kak, Ana akan selalu di sini untuk Kakak." Ucap Ana tulus.
"Ana, bagaimana aku bisa disini? Seharusnya aku merawat Andra.."
Vie berusaha untuk bangkit duduk.
Ana menahan Vie dengan perlahan, "Urusan Andra biar Ana yang atur juga. Kakak harus istirahat total. Kalau kakak sehat pasti Andra juga bakalan ikut sehat. Kata dokter keadaan Andra juga telah membaik." Kata Ana menerangkan tentang keadaan yang terjadi.
Vie mengangguk dan mengikuti apa yang di katakan Ana, "Terimakasih banyak Ana. Namun aku akan segera pulih dan segera merawat Andra." Ucap Vie.
Ana mengangguk. "Kakak tenang saja. Semua pasti akan baik baik saja."
__ADS_1
Vie tersenyum dan mengenggam tangan Ana, "Kau sangat baik. Terimakasih banyak Ana. Terimakasih.."
"Iya kak. Sama sama."