
...Author POV...
Fian sama sekali tak keluar dari kamar membuat Vie kesal sendiri. Bukankah itu salahnya Fian yang tak melindunginya?! Kenapa seakan akan ini semua jadi salahnya?!
Fian terlalu kekanak kenakan.
Vie menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia harus bersabar akan sikap Fian, bagaimana pun itu suaminya.
Vie bangkit dari kursi meja dapur dan datang menghampiri Fian di kamar.
Cletek
Fian menoleh ke arah pintu yang di buka oleh Vie, kemudian dia kembali menelungkupkan badannya dan kembali bermain ponsel.
Vie mendengus. 'Kalau dia mau ngambek terus ya terserah. Kan dia yang salah,' batin Vie dengan malas.
Vie keluar dari kamar dan menuju kamar tamu.
Sedangkan Fian, dia yang tadinya pura pura tak perduli jadi mencelos, "Ck. Kenapa malah pergi. Kenapa ngak bujuk suaminya sih." Kesal Fian pelan.
Vie menutup pintu kamar dan mulai berbaring di ranjang. Sungguh lelah sekali hari ini, padahal dia tak melakukan apa-apa.
Vie menghela nafas panjang, "Apa memang aku juga ya yang salah?" Ucap Vie sambil memandangi langit langit kamar.
"Ish... tapi kan kalau ngak ada Claire pasti aku udah habis di bully. Claire yang lebih perduli dan perhatian. Kenapa Fian marah?! Dia keterlaluan banget!"
Vie memeluk guling dan menggeliat kesal sampai akhirnya Vie mendapatkan satu pikiran yang membuatnya hening sejenak, "Sepertinya aku salah juga deh... Tadi memang kebetulan ada Claire di saat itu. Dan Fian sedang ada kegiatan lain. Jadi ngak seharusnya aku kesel sama Fian. Fian memang pencemburuan, seharusnya aku sadar dan lebih memahami Fian."
"Em. Sudahlah ngak usah di pikirkan. Buat pusing saja." Vie mengacak rambutnya kembali menutup mata dan mulai tertidur.
Di sisi lain Fian terus menerus bermain ponselnya, sudah jam 12 malam dan dia belum dapat tidur. Tentu saja ini gara gara Vie belum balik ke kamar dan tidur di sebelahnya. Fian sangat sulit tidur tanpa Vie.
"Ck. Mana sih dia?!"
Fian membanting hp nya dan menelentangkan badannya. "Ck. Biarin lah! Dia juga yang salah. Kenapa buat cemburu terus!"
Fian yang mempunyai ego tinggi
lebih memilih untuk tak tidur malam di bandingkan harus mencari keberadaan Vie.
***
__ADS_1
Vie sudah bersedia berangkat ke sekolah dan tengah sarapan di meja makan. Walaupun marahan Vie tetap membuat sarapan Fian dan jus untuk suaminya itu. Beberapa menit kemudian Vie melihat Fian keluar dari kamarnya, baju seragam lusuh rambut urakan dan dasi yang mereng.
Vie mendesis pelan. Bagaimana suaminya bisa seperti anak preman begini? Sungguh menyakitkan mata Vie.
Mata mereka bertemu kemudian langsung di putuskan oleh Fian. Dia masih sangat kesal.
Fian tak sengaja melihat sarapan yang di sediakan Vie. Fian merasa luluh dengan istrinya, terharu mungkin. 'Padahal marahan. Tapi Vie masih buatin aku sarapan.' batin Fian.
Fian menggeleng singkat, dia masih tak mau membahas apapun dengan Vie, sungguh dia masih marah.
Vie telah selesai makan karena memang dia makan deluan. Kemudian Vie bangkit berdiri membuat Fian refleks melihatnya.
Vie berjalan ke arah Fian, "Aku berangkat." Ucapnya.
Fian memalingkan wajahnya. Masih diam.
Tapi sungguh mata Vie sangat risih dengan tampilan suaminya ini. Tangannya terulur merapikan dasi Fian dan merapikan bajunya. Membuat Fian menatap Vie, sungguh Fian sangat ingin sekali memeluk Vie di saat ini seperti biasa.
Vie merapikan rambut Fian dengan jarinya. Fian paling tak tahan dan semakin ingin mencium istrinya.
Fian menahan diri mati matian dan menepis tangan Vie, "Gak perlu."
Fian berharap Vie memeluknya dan minta maaf. Namun yang di lakukan Vie malah di luar dugaan, Vie mengangguk dan mengambil tasnya, "Aku berangkat." Vie pergi begitu saja meninggalkan Fian di ruang makan.
***
Di sekolah Vie duduk di rooftop sekolah. Kosong dan senyap. Dia malas jika harus di perpus atau pun sekedar jalan jalan di lapangan sekolah, terlalu banyak orang yang akan membicarakannya nanti dan akan semakin membuatnya kesal.
Lagipun Vie harus bisa menjaga diri dari serangan orang orang yang membencinya karena itu akan membuat dia harus kembali berjumpa dengan Claire dan pastinya akan semakin membuat Fian cemburu. Vie harus menjaga jarak.
Vie tersenyum miris. Terlalu ribet memang hidup Vie.
Tanpa di ketahui Vie, Claire sedari tadi ada di rooftop juga. Ini memang merupakan tempat favoritnya. Claire sedari tadi memandangi Vie dan membaca pikiran gadis itu.
Posisi mereka cukup jauh namun tak menutupi batas Claire dalam membaca pikiran Vie.
Claire tersenyum miring tipis, "Sebegitunya kamu menjaga perasaan suami egoismu itu." Claire bermonolog.
Claire tak ingin merusak hubungan antara Fian dan Vie. Hanya saja dia selalu tak tahan jika Vie berada dalam masalah, seakan ada suatu tarikan dalam dirinya untuk langsung menolong Vie. Terutama Claire memiliki kemampuan lebih yang dapat merasakan keberadaan Vie dan bisa merasakan jika Vie mengalami suatu masalah.
Claire memilih diam dan kembali pada ritual tidurnya yang nyaman dengan angin menerpa wajah tampannya.
__ADS_1
Sedangkan Fian. Kini dia sedang sibuk memperhatikan sekeliling, Vie tak ada kelihatan batang hidungnya se-radius mata Fian memandang.
Membuat dia semakin was was.
"Kemana lagi sih tu anak." Desis Fian.
Fian sungguh kuatir. Tapi gengsinya mengalah rasa kuatirnya dan memilih untuk kembali makan di kantin.
Sangat berusaha Fian tak perduli akan Vie semakin besar pula rasa takutnya Vie hilang.
"Arh! Bodo amat. Aku harus cari Vie."
Akhirnya Fian pun mencari Vie.
***
Fian tak menjumpai Vie hingga pulang sekolah.
Panik?
Tentu!!
Fian segera pulang ke rumah berharap Vie ada di sana.
Fian berjalan menuju kamar dan langsung membukanya.
Clek
Rasanya Fian sangat lega. Baru di rasa Fian dia bisa menghirup oksigen sekarang saat melihat Vie tengah mengambil baju biasa.
Sepertinya Vie ingin mandi. Terutama hari ini sangat panas.
Fian kembali memasang wajah datar dan membuang wajahnya. Fian berjalan ke atas ranjang dan kembali memainkan ponsel. Tak ada pembicaraan apapun membuat Vie langsung saja mandi.
Vie bingung harus apa sekarang setelah mandi. Apa dia harus kembali tidur di ruang tamu?
Vie mengangguk, 'Sepertinya aku haru tidur di kamar tamu lagi deh. Aku ngak mau bikin Fian makin marah.' batin Vie.
Vie mengambil bukunya dan berangkat menuju kamar tamu.
Fian kembali mencampakkan ponselnya, "Kenapa pergi lagi," kesal Fian saat ketika Vie sungguh pergi.
__ADS_1
"Vie kau sangat mengesalkan! Suami kamu ganteng. Emang ngak takut di rebut huh?!"
Fian mengacak rambutnya, "Kenapa sih dia ngak minta maaf aja. Kan kalau udah semuanya kelar! Ish!"