Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Mulai Menyukainya


__ADS_3

...Author POV...


Claire melihat Vie yang tengah makan bersama Fian di kantin. Sungguh pandangan yang mencuat banyak orang akan berspekulasi untuk menggosipi mereka.


Tapi Claire biasa saja. Dia sedang membaca pikiran Vie sekarang, dalam bayangan Claire Vie tengah merasa tertekan karena pernikahan.


Claire menyerngitkan dahinya dan kembali membaca pikiran Vie, "Fian?" Ucap Claire melihat isi pikiran Vie. Claire melihat Vie telah menikah dengan Fian.


'Ah mungkin itu alasan mereka kemarin tak masuk sekolah' batin Claire.


Sebenarnya Claire membenci jika dia harus mengurusi hidup orang, namun karena sang kakek mengamanatkan bahwa Claire harus memastikan Vie bahagia membuat Claire terpaksa melakukan ini.


Claire mendesis, bagaimana bisa sang kakek yang terkenal akan kehebatannya mencintai wanita lemah seperti Vie?


Ck


Sungguh menyebalkan.


Claire menggaruk pipinya malas dan berjalan menuju Vie dan Fian. Claire duduk di hadapan mereka, "Hiduplah bahagia. Jangan menyusahkanku. Jadi aku bisa tenang menghadapi kehidupanku, karena aku juga banyak kerjaan." Ucap Claire sambil kemudian pergi meninggalkan mereka.


Vie manatap aneh Claire dan kemudian menatap Fian yang sedari tadi terus memandang lelaki aneh tadi, "Dia lagi." Ucap Fian yang kemudian menoleh ke arahku, "Kenapa dia selalu muncul di hadapan kita." Tanya Fian tajam.


Vie bahkan tak tau dan berakhir pada Vie yang hanya mengedipkan bahu, "Gak kenal."


Fian menatap Vie, "Gantengan aku apa dia?"


Vie bingung, "Maksudnya?"


"Jawab dulu." Fian kesal.


Vie tersenyum kecil. Apakah Fian cemburu?


"Dia sih." Ucap Vie santai.


Fian membolangkan matanya marah, "Apa?"


"Iya gantengan dia."


Fian mendekatkan wajahnya dengan tatapan membara, "Nanti malam aku akan membuatmu menjerit hingga pagi di ranjang."


Deg!


Vie membolangkan matanya takut, "Gak gak. Aku becanda doang."


"Bohong."


"Serius. Gantengan kamu." Vie memilih aman. Jadi mendingan dia menaikkan harga diri Fian.


Fian melonjak gembira dari dalam hatinya namun wajahnya tetap datar. "Bohong."


Vie mendekatkan wajahnya, "Beneran. Jangan marah dong."


Fian tersenyum dan mengelus rambut Vie, "Iya, aku gak marah."


Vie menghembuskan nafas nya lega. Untunglah..


Fian menaikkan salah  kecil nakal, "Kenapa sih kamu takut banget main sama aku. Kan enak."


"Ih apaan."


Fian tersenyum kecil dan medekatkan wajahnya.


Cup

__ADS_1


Sebuah kecupan kembali melesat di bibir Vie.


"Walaupun kamu bilang aku yang lebih ganteng dari pada dia. Tetap saja aku akan memangsamu nanti malam." Bisik Fian membuat Vie merinding.


Fian memeluk gemas Vie dan mengecup ngecup pipinya, "Punya Fian, punya Fian, punya Fian."


Rasanya pipi Vie sangat panas. Dia malu sekali. Di tambah lagi mereka tengah di depan umum.


"Fian lepas." Kesal Vie.


Fian menatap lekat Vie, "Biarin."


Ntah Vie yang sudah mulai stress atau mungkin memang dia sekarang tengah menikmati wajah manja Fian yang terlihat menggemaskan.


Vie segera menggeleng. Dia takkan mau menyukai Fian.


'Sadar Vie... Fian itu jahat. Gak gak! Kau gak boleh suka sama dia!'


***


Vie tengah duduk di perpustakaan umum sekolah sendiri. Sedangkan Fian tengah bermain basket di luar bersama teman temannya.


Kegiatan Fian bisa terlihat jelas karena lapangan basket yang berdekatan dengan perpustakaan sekolah.


Sesekali Fian melihat keberadaan Vie, apa yang dia lakukan dan dengan siapa Vie tengah belajar. Fian tak luputkan pandangannya dari Vie.


Beberapa saat kemudian Vie bangkit berdiri dan beranjak dari kursinya untuk mencari buku lainnya yang dapat menghilangkan rasa jenuhnya.


Saat melihat jejeran buku di sana. Vie menemukan buku yang tepat, namun saat mengambilnya sebuah tangan pun menahan tangannya hendak mengambil buku itu juga.


"Ini bukuku. Aku yang menemukannya dulu." Ucap lelaki itu.


Dan lelaki itu adalah Claire.


Claire memutar bola matanya malas, kalau saja wanita ini bukan buyutnya mungkin dia tak segan segan memaki wanita ini.


"Kau yang selalu menggangguku. Bukan aku." Claire menatap tajam Vie.


"Idih. Apaan."


Claire melihat Vie penasaran. Bagaimana bisa buyut lelakinya begitu mencintai wanita aneh dan bodoh ini. Apa coba kelebihan wanita kampungan ini sampai sampai Dion sang buyut bahkan Ryan buyutnya Fian mencintainya sangat.


"Kau bisa apa sih? Heran aku." Ungkap Claire.


"Maksudnya?"


Claire memutar bola matanya malas, "Kelebihan mu apaan. Kenapa bisa kau di gilai orang yang berkelas seperti Fian."


"Mana aku tau. Aku juga terpaksa dekat sama Fian. Dan itu bukan urusanmu. Jadi mendingan," Vie menahan kalimatnya dengan mengambil buku rebutan mereka tadi, "Kau pergi dan jangan urusi hidup orang. Urusin aja masalah hidupmu."


Vie pergi meninggalkan Claire.


Claire menahan tangan Vie. "Dengar ya. Jujur aku sangat membencimu lebih dari pada apapun. Tapi yang perlu kau ketahui, aku juga harus menjagamu karena suatu amanah yang tak dapat ku tolak karena itu merupakan wasiat. Jadi intinya, jika kau ada masalah, kau harus memberitahuku."


Vie menyerngitkan dahinya, "Lah. Emangnya siapa yang ngasih kau wasiat, dan apa juga urusanmu denganku, emangnya kita ada hubungan apa? Keluarga tidak, teman pun tidak. Aneh."


Claire menbuang wajahnya malas dan kemudian mengambil selembar tanda pengenal dan memberikannya pada Vie, "Ini nama dan nomor ku. Intinya kalau kau sungguh sedang dalam kesusahan hubungi aja langsung. Tapi jangan terlalu sering juga menghubungiku, aku banyak kesibukan."


"Idih. Udah dia yang nawarin bantuan, dia pula yang ngatur."


Claire tak memperdulikan apa kata Vie, dia berbalik dan pergi meninggalkan Vie malas. Claire terpaksa melakukan ini karena memang ini wasiat Dion. Dia tak ingin menjadi anak durhaka, jadi dia memilih melakukan ini.


Toh juga ngak mungkin ada hal buruk pada Vie, jadi Claire tak sepenuhnya mengawasi Vie 24 jam, cukup memberikan nama dan nomor ponselnya pasti akan mempermudahkannya bukan?

__ADS_1


Claire keluar dari perpustakaan dan kemudian berjalan menuju kelasnya yang sejalan dengan lapangan basket.


Dan perlu di ketahui, ternyata Fian sedari tadi pun melihat apa yang terjadi dalam perpustakaan tadi. Dia melihat Claire berbincang dengan Vie namun Fian tak dapat mendengarkan mereka karena jarak yang jauh.


Mata Fian dan Claire saling bertatapan. Fian menatap Claire dengan tatapan api sedangkan Claire menatap dengan datar dan dingin.


Suatu kombinasi kekuatan yang seimbang antara api membakar dan es yang membekukan.


***


Pulang sekolah Fian terus saja bad mood. Dia melihat Vie dengan kesal dan sambil mencoret coret buku paket yang ada di hadapannya.


Al hasil, wajah sang sejarawan yang ada di buku paket itu menjadi ternodai oleh tinta Fian.


Vie melihat itu menatap Fian aneh. Dan kemudian menggeleng tak perduli, toh juga memang Fian aneh.


Fian semakin kesal karena tak di respon sama sekali. Dan kemudian membanting buku paketnya ke lantai dan kemudian membaringkan dirinya di ranjang memunggungi Vie yang tengah bermain ponsel.


Vie hanya menggeleng dan kembali bermain dengan ponselnya.


"Ish! Gak peka banget!" Kesal Fian.


"Kenapa sih?"


"Peluk kek, apa kek," kesal Fian.


Vie makin bingung. Fian kenapa berubah ubah sifat sih?


Perasaan pagi tadi masih baik baik aja.


Lama menunggu Vie, Fian kesal dan memeluk Vie, "Kamu ih. Kok. Ck... Ngeselin banget.


Vie membalas pelukan Fian, "Kenapa hm?"


Fian tersenyum kecil mendapatkan balasan pelukan Vie, "Cowo di perpus tadi siapa sih. Kenapa malah dekat dekat kamu, dan kenapa kamu ngak pukul aja dia, dia mencurigakan tau."


Vie tersenyum, kenapa cute banget astaga...


Vie mencubit pipi Fian dan memainkan pipinya, "Aku gak kenal sama dia."


"Kamu bilangnya gitu tapi kenapa dia malah deket deket mulu. Aku gak suka by..." Rengek Fian.


"Gak ada sayang. Kan aku deketnya cuma sama kamu." Vie tersenyum.


Vie berhenti tersenyum. Buat apa dia tersenyum?! Dia seharusnya benci dengan Fian... Gak! Pokoknya Vie harus cari cara agar dapat bercerai dengan Fian. Bukan malah melting gini.


Fian terdiam kemudian tersenyum menyadari Vie memanggilnya dengan kata 'Sayang'


Fian memeluk Vie erat, "Sayang?" Fian membeo kalimat Vie memastikan dia tak salah dengar.


"Apa sih." Vie mengalihkan pembicaraan. "Aku mau tidur, sana sana." Usir Vie.


Fian terkekeh melihat istrinya jadi gerogi, "Aku juga sayang kamu."


Seketika semburan malu membuat pipi Vie memerah. Fian kembali terkekeh.


"Ih apaan sih. Ketawa mulu." Kesal Vie.


Fian mencium bibir Vie lembut sambil dia terus mengeratkan pelukannya.


Sial, kenapa tubuhnya malah menerima ciuman Fian. Dan bahkan Vie melingkarkan tangannya di bahu Fian membuat Fian tersenyum senang.


"Aku akan melakukannya dengan lembut. Kau akan menikmatinya," Ucap Fian dengan senyuman manis dan kembali mencium sang istri.

__ADS_1


__ADS_2