Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Meet Love Again


__ADS_3

...author POV...


Fian telah mengatur segalanya. Acara pernikahan telah selesai di urus dan tinggal tunggu tanggal saja.


Dan hari ini Vie dan Fian sedang memilih gaun dan jas untuk pernikahan mereka Minggu depan.


Fian melihat dirinya di kaca sedangkan Vie masih ada di ruangan ganti.


Vie menggeleng, "Perasaan tadi dress ini kelihatan pas, kenapa jadi begini ya?"


Vie keluar dari kamar ganti meminta pendapat Fian, "Fian."


Fian menoleh saat Vie sudah berada di belakangnya,


Fian menatap lurus ke Vie. Vie yang terlihat cantik dengan apapun membuat mata Fian tak berhenti menatapnya, terutama kini dress yang di gunakan Vie begitu terbuka di bagian atas, bagian dadanya begitu mengembul. Sungguh rasanya ingin menerkamnya detik ini juga.


Fian tak rela jika Vie di tatap oleh lelaki lain seperti ini. Jadi dia menolaknya, "Gak. Ganti."


Vie mengangguk, "Baiklah."


***


Hari pernikahan telah tiba. Semua tampak berbahagia, terutama orang tua Fian yang begitu bahagia akan keputusan Vie yang ingin kembali rujuk dengan Fian.


Setelah acara selesai kini keluarga Fian, Vie dan Andra bergerak menuju rumah Fian.


Setelah mereka sampai mereka saling berbincang sedikit untuk kemudian akan pulang ke rumah mereka.


"Mama sama Papa pulang dulu ya, udah malem juga." Ucap Mama sambil memeluk Vie.


Vie mengangguk dan tersenyum. "Makasih untuk hari ini ya Ma Pa." Ucap Vie sambil melihat mereka bergantian.


"Kami yang seharusnya berterima kasih, kamu telah berbesar hati memaafkan kami dan kembali dapat mencintai Fian." Mama Fian bersyukur.


"Oh ya, Andra kami bawa ya. Masih pingin main bareng cucu." Ucap Mama Fian memberi kode untuk Fian sambil tersenyum kecil. Tentu Mama Fian berniat agar malam Fian dan Vie tak terganggu. Fian mengedipkan sebelah matanya singkat sambil tersenyum kecil membalas kode Mamanya itu.


Andra dengan polos mengangguk, karena memang sebelumnya Andini telah menyogok cucunya dengan mainan truk tangki besar yang di ingin inginkan Andra beberapa hari terakhir. "Iya Ma! Andra sama Oma dan Opa aja...!"


Andini dan suaminya terkekeh melihat tingkah lucu cucu pertamanya ini.


Vie tersenyum dan mengangguk, "Baiklah. Tapi jangan nakal nakal sama Oma dan Opa ya Andra."


Andra menganguk, "Siap ma!!"


Ruangan pun penuh dengan tawa melihat tingkah lucu Andra yang sangat bersemangat.


"Mama sama Papa pulang dulu."


"Iya ma," Vie menyalam Andrini dan suaminya begitu pun Fian menyalam kedua orang tua nya


"Hati hati ma!" Kata Dia. Sambil melambaikan tangan.


"Oke.."


Baru beberapa menit orang tua Fian pergi Fian segera menggendong Vie ala bridal style sambil menutup mengunci pintu rumahnya.


Vie terkejut dan spontan melingkarkan tangannya di leher Fian agar dia tak terjatuh.

__ADS_1


Fian membawa Vie ke dalam kamarnya menutup pintunya hanya dengan kakinya. Karena dia tau di rumahnya memang kosong. Tidak ada yang akan menggangu mereka.


Fian segera meletakkan Vie pada ranjangnya dan menindihnya.


Fian tersenyum kecil memeluk Vie, "Sayang... Rindu banget sekamar sama kamu."


Vie tersenyum meragukan, "Yakin?"


Fian menatap kesal Vie, "Ih kamu. Aku ngak pernah bergairah dengan yang lain selain kamu."


"Oh. Jadi aku cuma pemuas gairah hm?"


Fian mengembuskan napas berat, "Ya enggak sayang. Itu karena yang ku cintai cuma kamu, gak ada yang lain. Ih kamu mah gitu."


"Ya emang gitu kan?"


"Enggak sayang,"


"Bohong,"


"Beneran cuma cinta kamu."


"Gak percaya."


Fian mencelos, Vie jadi sangat mengesalkan. "Byyy..."


Vie terkekeh, "Iya deh percaya."


Fian kembali tersenyum lebar. Fian mengeratkan pelukannya dan bergelayut manja, Fian mendongakkan kepalanya dan mencium bibir Vie.


Saat ciuman Fian semakin dalam Vie mendorong tubuh Fian, "Aku mau mandi dulu. Gerah."


Fian melengkungkan bibirnya ke bawah kecewa, "Yah... Tanggung by..."


"Sana ih. Aku mau mandi dulu."


Fian menggeleng, "Ayolah yang...."


"Nanti siap mandi Fian... Udah sana gih. Kamu makin halangin gini jadi makin lama loh."


Fian terpaksa mengangguk. "Ya udah deh."


Vie tersenyum kecil dan mengacak rambut Fian, "Makasih sayang."


"Hm.. iya." Ucap Fian dengan wajah cemberut.


Vie hanya terkekeh dan kemudian pergi ke kamar mandi.


Jujur sebenarnya Vie sangat gerah seharian di acara pernikahannya tadi. Rasanya sangat tak nyaman kalau badannya sumpek kan?


***


Pagi hari tiba. Fian tak melepaskan pelukannya pada Vie, rasa bahagia tak dapat di ungkapkan dengan kata kata oleh Fian.


Hanya Vie yang di butuhkannya untuk melengkapi hidupnya yang sepi ini. Cuma Vie yang paling mengerti dan memahami dirinya. Tidak ada yang lain.


Fian membuka matanya dan melihat Vie yang masih tertidur,

__ADS_1


Fian tersenyum, Vie pasti kelelahan karenanya tadi malam. Sungguh Fian tak sanggup menahan hasratnya lagi, dia terbang ke awang-awang saat menyentuh Vie, dia sangat menikmatinya.


Fian menarik tubuh Vie agar semakin di pelukannya, Vie terbangun karenanya.


"Pagi sayang..." Sapa Fian.


Vie mencubit pipi lembut, "Pagi..."


Fian cemberut, "Sayangnya mana?"


"Pagi juga sayang...." Ucap Vie mengkoreksi kalimatnya.


Fian tersenyum kecil dan kemudian mencium bibir Vie, "Hari ini kita di kamar aja yuk. Enakan di kamar."


Vie mencubit hidung Fian, "Gak. Kamu harus kerja. Bagun bangun, ngak boleh males malesan."


Fian kembali menarik tubuh istrinya yang tadinya hendak bangkit dan kini terjatuh tepat di dadanya, "By... Lagi yuk."


Vie membolangkan matanya, "Ih kamu! Kemarin udah lama banget loh."


Fian mendekatkan wajahnya pada Vie sambil mengubah posisinya menindih Vie, "Kurang sayang..." Bisik Fian dengan suara berat.


Fian segera mencium bibir Vie dan memperdalam ciumannya.


Vie yang awalnya menolak namun malah terhanyut oleh sentuhan Fian.


Dan pagi panas pun menghanyutkan kedua insan ini bercinta.


***


Fian terus tersenyum memandangi pulpennya. Mungkin kalau sebagian besar orang yang melihatnya, Fian terlihat seperti orang gila. Tapi sebenarnya yang di terjadi pada Fian adalah dia tengah berbahagia terhadap pernikahannya ini. Dia tak sabar pulang.


Tok tok tok


Fian mendongakkan kepalanya kedepan yang tadinya sedikit menunduk. Senyumannya hilang seketika, "Silahkan masuk." Ucap Fian dengan suara datar.


Sekretaris itu membawa beberapa berkas yang telah di selesaikannya. "Berikut ini rekapitulasi hasil pembahasan kemarin pak."


Fian tersenyum, "Terimakasih."


Deg!


Tersenyum? Terimakasih? Sekretaris itu malah jantungan. Hal ini sangat jarang. Ini mungkin tanda tanda hal buruk akan terjadi.


A-apakah ada yang salah? A-atau tugasku s-semakin buruk? Panik sekretaris itu membatin.


Fian melihat ke arah sekretarisnya yang malah diam dan pucat. "Kau sakit? Baiklah kalau begitu, istirahatlah sebentar, kau pasti sudah bekerja keras beberapa hari ini."


Sekretaris itu membolangkan matanya, sejak kapan Bosnya menjadi perhatian?


"A-apakah kau baik baik saja pak?"


Fian tersenyum, "Tentu saja."


Fian bangkit berdiri, "Baiklah, kau kembalilah ke pekerjaan mu, jika lelah istirahat dulu."


Sungguh aneh tingkat Fian pagi ini, namun segera sekretarisnya itu kembali ke pekerjaannya. Kau tau bukan Fiam suka mengubah ngubah sikapnya sesuka hati. Lebih baik selagi Fian memang baik dia akan melakukan apa yang di katakan Fian tadi. Lumayan kan? Wkwk.

__ADS_1


__ADS_2