
...Author POV...
Kini kedua orang tua Fian tengah dalam perjalanan menuju rumah Fian. Lama waktu dalam perjalanan sekitar 30 menit antara kantor papa Fian dengan rumah Fian.
Tidak terlampau jauh sebenarnya, hanya saja di perjalanan sangat macet hingga memankan waktu yang panjang.
Sesampainya di rumah Fian, kedua orang tua Fian di sambut oleh para pelayan dan juga sekuriti yang ada di gerbang depan rumah.
Merkea sedikit terkejut karena kedatangan kedua orang tua Fian yang tiba tiba. Sedangkan Fian dan Vie kasih dalam perjalanan pulang dari sekolah.
"Fian dan istrinya di mana?" Tanya papa Fian dengan suara bariton yang memenuhi rumah kosong ini.
"Masih di sekolah Tuan. Sebentar lagi akan pulang." Ucap bu minah sambil menunduk.
Demi apapun orang tua Fian tampak sangat tak bersahabat dengan tatapan mengintimidasi mereka. Seakan akan mereka mencari suatu celah untuk dapat menjatuhkan seseorang namun mereka tak tau siapa.
"Silahkan didik tuan," kata Bu Minah lagi dengan sopan. Tak enak rasanya jika tetap membiarkan kedua orang tua Fian terus berdiri.
Papa Fian mengangguk dan mempersilahkan istrinya terlebih dahulu duduk di ikuti oleh dirinya di sebelah istrinya itu.
Tok
Tok
Tok
Kembali pintu terketuk dan menampakan sosok Fian dan Vie yang memasuki rumahnya.
Fian sedikit bingung dengan kedatangan orang tuanya datang tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Memang benar ini jadwal mereka datang, tapi kenapa datangnya tiba tiba?
Vie tampak sangat senang. Ini kali pertamanya bisa bersitatap dengan kedua orang tua Fian secara langsung dan dengan jarak yang sangat dekat tentunya.
Fian dan Vie berjalan berdiri di hadapan kedua orang tua Fian. Sesaat kemudian Vie tampak sedikit terkejut saat melihat ibu Fian.
"Tante bukannya?.." ucap Vie mengingat seseorang yang pernah di tolongnya saat di taman kemarin.
Mama Fian baru sadar jika wanita yang menolongnya tengah berdiri di hadapannya kembali. Ntahlah, Mama Fian lumayan senang melihat menantunya ini. Yang pastinya dia tau jika menantunya memiliki sopan santun pada orang tua, terbukti dari Vie yang menolongnya saat kesusahan.
Mama Fian tersenyum, "Eh. Kita jumpa lagi." Ucap Mama Fian membuat sang suami dan Fian bingung.
"Kalian pernah berjumpa?" Tanya Papa Fian.
"Iya mas. Ini gadis yang menolongku kemarin saat kunci mobilku terjatuh. Dia yang mencarikannya untukku." Kata Mama Fian dengan senyuman.
__ADS_1
Vie mengangguk, "Iya Tante. Ternyata Tante masih ingat."
Jujur saja, Mama Fian semakin luluh dengan senyuman hangat Vie.
Dan Fian. Fian bahkan sangat senang ketika melihat mamanya bisa akrab dengan Vie. Tak di sangkanya kalau Vie telah menolong mamanya kemarin, padahal Fian sempat kesal karena Vie pergi begitu saja saat di taman.
"Oh iya. Maaf sebelumnya Tante dan Paman. Vie lupa menyalim kalian." Vie segera menyalam keduanya orang tua Fian dengan sopan.
Tanpa sadar tangan kedua orang tua Fian mengelus kepala Vie.
Bangga tentunya mendapatkan mantu yang sopan dan baik seperti Vie.
Mereka merasa malu karena sebelumnya telah berfikir yang macam macam tentang Vie. Dan akhirnya mereka sadar bahwa Vie merupakan pasangan yang terbaik bagi anak mereka.
Sedangkan Papa Fian selain bangga dia mengingat sesuatu. Cara bicara Vie dan bahkan pembawaan dirinya sangat mirip dengan seseorang yang telah lama di rindukannya, sosok yang selama ini membekas karena sikap baik dan penyebarnya dan sekaligus menjadi sosok yang membuat dia terus merasa bersalah karena meninggalkan wanita baik tersebut. Ayu... Dia kembali mengingat Ayu sekarang.
Vie tersenyum, "Tante dan Paman silahkan duduk. Vie akan menyiapkan makanan untuk makan siang kita." Ucap Vie senang."
Sedangkan Fian wajahnya menjadi kusut, "Mama sama Papa doang nih yang di persilahkan duduk. Suaminya enggak?"
Ucapan Fian membuat ruangan di penuhi dengan tawaan dari kedua orang tuanya dan juga Vie.
"Iya... Kamu duduk juga ya. Aku mau siapin makanan dulu."
Fian tersenyum dan kemudian mengangguk, "Iya sayang..." Ucap Fian membuat kedua orang tuanya terkekeh geli. Ternyata anak mereka bisa manja begitu juga pada wanita ya.
Vie mengangguk dan kemudian kembali menghampiri Sang mama martua. Kemudian mereka pergi ke dapur bersama sama.
***
Vie memotong bawang sedangkan Andini memasak sup.
"Vie. Kamu jago juga masaknya ya." Puji Andini merasakan ayam bakar buatan Vie sebelumnya.
Vie tersenyum malu, "Ah Tante bisa aja."
"Eh. Jangan panggil Tante dong. Panggil Mama aja." Ucap Andini sambil menyenggol bahu Vie.
"Anggab aja Tante mama kamu sayang."
Vie terdiam seketika namun Andini tak menyadarinya dan terus memasak. Dia lupa jika Via adalah yatim piatu.
"Oh ya ibu sama ayah kamu tinggal di mana? Mama jadi ingin jumpa mereka." Ucap Mama Fian dan kemudian dia terdiam karena tersadar akan satu hal. Dia salah dalam berucap.
__ADS_1
"Eh. M-maksudnya gak gitu sayang. Maaf mama salah bicara." Andini menoleh dan memeluk Vie.
Vie menahan rasa sedihnya dan mencoba tersenyum, "Gak apa Ma. Memang Vie udah gak punya orang tua lagi. Vie tak pernah melihat ayah Vie dan bahkan Ibu Vie telah meninggal dunia saat Vie usia 5 tahun. Tapi tak apa, itu semua rencana Tuhan Ma." Ucap Vie dengan nada suara yang tenang.
"Kamu wanita yang kuat nak."
Vie tersenyum simpul.
Andini menatap wajah Vie. "Kalau boleh tau nama orang tua kamu siapa sayang?"
"Ayah namanya Alex dan ibu bernama Ayu, Ma." Kata Vie dengan wajah polos.
Bagaikan di sambar petir Andini terbungkam. Dia baru sadar jika sahabat lamanya itu telah tiada. Jiwa kebenciannya kembali merajai dirinya. Dia merasa muak jika selalu berhubungan dengan keluarga Ayu, apalagi darah daging Ayu sendiri!
Telah Andini sadari bahwa menantunya ini pasti memiliki suatu hubungan dengan Ayu karena memiliki wajah dan sifat yang sama.
Menjijikan!
Bagaimanapun juga dia harus membuat hubungan Vie dengan anaknya kandas.
Andini mengingat sesuatu. Dialah penyebab kematian ibu Vie, dia membayar jasa pembunuh bayaran untuk menabrak mama Vie pada saat pulang bekerja. Namun setau Andini, Ayu selalu membawa anaknya bekerja, bagaimana bisa Vie tak meninggal juga dalam kejadiannya itu?!
Arh! Tidak berguna pembunuh bayaran yang di bayar mahal itu!
Andini langsung melepaskan pelukanku dari Vie dan kembali' memasak sup.
Vie mengerutkan keningnya, kenapa mama Fian langsung berubah ekspresinya? Padahal Vie sama sekali mengatakan kalimat yang buruk padanya.
"Sepertinya saya hari ini sangat sibuk. Saya tak bisa berlama lama di sini." Ucap Andini tanpa menoleh ke arah Vie. Andini keluar dari dapur dan menuju ruang tamu menjumpai suami dan anaknya.
Vie mengikuti Andini dari belakang dan segera berhenti saat Andini menarik suaminya untuk bangkit berdiri dari duduknya. "Mas. Kita pulang sekarang."
Suaminya yang bingung hanya mengikuti istrinya dan meninggalkan Vie dan Fian dalam keadaan bingung.
***
"Kamu kenapa pergi begitu saja?" Tanya Papa Fian dalam mobil.
Andini mendengus, "Aku tetap tak setuju dengan Fian menikah dengan Vie. Dia bukan wanita yang baik."
"Tapi bukannya.."
"Cukup mas. Jangan bicara lagi. Intinya aku akan tetap menjodohkan Fian dengan wanita pilihan ku!" Potong Andini dengan berapi api.
__ADS_1
Ayah Fian hanya diam. Tak ada kalimat bantahan dari Ayah Fian. Menurutnya apa yang di pandang istrinya baik itu adalah yang terbaik.
Andini terus membayangkan wajah Ayu di kepalanya, 'Sialan kau Ayu! Kenapa kau selalu mengusik kehidupan ku yang tenang!' batin Andini.