Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Kembali ke masa depan


__ADS_3

Rasa sakit menyeruak masuk saat samurai menusuk jantungku dan kemudian pandanganku menghitam dan menghilang. Rasa sakit pun hilang dan seakan aku mati rasa.


Kemudian rasa ngilu itu tergantikan dengan rasa sesak seperti tenggelam kehabisan nafas, seketika ada hembusan nafas yang memasuki kerongkonganku, mendesak agar aku dapat bernafas.


Aku membuka mataku membuat aku terbatuk batuk sambil mengeluarkan air dari mulutku,


Uhuk uhuk..


Aku terkejut melihat Fian. Wajahnya basah kuyup dengan badannya juga basah. Dia menatapku seperti bersyukur dan kemudian memelukku, "DASAR BODOH!! KENAPA KAU LAKUKAN ITU?!!" bentaknya sambil mengeratkan pelukannya dengan badan yang bergetar, "JANGAN PERNAH LAKUKAN HAL BODOH SEPERTI INI LAGI!!"


Apa yang terjadi padaku?


Kenapa tadi aku merasa seperti dihunus samurai?


Dan suara teriakan tadi itu apa?


Yang paling ku ingat adalah aku lari dari sekolah untuk bunuh diri agar hilang dari kehidupan yang sudah ini.


Tanpa ku sadari saat aku melamun sekarang aku sudah berada di dalam mobil. "K-kita m-mau k-kemana?" Tanyaku bergetar karena kedinginan. Pikiranku masih kacau.


Fian kembali memelukku, "Pulang."


Tubuh Fian sungguh basah, namun kenapa terasa hangat?


***


Setelah membersihkan diri. Aku menyelimuti badanku dengan selimut putih tebal yang terbentang di ranjang Fian.


Aku mendengus kesal, "Ppadahal uudah tttebal, kkok mmasih ddinngin sihh!" Ucapku pelan.


Aku kembali memikirkan apa yang terjadi. Tadi terasa seperti samurai menusuk jantungku dengan teriakan seseorang berbahasa Jepang dan seorang laki-laki memanggil namaku. Ingatan ku hanya sampai di situ, kemudian semuanya hilang, hanya itu.


Ntahlah, aku merasa seperti ada yang ku lupakan, akan apa yang pernah terjadi padaku. Tapi apa? Kenapa aku bisa melupakannya?


Saat seketika Fian keluar dari kamar mandi Fian menatapku. Aku tak perduli, sungguh rasa dingin ini mengigit. Aku pun memasukkan diriku kembali ke dalam selimut seluruhnya.


Beberapa detik kemudian ranjang bergoyang kecil tanda ada seseorang yang naik ke atasnya.

__ADS_1


Dreb


Fian memelukku membuat aku terbenam pada dada bidangnya. Badannya yang baru mandi terasa dingin, "Pergi!" Aku menolak badannya namun dia menahannya.


"Aku akan menghangatkanmu."


Dia mengusap-usap pucuk kepalaku dan kemudian punggungku sambil kemudian mengeratkan pelukannya.


Benar saja, suasana jadi lebih hangat.


Aku mendongak melihatnya dan membuat dia pun menatapku.


Kenapa rasanya sangat nyaman dengannya sekarang? Bukannya aku membencinya lebih dari pada apapun?


"Bibirmu pucat. Apa perlu aku ***** biar anget?" Tanya Fian membuat aku bergidik shock.


"GILA YA!" makiku geram.


Dia tersenyum kecil


Cup


"Dasar kau!.."


Dreb


Mataku terbelalak saat dia memelukku dengan kepalanya terbenam pada ceruk leherku.


"Vie.. jangan lakukan hal sebodoh itu lagi. Kau membuatku takut." Ucapnya pelan dengan lembut.


Dia mengeratkan pelukannya membuat dekapannya semakin intim, "Vie... Bagaimana tipe lelaki yang kau dambakan?" Tanyanya. "Kenapa kau sangat membenciku?"


Dia mendongak menatapku sungguh.


"Yang pasti tipeku bukan lelaki bejat sepertimu! Aku membencimu karena kau jahat! Kau bahkan merebut mahkotaku!" Aku menatapnya semakin tajam, "Aku bukan saja membencimu, tapi sangat membencimu!" Aku menekan kalimatku di akhir.


Fian memposisikan wajahnya tepat menatapku, "Jika aku sudah merebut mahkota mu, maka aku akan rebut hatimu. Hanya aku dan cuma aku yang harus kau pandang, hanya aku."

__ADS_1


Cup


Fian menciumku. Memperdalam ciumannya hingga ia sekarang telah menindihku,


Ciumannya semakin memanas, aku meronta hebat dan akhirnya mendorongnya membuat ciuman kami terhenti dengan nafas yang memburu, "Ini yang ku benci darimu! Kenapa kau selalu bertingkah laku buruk seperti ini?!"


Dia terdiam seketika dan menatapku penuh arti, aku tak tau apa yang di pikirkannya. Dan kemudian,


Dreb


Dia kembali memelukku, "Aku akan menikahimu sebagai bentuk tanggung jawabku!"


Deg!


Apa dia sungguh?


Atau dia gila?


"Fian pernikahan bukanlah permainan! Jika kau menikahku hanya sekedar rasa penasaran saja, kau salah besar! Kau.."


"Aku sungguh!! Apa kau menjumpai nada kebimbangan pada kalimatku Vie?! Katakan!!" Dia mengeratkan pelukannya hingga deru nafasnya yang menggebu-gebu terasa pada cerukku.


"Besok! Besok kita menikah!" Sambungnya lagi.


"Fian cukup!" Aku tak pernah percaya padanya.


Fian menatap tajam. "Vie diamlah! Jika kau coba bicara lagi aku akan menyetubuhimu tanpa ampun!!"


"Fian hentikan!! Kau jangan membuatku semakin marah!!"


Fian mengeraskan rahangnya dan menahan kedua tanganku ke atas kepalaku dengan sebelah tangannya dengan paksa, "Kau yang memaksaku melakukan ini Vie!"


Seketika Fian mencium bibirku rakus dengan nafsu. Aku terus berontak-rontak, "Fianm...m.."


Bibirku terus di bekap dengan bibirnya, Sial!


Dia menghentikan ciumannya dan menatapku marah, "Aku akan membuatmu menyukaiku dengan mengandung anakku Vie, hingga kau tak akan bisa menolak pernikahan ini!"

__ADS_1


Dia kembali menciumku, mengigit dan menyesapnya.


SIAL! DIA SUNGGUH GILA!!


__ADS_2