
catatan penulis:
jangan lupa like yaa... vote juga... hehe
...Dion POV...
Aku merenggangkan badanku saat setelah mengerjakan semua pekerjaan kerajaan ini. Rasanya semua bebanku hilang saat Vie ke ruangan ku.
Namun aku sedikit kesal karena kemarin dia kabur saat aku ingin menikmatinya. Jadi sia sia aku teleportasi ke kamar kemarin.
Tapi tetap saja aku tak bisa marah lebih dari 5 menit padanya. Sungguh aku tak bisa.
Dia menghampiriku dan duduk di pangkuanku bergelayut malas, kemudian memelukku membuat aku membalas pelukannya sambil tersenyum miring, "Kenapa hm?"
"Bosan..."
Aku mengangguk, "Ya memang seperti inilah kalau kah menjadi permaisuri raja sayang... Harus seutuhnya di istana." Ucapku.
Jujur aku jadi mulai takut jika dia meminta untuk keluar istana. Jika itu terjadi dan di luar sana berjumpa dengan Ryan, aku takkan bisa mengampuni diriku!
"Ish... Bosan. Aku bisa berjamur kalau di sini terus Dion..." keluhnya.
Aku tak mau menjawab. Nanti dia malah semakin ingin keluar istana.
Dia menatapku lekat, "Sayang... Di jawab akunya... Jangan didiammin... Gimana sih kamu..."
Cup
Dia mencium pipiku singkat, "Sayang..."
Aku tersenyum miring. Kenapa dia jadi sangat nakal jika menginginkan sesuatu hm? Dan kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
Vie semakin memelukku. "Sayang..."
__ADS_1
Aku menggeleng, "Gak sayang. Kamu harus tetap di istana."
Dia menatapku kecewa.
Dia mencium bibirku singkat membuat aku terkejut. What? She kiss me?
"Hm.. Yang... Ayolah...," Desaknya terus berusaha menggodaku.
Aku masih menggeleng. Walaupun sungguh aku sangat tergoda sekarang.
Dia menatapku kesal dan matanya masih memercikan api tak akan mundur.
Dia mengelus bibirku perlahan dan kemudian tengkukku, "Yang...."
Emh... Tahan...
Dia mencium bibirku perlahan dan semakin memanas.
Sial! Dia belajar dari mana bergerak liar seperti ini?...
Dia menarik nafas perlahan, "Sayang... Kita pekan ini jalan jalan ke kota ya... Please..." Dia menatapku dengan jarak wajah yang masih sangat dekat, "Malam ini kau dapat menikmatiku semaumu..."
Aku tersenyum miring. Demi keinginannya terpenuhi dia menjadi sangat agresif hm?
"Oh ya?" Kataku tak percaya.
Dia mengangguk, "Aku sungguh!"
Aku memegang daguku, "Aku akan setuju jika aku menikmati tubuhmu sekarang juga... Dan, takkan berhenti sampai besok.... Apa kamu masih mau?"
Dia membelalakkan matanya. Terkejut bukan main dia.
Aku terkekeh, tentunya dia takkan setuju. Vie Vie...
__ADS_1
Aku menggeleng sambil tersenyum, "Sudahlah Sayang. Aku mau lanjutkan tug.."
"Iya aku mau! Tapi bener ya kita pergi jalan jalan." Ucapnya membuat aku terdiam kemudian tersenyum miring. Dia sungguh keras kepala.
Aku memegang tengkuknya dan mendekatkan wajahku ke sana. Mencium lehernya perlahan dan kemudian berbisik di telinganya, "Kamu tau... Aku akan menjadi sangat ganas dan liar."
Dia manatapku sungguh, "Tak masalah. Aku bisa menjinakkanmu sayang..."
Aku tersenyum miring, "Here we go..."
***
Aku terbangun dari tidurku, sungguh puas... Sangat...
Namun aku melakukannya dengan lembut kemarin. Aku bukanlah suami yang tega melihat istrinya menderita. Aku ingin membuat dia merasa nyaman pula.
Vie terbangun saat aku memeluknya erat, "Morning babe..." Sapaku.
Wajahnya memerah saat aku mendekatkan wajahku padanya.
Aku terkekeh kecil, dan menjauhkan tangannya dari wajahnya. Aku mencium bibirnya, "Makasih sayang. Aku sangat menikmatinya."
Dia menatapku, "Makasih gak kasar kemarin." Ucapnya malu malu.
"Maksudnya?" Tanyaku pura pura bodoh. Hehe
Dia jadi malu dan salah tingkah, "Ya itunya... Ah udahlah ngak usah di bahas." Dia menutup wajahnya lagi.
Aku terkekeh, "Iya sayang... Aku tau... Aku hanya bercanda tadi."
Dia memukul dadaku, "Ish!... Dasar!"
Aku terkekeh dan memeluknya membuat dia berhenti memukul. "I love you Vie..." Bisikku lembut.
__ADS_1
"Love you too," jawab Vie membuat hatiku semakin berdegup kencang senang