Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Like it or not?


__ADS_3

catatan penulis:


intinya gini guyss... semakin banyak yang like, comment, dan beri hadiah maupun vote aku jadi semakin rajin up ceritanya... bahkan bisa double up...


so... jangan lupa dukungannya ya sayy... jangan jadi pembaca gelap doang guys... karena kalau gelap gelap mah ngak bagus untuk kesehatan. wkwk.....


 


________________________________________________


Malam ini terasa sedikit berbeda setelah kehadiran wanita kampung ini.


Sebenarnya aku mendatangkan dia ke rumah ku hanya karena untuk bersenang senang saja. Tapi semakin lama di perhatikan dia sangat berbeda. Tidak bisa di tebak dengan sifat yang tak tentu, dan pastinya dia menyebalkan dengan kadang kadang berbahasa kurang ku mengerti.


Lumayan tertarik hanya sebagai hiburan untuk saat ini. Tak tau jika besok.


Aku melihat dia tertidur di lantai beralaskan matras di bawah ranjangku, karena memang aku yang menyuruhnya. Dia tertidur dengan kaki dan tangan merentang bebas seperti kue jahe bermotif manusia.


Cih, kekanak-kanakan.


Aku kembali menelentangkan badanku dan mulai tertidur.


***


Aku terbangun dan langsung berjalan ke kamar mandi. Sedangkan dia masih tidur.


Aku menendang nya dengan kaki, "Bangun."


Dia terbangun dan melihat ku dengan tatapan menganguk, "Is apa lagi sih."


"Siapkan bajuku cepat. Setelah aku mandi langsung letakkan di atas tempat tidur ku. Paham."


Dia mengangguk.


Aku langsung berjalan ke kamar mandi. Beberapa saat setelah mandi aku melihat baju sudah tersedia dan dia kembali tidur.


Ck. Dasar pribumi suka membuang waktu.


Aku kembali menendangnya.


Dia kembali terbangun dan mengusap wajahnya gusar, "Ya Tuhan... Ngeselin banget sih ni cepu!!!" Ucapnya kesal.

__ADS_1


Cepu?


Lihatlah, bahasanya aneh.


Dia bangkit berdiri dan langsung mengambil bajunya dan berjalan menuju kamar mandi.


Aku melepaskan handukku dan sekarang telanjang, mengambil pakaian dalam dan...


Apa ini?! Kenapa dia menyiapkan ****** ***** yang ini. Ini terlalu ketat.


Creattt


Pintu kamar mandi terbuka saat aku membuka ****** *****.


Vie melihat ke lihat bawahku dengan datar.


"Heh! Jangan lihat ke bawah!" Kataku menahan malu.


Dia melihatku datar, "Alah, toh juga bukan aku aja yang pernah lihat kan, ngapain malu coba."


Wajahku jadi semakin memanas karena malu dengan langsung memakai pakaian dalamku cepat.


"Lah, memangnya aku ngomong apa coba." Dia menatapku aneh, "Dasar ngak jelas." Katanya kemudian meninggalkanku dan kembali ke meja kantor yang di sisi lain dari tempat kami berdiri tadi.


Tunggu, ini perempuan kenapa ngak malu? Atau... Terangsang mungkin?


Kenapa dia biasa aja.


Aku melihat ke arah bawahku. Hm, bukankah ini cukup besar?


Aku berjalan lagi ke arahnya. "Dasar bodoh." Hinaku.


Dia membuang wajah kesal, "Makasih yang lebih."


Aku menyerngitkan dahiku, "Lebih apa?"


"Lebih bodoh."


Aku hanya menggeleng dan memakai kembali pakaianku yang menganggur tadi.


Setelah selesai aku duduk di sebelahnya, melihatnya datar. Ntah apa yang ada di pikirannya, kenapa jadi toksik bagiku untuk mengetahuinya.

__ADS_1


Aku mendekatkan wajahku kepadanya, dia terkejut. "Kenapa lagi sih?!


Mau cium? Bibirku jelek, ngak enak di cium, seperti katamu kemarin. Puas?"


Aku tersenyum mendengar kekesalannya, mengemaskan.


Cup


Aku menciumnya lembut singkat, "Jelek." Ledekku lagi.


Dia hendak pergi dan aku yakin dia pasti mau menggosok gigi menghilangkan jejak bibirku.


But, I hate if she do that, jadi aku menariknya dan mendudukkannya di antara pahaku dengan kemudian ku timpa sebelah kakiku di atas pahanya mengunci pergerakan.


Aku kembali menciumnya.


That's lips not my favorit, but I like it.


Aku berhenti menciumnya dan menatapnya lekat, "Seharusnya kau beruntung mendapatkan ciumanku kah tau."


Dia menlap bibirnya, "Najis!"


Aku terkekeh singkat dan menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya, "This night I will **** you."


Ktap!


Bibirku di tampar olehnya, "Gak sopan! Awas aja kalau beneran, aku akan membunuhmu! Dan membencimu selamanya!"


Aku tak suka dengan kalimat akhirnya, Membenciku selamanya?


I hate that words.


Aku kembali menatap wajahnya dan menciumnya singkat. "Aku mau keluar, jangan keluar dan kerjakan tugasmu." Kataku singkat.


Aku bangkit berdiri membuat dia terjatuh dari pangkuanku ke lantai.


"Aw..." Pekiknya.


Aku tak perduli. Dia sudah membuatku kesal dengan kalimatnya tadi.


"Dasar setan!!!!" Jeritnya saat aku meninggalkannya

__ADS_1


__ADS_2