
catatan penulis:
Hehe. Eyoo guys!
Aku datang membawa kabar gembira...!
Ehem ehem. Tes tes, 1 2 3...
Aku double up nih!.... wkwk...
Happy reading guys! Maaf lama Up karena lagi banyak tugas kampus 😂...
Besok aku double up lagi deh biar my readers makin senang. Wkwkw...
Tapi jangan lupa tinggalkan jejak ya... Like comment dan vote ya...
Happy reading guys 🤗😁✌️
---------------------------------------------------------------------------
Rasanya badanku rengkak semuanya.
Ini semua karena Ryan!
Baru saja aku menyelesaikan semua tugasnya dia masih menyuruhku mengerjakan tugas kantornya.
Aku tertidur di kamarku dengan terlentang dengan otot ototku semuanya nyeri.
Capee!!!
Ah iya. Apa ngak lebih baik aku buat bandrek aja ya? Biar lebih segar nanti. Plus di campur telur ayam mentah di bandrek panasnya... Beuh... Enak banget!
Aku berjalan ke dapur menyiapkan aku memasak untuk makan malam buat Ryan biar dia ngak mengamuk dan mencari gara gara lagi, kemudian setelah itu aku buat bandrek pamas demgan memasukkan telur ayam kampung di dalamnya.
"Hm. Enak nih.."
Aku melihat ke arah jam dinding.
Wah, udah malam banget. Jam 9.
Hm. Si Ryan mana?
Kok belum pulang?
Aku malam sendiri dan kemudian menenangkan diri dengan minum bandrek.
Brak...
Pintu terbuka tiba tiba.
Ryan berjalan masuk dengan linglung seperti tak dapat menyeimbangkan tubuhnya dan matanya terbuka dan tertutup seperti orang mengantuk.
Aku menghampirinya dengan sebelumnya menutup pintu. Dan kemudian membopongnya karena dia sendiri hampir terjatuh.
__ADS_1
"Kau tak apa?" Tanyaku. Ryan menatapku tajam.
"Em maksudku Tuan." Koreksiku.
Aku mendudukkan dia di sofa namun dia kemudian menarik tanganku, aku mencium ada bau alkohol. "Apakah Tuan mabuk?"
Dia tak menjawab. Malah memelukku erat. "Diam. Kau ribut sekali!" Kesalnya.
Aku memegang wajahnya yang memerah, "Lebih baik aku mengantarmu ke kamar."
Dia menarikku lagi saat aku hendak bangkit dan membuat aku terduduk di pahanya.
Dia mengunci pergerakanku dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, "Kepalaku pusing. Aku haus."
"B-baiklah. Aku akan mengambil minum, kau menyingkirlah sebentar,"
ucapku sambil menggeser tangannya yang masih mengunci pinggangku.
Dia berdecak dan menyandarkan tubuhnya.
Lebih lemah karena mabuk aku dapat melepaskan diri dan kemudian mengambil air putih untuk di minumnya.
Dia meminum air putih yang ku berikan. Dan wajahnya lebih sadar sedikit dari yang tadi sekarang setelah beberapa menit.
Kemudian aku memberikan bandrek yang seharusnya milikku tadi. Tapi sepertinya dia lebih membutuhkannya.
Dia meminum sedikit, "Ark. Gak enak!"
Huh?
Emangnya aku salah apa?
"100 kali." Kurangnya.
Lah? Wait... What?
"50.. 10 habis..." Katanya lagi ngeyel sambil garuk garuk tengkuknya.
Seriusan, dia makin ngak jelas kalau mabuk.
Aku duduk di sampingnya dia langsung memelukku, "Ngantuk." Katanya singkat.
Aku menatapnya aneh, "Mendingan aku antar ke kamarmu ya?"
"Kenapa?" Tanyanya.
"Lah, kok nanya? Ya biar kamu bisa tidur lah." Ucapku rada kesel.
Dia menggeleng, "Aku tidur di sini saja," ucapnya.
Aku mengangguk, "Ya udah terserah."
Aku pergi meninggalkannya sedang dia langsung tertidur di sofa.
__ADS_1
Aku sungguh tak tega jadinya.
Apa mendingan aku bantuin dia sampai ke kamar kali ya?
Setelah lama berfikir, ya udahlah bawa aja dia ke kamarnya.
Dengan bersusah payah aku mengangkat tubuhnya untuk pindah.
Dia tertidur pulas.
***
Aku membaringkan tubuhnya di ranjang dan kemudian aku pergi.
Aku kembali ke kamarku sendiri.
Aku kembali berfikir, tumben sekali dia mabuk mabukan untuk suatu hal. Ntah kenapa aku berfikir kalau dia sebenarnya punya banyak masalah.
***
"VIE!!!" jerit seseorang dari balik pintu.
Aku membuka pintu kamar, Ryan diam dan kemudian mencari sumber-sumber suara.
"VIE! KAU HAMPIR MEMBUNUHKU DENGAN MINUM ITU." Ryan menunjukkan gelas kosong bandrek semalam, "Siapa yang bilang kau boleh membeli rempah rempah?! Aku ALERGI!!! cepat buang beserta gelasnya atau kau yang aku hukum."
"T-tapi kan aku ngak tau.."
Dia menatapku datar dan tajam, "Dasar babu tak berguna! Cepat bereskan semua!" perintahnya sangat mencekam.
Deg!
Aku langsung mengambil gelasnya dan membuangnya. Kemudian mengambil air putih beserta obat alergi serta memberikannya padanya.
Prang
Dia menampar tanganku marah. "Apa kau tak punya otak?! Aku sudah menangani alergi ku sendiri tadi malam! Berapa susahnya diriku melakukannya sendiri sedang kau tidur dengan nyaman tak berdosa!" hinanya dengan mata sangat mengintimidasi.
Aku menatapnya marah, "Kan aku sudah bilang. Aku tak tau kalau kau alergi. Kau juga ngak pernah bilang ke aku, gimana aku mau tau coba?!"
Matanya semakin membulat, "Oho... Mulai melawan huh?!"
Dia melipat kedua tangannya dan menatapku tajam, "Cat seluruh rumah ini dengan warna putih tanpa tersisa satupun titik yang terlewatkan! Dan juga jangan lupa membersihkan rumah dan seluruh pekerjaan kantorku!" Dia menunjuk ke arah bumi dengan menekan kalimatnya dengan giginya merapat marah sambil tersenyum kejam, "Selesaikan hari ini, jika tidak terima hukum segar lainnya yang akan ku sediakan!"
****!
"Gak terima huh?" Dia menunjuk ku dengan dagunya, "Push up 100 kali sekarang." Dia tersenyum miring.
Aku menutup mataku menahan geram dan kemudian membuka mata dan tersenyum lebar ku paksakan, "Baik Tuan." Kataku dengan gigi merapat. Aku langsung menghentikan senyumanku dan melakukan push up di hadapannya.
Sialan memang orang satu ini!
Argh!!!
__ADS_1