
Vie tengah fokus dalam mata pelajaran yang sedang di jalaninya sekarang. Sedangkan Fian... Ah... Dia sibuk melamun di kelasnya yang bersebrangan dengan kelas Vie.
Antara koridor dengan kelas hanya di batasi oleh dinding beton setinggi pinggang orang dewasa sedangkan terusannya ke atas di batasi oleh kaca transparan. Hal tersebut otomatis membuat Fian dapat melihat Vie kapanpun dia mau.
Karena merasa ada yang melihatnya, Vie menoleh ke arah Fian. Fian yang melihat dirinya di perhatikan tersenyum miring dan mengedipkan sebelah matanya.
Deg!
Jujur Fian sangatlah tampan membuat Vie hampir serangan jantung untuk sesaat. Tapi mengingat Fian adalah lelaki bejat... Seumur umur Vie akan selalu membencinya.
Vie kembali melihat kedepan dengan kaku membuat Fian yang di seberang sana sedikit terkekeh dengan keluguan Vie.
"Padahal dia suka padaku, tapi malah malu malu. Cih.." kekeh Fian dalam hati.
Fian tetap saja melihat Vie.
Vie mencoba mengatur jantungnya yang berdegup kencang. "Fokus Vie... Fokus..." batin Vie.
Setelah cukup mengatur jantungnya dia kembali menulis segala mata pembelajaran dengan fokus.
Ntah apa yang di miliki Vie membuat Fian masih terus menatapnya tak bosan. Dia suka melihat wanitanya fokus pada suatu hal, terlihat lebih... Menggoda mungkin?
Ntah lah... Fian sungguh tak sabar untuk segera menciumnya.
***
Jam istirahat berbunyi dan seluruh murid di kelas berhamburan ke luar kelas.
Vie tak peduli dan sibuk mengerjakan tugas yang di berikan guru tadi. Dia tau di rumah nanti dia takkan bisa mengerjakan soal dengan fokus... Kau tau lah kenapa...
"Vie." Panggil seseorang dari arah depan. Orang tersebut datang menghampiri Vie.
"Kenapa Hans?" Tanya Vie pada orang tersebut.
Hans. Lelaki ini sudah lama ingin mendekati Vie. Bukan karena sungguh menginginkan Vie, tetapi hanya ingin menjadikan Vie wanita pemuas nafsunya sama seperti yang di lakukan Fian terhadap Vie.
Namun beda konsep pendekatan...
Hans mendekati dengan cara cara manis untuk memikat perhatian. Sedangkan Fian main nyosor...
Hm, kira kira itulah perbedaan mereka.
Seperti ada radar signal di otak bagi pria bejat seperti mereka. Signal itu akan dapat mendeteksi dengan tepat dan benar untuk mendapatkan wanita mana yang masih perawan seperti Vie.
Cih! Brengsek!
"Aku boleh duduk di sebelahmu?" Tanya Hans.
Vie mengangguk polos, "Silahkan."
Hans duduk di sebelah Vie dengan mendekatkan diri pada Vie, "Aku ngak ngerti cara ngerjai ini. Ajarin..." Hans tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya yang membuat dia tambah tampan.
Vie yang anteng anteng aja pikirannya dengan polos menjelaskan ke Hans.
Tak melewatkan kesempatan ini Hans semakin mendekat dan bahkan mendekatkan kepalanya dengan Vie seolah-olah fokus menatap pembelajaran di buku Vie. Vie yang masih fokus mengajarkan Hans tak sadar dan masih tetap fokus belajar.
Hans terbius dengan aroma tubuh Vie yang begitu memikat. Lavender... Harum Vie sangat nikmat.
Hans menoleh perlahan ke arah wajah Vie yang sungguh sangat dekat ini. Melihat bibir Vie yang ranum.. sungguh menggoda ingin di *****.
Vie menoleh ke arah Hans dengan polos sedang pikiran Hans sudah traveling ntah ke mana.
__ADS_1
"Hans?" Tanya Vie.
Pertanyaan tersebut tak kunjung di jawab Hans karena masih terbius.
"Hans?!" Vie sedikit menaikkan volume suaranya.
"Ha? Iya? Kenapa?" Hans tersadar.
"Ngerti kan yang aku ajari tadi?" Vie menunjuk bukunya. "Tuh sampai udah selesai aku ngerjakan tugasnya. Kalau mau salin jawaban ya salin aja." Ucap Vie polos.
Hans tersenyum kecil, "Jadi pingin tiduri..." Batin Hans tak tau diri.
"Ya aku ngerti Vie, gak sudah salin buku kamu aku juga udah bisa ngerjain sendiri kok nanti," jawab Hans manis menutupi pikiran bejatannya.
Bruk..
Meja mereka di gubrak oleh seseorang membuat mereka mendongak ke atas sumber pelaku.
Fian..
Fian sungguh panas dengan kejadian ini. Bukan karena cemburu yang mengatas namakan cinta. Tapi lebih tepatnya karena Vie yang bahkan belum pernah di cicipinya malah ingin di sambar oleh Hans yang notabenenya juga ingin mendapatkan perawan.
Cih!
"Hm. Kau mulai berani ya," Kata Fian dengan tatapan tajam ke arah Vie.
Vie yang tau Fian sangatlah marah segera berdiri dan memcoba menjelaskan, "Fian, aku cuma ngajar.."
"Diam!" Fian makin melotot.
Mau tak mau Vie mengikuti Fian.
Fian menatap Hans dengan tatapan menusuk. "Dia babuku. Paham."
Mendengar kalimat itu Hans terdiam.
Kalah telak.
Vie hanya diam dan menatap Fian bercampur aduk dengan rasa emosi karena di hina sebagai babu. Tangan Vie mengepal keras namun kemudian melemah saat menyadari bahwa yang di katakan Fian adalah benar kenyataannya.
***
Fian dan Vie hanya diam di dalam mobil saat perjalanan pulang ke rumah.
Fian terus dengan perasaan dongkol menatap ke arah jalan lewat jendela mobilnya dari arah sebelahnya.
"Lihat aja, aku akan memperkosamu nanti!" Batin Fian.
Jantung Vie berdegup kencang takut. Dia tak tau apa yang akan Fian lakukan terhadapnya nanti.
Sial... Apa yang harus di lakukan olehnya?
***
Fian masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Vie karena memang Fian hanya memfasilitasi tempat tidur bersama dengannya.
Emosi Fian ntah kenapa semakin memuncak saat mengingat kejadian tadi.
Dengan keberanian yang sangat besar, Vie menoel noel punggung belakang Fian. Fian menoleh.
"A-aku... Minta maaf. Sungguh aku minta maaf. Aku hanya belajar tadi... Serius Fi... Aku serius..." Kata Vie dengan wajah penuh rasa bersalah. Bahkan sebenarnya Vie tak tau apa masalahnya kenapa dia harus minta maaf... Kan dia cuma budak, apa masalahnya dia berteman dengan orang lain. Gak ada sangkut pautnya sebenarnya bukan?
__ADS_1
"Fi? Dia memanggil ku Fi?..." Batin Fian. Seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya sekarang.
"Fi, aku cuma belajar... Serius..." Vie mengangkat jarinya berbentuk V tanda dia serius.
Fian semakin gemas menatap Vie. Tapi dia ingat harus marah, jadi Fian memutus untuk memalingkan wajahnya ke arah lain. "Diam!"
"Fi...." Wajah Vie semakin memelas, takut takut Fian akan melakukan hal buruk padanya nanti.
Fian langsung menggendong Vie dan menindihnya di atas ranjang.
Vie terkejut dan hampir kehabisan nafas karena serangan mendadak ini.
Fian menatap lekat Vie, "Awas kalau kau ulangi. Aku takkan mengampunimu."
"I-iya loh!..." Kata Vie dengan suara tegas kesal namun dengan ekspresi grogi. Vie mendorong tubuh Fian tapi Fian mengeratkan pelukannya.
Fian menatap Vie sungguh gemas.
Fian mencium bibir Vie dengan cepat dan mengeratkan pelukannya.
Perasaan aneh kembali timbul. Jantung Fian berdegup kencang, ntah karena apa dia pun tak tau. Dia menghentikan ciumannya sambil menatap Vie yang wajahnya sungguh memerah sungguh lucu.
Fian menyentuh bibir Vie, "Coba panggil namaku."
Vie membuang wajahnya yang terlihat sungguh merah memalukan, "Aku bukan guru yang sedang meng-absen!"
Fian tersenyum kecil, "Kau bodoh ya? Jadi kalau temanku memanggil namaku berarti dia seorang guru yang meng-absen gitu?"
"Diamlah! Banyak bacot!" Vie mendorong tubuh Fian terus. "Sana loh!!!"
Sungguh dia sangat malu dan wajahnya semakin memerah.
Fian jadi semakin senang menggoda Vie. "Gak mau mandi dulu?"
Vie sadar dari pulang sekolah tadi belum mandi. "Terserah ku!" Vie mendorong Fian namun tak di lepas oleh Fian.
"Mandi bareng?"
Mata Vie terbelalak. "GILA YA!..."
Fian mendekatkan bibirnya ke ceruk leher Vie. Menciumnya perlahan dan kemudian menjilatnya membuat Vie meremang.
Sial!
Vie mendorong keras tubuh Fian saat rangkulan Fian mengendur karena mencium leher Vie. Tubuh Vie terlepas dan dia langsung bangkit berdiri dan berlari ke arah kamar mandi. "SIALAN!!"
Sedangkan Fian tertawa terbahak bahak.
Fian berhenti tertawa dan di akhiri dengan senyuman miring, "Aku takkan pernah melepasmu Vie..."
Vie tak perduli!
Sudah 2 hari dia tinggal di kamar Fian dia tak pernah tidur dan hanya duduk di meja belajar Fian.
Sungguh menjengkelkan!
Dia takkan mau tidur di satu ranjang dengan Fian atau apapun itu!
Berada di kamar Fian saja sudah menakutkan. Bagaimana mungkin dia mau melakukan hal yang akan memancing Fian melakukan hal aneh lainnya?!
Ck! Sial!!!!
__ADS_1