
...Ryan POV...
Rasanya tubuhku seperti remuk. Seperti kekurangan seseorang dan rasanya sangat menderita. Aku bahkan tak selera untuk makan dari pagi kemarin, lemas sekali rasanya.
Aku melihat ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi dan aku masih bergadang. Aku melihat diriku dari pantulan cermin yang ada disebelahku, aku memegangi daguku, kumisku sudah mulai timbul dan rambut jenggotku mulai tumbuh pula.
Ah, aku tak perduli. Sungguh malas rasanya.
Aku berjalan ke arah ranjangku, tidur terlentang dengan nafas berat. Mataku mulai tertutup dan aku pun tertidur.
Henyap dan hening terasa. Kemudian aku mulai masuk alam mimpi, mataku terbuka dan melihat sekitar.
"Ryan," panggil seseorang dari sebelahku membuat aku menoleh. Aku tersenyum melihat kehadirannya.
Wanita itu lagi, hadir dalam mimpiku...
Aku langsung memeluknya, "Rindu kamu..."
Dia menatapku kesal, "Kamu tuh ya, jadi cowo itu jangan begini. Masa berewokan gini. Ngak ada rapi rapinya tau..."
Aku terkekeh, "Kenapa kamu jadi marah gitu cuma gara-gara brewok ini? Memangnya salah apa?"
"Ya jelas salah. Liat tu, ngak ada rapi rapinya." Dia melipat kedua tangannya di dada dan berbalik badan kesal, "Tau ah. Aku tak peduli."
Aku terkekeh singkat dan membalikkan badannya memeluknya lagi, "Iya nanti aku cukur."
"Janji?"
Aku mengangguk.
__ADS_1
Dia tersenyum kecil, "Hm, ya udah kalau gitu."
Dia hendak menyelimuti tubuhnya dan tertidur namun ku tahan. Aku menarik selimut menutupi tubuh kami setelah aku melingkarkan kakiku di pinggangnya, "Cium..." Pintaku.
"Gak. Aku mau tidur."
Aku mendusel dan berlagak manja, "Hm... Gak boleh. Cium dulu."
Dia melihatku dan memutar bola matanya malas. Dia melingkarkan tangannya di leherku dan...
Cup
Dia menciumku. Sebelum dia melepaskan ciuman singkatnya aku menahan tengkuknya dan memperdalam ciuman.
Sungguh wanita ini membuatku gila.
Aku tak ingin berjumpa dengannya hanya dalam mimpi Tuhan...
Mungkin ini gila, tapi aku mencintainya.
Aku menatapnya lekat, "Aku sayang kamu."
Dia hanya tersenyum kecil dan memelukku.
Aku menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya, "Sayang, aku tak ingin bangun lagi sekarang. Aku hanya ingin kamu."
Dia menatapku lekat, "Apa aku tak nyata bagimu?" Dia menatapku kecewa, seakan aku meragukan dirinya.
Aku menggeleng dan mengelus kepalanya, "Bukan gitu sayang... Aku mencintaimu dan itu begitu nyata bagiku. Namun... Aku tak ingin kita bersama hanya dalam mimpi saja. Aku ingin kita bersama selamanya."
__ADS_1
Aku memeluknya, "Aku tak ingin kau pergi. Kumohon... Teruslah di sini."
Nginggg
Tiba-tiba terdengar suara memekikkan telinga, badanku teecampak dari padanya begitupun dia.
Kami sakit tatap ke kebingungan. Kemudian dia menatapku sedih, "Keadaan mu semakin buruk Ryan. Tubuhmu melemah karena pola hidupmu yang tak teratur. Semakin tubuhmu lemah, maka aku yang ada di alam mimpimu juga akan semakin menjauh dan terpisah. Dan itu mengakibatkan kita takkan berjumpa lagi selamanya,"
Deg!
P
andanganku mulai kabur dan semua semakin lama semakin meredup, gelam dan kosong
***
Mataku kembali terbuka perlahan. Sedikit silau dengan siluet sinar yang menerpa mataku, kemudian mulai terasa normal, "Aku di mana?" tanyaku dengan wajah datar.
Mereka yang memandangiku penuh harap kini merasa tenang, "Syukurlah Tuan sudah sadar."
Aku menatap mereka bingung, apa yang terjadi?
"Tuan, anda kemarin terlihat sangat pucat saat kami mencoba membangunkan Tuan. Namun saat kami memanggil Tuan agar segera bangun, Tuan tidak menjawab dan tidak bangun Tuan. Kami sangat panik. Sehingga kami menurut langsung membawa Tuan ke Rumah Sakit."
Aku menghembuskan nafas berat saat mendengar penjelasan dari para pelayanku.
Wanita itu benar, keadaan tubuhku tidak baik baik saja. Aku harus segera memulihkan tubuhku agar dapat kembali bertemu dengannya.
Ini sungguh gila. Aku tak ingin kehilangannya...
__ADS_1