
Author POV
Vie keluar dari mobil Fian, Vie menoleh ke arah Fian yang juga segera keluar setelah dia keluar, "Ngapain?"
"Ya mau masuk lah." Ucap Fian simpel.
Vie segera menghardik, "Gak!"
"Kenapa?"
"Iya lah. Kita ngak ada hubungan apa apa lagi. Jadi jangan pernah ganggu aku dan anakku lagi." Tegas Vie. "Ini pertemuan yang terakhir, aku ingin bercerai!" Ucap Vie tajam.
Seperti tertusuk pisau, jantung Fian terasa sangat ngilu mendengar kalimat itu.
"Jangan membuatku marah." Ucap Fian berjalan mendekati Vie.
"Untuk apa kau marah? Bukannya kau juga sudah menikah lagi. Urusin saja istrimu itu." Ucapan Vie itu membuatnya terkejut.
"Bagaimana kau tau.."
"Menikah? Tentu saja aku tau. Claire yang memberitahukan semuanya padaku." Ucap Vie dengan cepat dan akurat. Dia juga sudah muak dengan tingkah Fian.
Ntah kenapa rasanya Fian sangat panik. Dia takut Vie akan marah dan membencinya. Tapi kenapa dia harus takut? Bukankah dia juga berusaha untuk melupakan Vie?
'Kenapa perasaan ini begitu sulit?!' Batin Fian.
"Vie aku bisa jelasin."
__ADS_1
"Sudahlah. Aku juga sudah lama melupakanmu. Kita bukanlah jodoh, kau bukanlah cinta sejati yang ku temukan." Ucap Vie membuat dada Fian semakin sesak.
Vie membuang wajahnya dengan tatapan datar dan dingin. "Akan ku atur jadwal ke meja persidangan dalam waktu dekat ini."
"Jangan mengada ngada!" Fian membentak Vie. Dia sungguh membenci setiap kalimat yang di ucapkan Vie sedari tadi.
Seketika itu juga ponsel Vie bergetar
Ada seseorang yang memanggilnya.
'Ana?' batin Vie.
Vie mengangkat ponselnya, "Ya Ana? Ada apa?"
"Bos... Bos... Andra.." Ana mengucapkan setiap kata dengan megap megap membuat Vie seketika panik terutama mendengar nama Andra di sebutkan.
"Iya Ana. Andra kenapa?!" Kata Vie dengan serius.
Deg!
Jantung Vie seakan terhenti. Dia menghirup nafas panjang panjang dan menjadi gelagapan.
"Ada apa?! Katakan!" Ucap Fian pada akhirnya saat melihat Vie yang panik total.
"Anakku anakku.." Bibirnya keluh.
Fian langsung panik mendengar kalimat Vie. Itu berarti anaknya juga bukan?
__ADS_1
Fian menarik tangan Vie untuk segera masuk ke dalam mobilnya. "Kita berangkat sekarang!"
Seperti melupakan kejadian pertengkaran mereka barusan Vie mengikuti Fian.
***
"Ana!... Andra di mana?!... Andra mana?!" Teriak Vie saat melihat Ana yang tengah duduk di depan kamar IGD.
Ana dengan mata sembab segera memeluk Vie untuk menenangkannya. "Andra sedang di tangani kak... Tenangkan diri kakak dulu."
"Gimana saya bisa tenang?! Kenapa bisa tiba tiba Andra di sini?! Kecelakaan gimana?!... Hu hu hu... Anakku..." Vie sangat ketakutan hingga badannya bergetar.
Ana membawa Vie untuk duduk di bangku ruang tunggu dan perlahan mengelus punggung Vie. "Sabar kak... Semua pasti bakalan baik baik aja..." Isak tangis Ana pun pecah. Ana sudah menganggap Andra sendiri sebagai adiknya, sungguh sangat sedih membayang dengan apa yang terjadi pada Andra.
"Ana... Kenapa ini bisa terjadi?..." Suara Vie semakin melemah tak kuasa membayangkan anaknya yang masih kecil mengalami kecelakaan.
Critt cit...
Suara decitan kursi roda membuat spontan Vie, Fian dan Ana menoleh ke arah sumber suara.
"Mama?" Ucap Fian saat melihat Andini.
Andini juga terkejut melihat Fian dan Vie berada di depan IGD. Tempat rawatan anak kecil yang menolongnya dari kecelakaan maut tadi siang.
Fian segera menghampiri ibunya, "Apa yang terjadi pada Mama? Kenapa pakai kursi roda segala?"
Arah mata Mama Fian tertuju pada Vie, "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Mama Fian selidik.
__ADS_1
Vie membuang wajahnya, "Anak saya ada di dalam sana. Mohon jangan bertanya apa apa lagi, saya tak ingin hilang kendali." Ucap Vie singkat membuat Andini terdiam, dia membungkam mulutnya dengan jantungnya berdegup kencang.
'Anak yang menolong ku adalah anaknya?' Batin Andini.