
catatan penulis:
intinya gini guyss... semakin banyak yang like, comment, dan beri hadiah maupun vote aku jadi semakin rajin up ceritanya... bahkan bisa double up...
so... jangan lupa dukungannya ya sayy... jangan jadi pembaca gelap doang guys... karena kalau gelap gelap mah ngak bagus untuk kesehatan. wkwk...
---------------------------------------------------------------------------
"Hari ini kau ikut bersamaku ke pesta pernikahan kerajaan. Jangan banyak bicara dan bertindak. Cukup diam dan ikuti aku saja." Katanya datar sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Aku mengalihkan pandangan dari kerjaan ku sangat bertumpuk ini, dia sangat tak berprikemanusiaan kalau memberi tugas.
"Aku cape. Pergi aja sendiri sana." Jawabku malas dan kembali mengerjakan tugas.
"Tak ada penolakan."
"Ish.. Tugasmu ini udah terlalu banyak. Jangan nyusahi kenapa sih!" Kataku kesal.
"Tinggalkan saja kerjaan mu sekarang. Dan ikuti aku."
Aku mengacak rambutku kesal, "Aku belum mandi... Gak malu apa punya pasangan bau badan?!"
"Listen. Pertama, kau bukanlah kau bukan pasangan ku, tapi hanya jadi babu yang harus bawa pakaian ku dengan telaten. Yang kedua, walaupun kau babu ya kau harus mandi lah! Dasar pribumi jorok." Sindirnya.
Nyesek banget jir..
Huf... Sabar Vi... Sabar...
"Iya aku mandi! Cerewet!"
Aku langsung mengambil pakaianku seadanya. Baju dress putih simpel dan dan pakaian dalam putih agar tak tembus dengan baju.
"Baju apa itu. Ganti."
Aku sedikit terkejut saat dia tiba tiba ngomong.
"Apa sih. Ya mau gimana lagi, aku ngak ada baju." Ucapku kesal.
__ADS_1
Dia menunjuk ke arah meja nya dengan dagu, "Itu. Pakai baju yang ku sediakan."
Aku munyun munyun mengejeknya dengan berbisik, "Nye Nye Nye... Pakai baju yang ku sediakan... Ble ble ble"
"Aku dengar," Katanya membuat aku kembali kaget.
"Iya iya." Kataku kesal.
Dan aku pun mengambil bajunya dan langsung bergegas ke kamar mandi.
***
Aku memperhatikan tubuhku di cermin yang ada di kamar mandi. "Aku pikir si bule satu ini isi otaknya bokep semua dan akan membeli baju yang nampak belahan dada gitu. Rupanya ini baju yang tertutup. Syukurlah."
Aku keluar dari kamar mandi dan melihat dia tengah menulis nulis laporan kerjanya sambil menungguku.
"Ryan. Aku udah siap."
Dia menoleh ke arahku, wajahnya datar dengan kemudian tersenyum miring. "Baju mahal tetap aja seperti babu."
Dia berjalan ke arahku dan berhenti tepat di hadapanku, "Bawa barangku yang ada di belakang. Dan cepat ikuti aku." Katanya singkat dan pergi begitu saja.
Aku memukul mukul udara kesal.
Kesel banget tau ngak!!!
***
Aku duduk di kursi paling belakang sedangkan orang bangsawan dan kaum terpandang ada di bagian depan.
Ryan mengandeng seorang wanita berkelas dan meninggalkan aku sendiri di belakang.
Nasib seorang babu memang. Terserah lah.
Walaupun aku dari jarak jauh, tapi aku masih dapat melihat ke arahnya.
Aku melihat ke arahnya tengah berbincang dengan seorang pria tua. Seperti 60 tahunan setelah beberapa saat acara tadi.
__ADS_1
Ryan tampak kesal dan kemudian pergi dari ruangan pesta. Bahkan wanita yang di gandengannya tadi di tinggal begitu saja dan malah ikutan di marahi olehnya.
Aneh
Aku mengikutinya, takut takut di tinggal. Ya kali, aku kan ngak tau cara pulangnya ya kan.
Lama mencarinya akhirnya aku melihatnya sedang berdiri di dekat taman sendirian.
Aku menghampirinya sambil berjalan perlahan.
Aku berdiri di sebelahnya. "Kenapa?"
Dia mengendus dan, menatapku datar. "Aku beri tau juga kau takkan paham."
"Idih.. sombong amat." Aku mengedikkan bahu, "Ya terserah aja sih kalau ngak mau cerita ya ngak usah. Ngak usah ngerendahin."
Dia menatapku datar, "Tentang Perdagangan Internasional, kami memiliki perbedaan pendapat."
Aku ber-oh ria kemudian menatanya datar. "Tadi katanya ngak mau kasih tau, di kasih tau juga nya...
Hu, dasar ngak jelas." Ledekku.
"Aku kasih tau karena aku yakin kau takkan mengerti. Lihatlah sekarang, kau tak mengerti bukan? Cih." Hinanya.
"Ya mengertilah, kan aku yang ngerjain tugasmu. Gimana sih? Masa ngak ingat. Dasar pikun!" Hinaku balik.
Dia tersenyum kecil dan merangkul pinggangku dengan satu tangannya yang lain mengarahkan tanganku untuk melingkar di tengkuknya. "Kenapa kau sangat menyebalkan huh?"
"Biarin." Cetusku.
Mataku terbelalak saat dia menciumku tiba tiba, "Hukuman karena terlalu banyak bicara."
Dia kembali menciumku lembut beberapa saat karena aku langsung menolaknya. "Kenapa kau ambil First Kiss ku lagi!!!" Jeritku.
"Because it's always me and must be me." Katanya singkat. "Dasar Babu." Hinanya lagi dan kemudian menciumku ntah udah keberapa kalinya. Setelah itu dia melepaskan ciuman dan dekapannya, "Bawakan barang barangku. Kita pulang sekarang." Sambungnya seperti tak pernah terjadi apa apa tadi. Dia sama sekali tak merasa bersalah berlenggak meninggalkan ku.
"Dasar anak setan, kutu kupret, hantu belau!!!!!!" Kutukku, tapi tetap saja dia tak pernah perduli.
__ADS_1