
Catatan penulis:
Hai... tadi sebelumnya aku udah janji up cerita hari ini juga kan? jadi aku akan menepati janjiku 😁👍...
Bantu aku untuk semakin semangat update cerita ya... dukungan kalian adalah kekuatan bagiku...
makasih atas perhatiannya ya guys... Love you so much 🥰🙏...
besok kalau semakin banyak notif like comment dan vote, aku bakalan beneran Crazy up dan menyenangkan hati kalian dengan up eps yang banyak 😆✌️
thanks guys... happy reading 🤗✌️
---------------------------------------------------------------------------
Brugh
Aku terbangun saat suatu benda empuk menimpuk wajahku. Aku terbangun dengan ngusap wajah. Aku membuka mata dan melihat Ryan menatapku datar dan tajam. Dia yang menimpuk ku dengan bantal, walau tak sakit tapi aku cukup kesal.
"Kenapa. Tak suka?" Tatapan dingin dan menusuk di lontarkannya padaku.
Deg!
Sepertinya dia masih marah mengenai yang kemarin.
Aku terdiam.
Dia menlemparkan tasnya ke hadapanku dan langsung ku tangkap. "Panggil aku Tuan dan jangan pernah menyentuhku. Pekerjaan mu rapikan seluruh rumahku karena aku telah memecat semua pekerjanya. Kerjakan juga pekerjaan kantor dan siapkan semua peralatanku setiap paginya." Ucapnya datar.
Aku mengaga, huh?
"Jika kau tak terima, aku akan menghukummu dengan cambuk dengan algojo yang melakukannya."
Aku terkejut melihat perubahan Ryan 180 derajat dengan Ryan yang sebelumnya ku kenal.
Jantungku berdegup kencang, takut melihat sorot matanya seakan menunjukkan kematian dan dendam.
Aku menunduk dan mengangguk.
"Kerjakan semua dan aku kembali harus telah selesai. Paham."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Dia pergi dan membanting pintu.
Aku mengusap wajahku, bagaimana aku bisa bertahan di sini? Aku kabur juga tak ada gunanya, dia akan menangkapku dan akan memberikan hukuman lebih bukan?
Ah.. dari pada membuang waktu lebih baik aku mengerjakan semuanya dengan cepat.
***
Aku terkapar di lantai setelah membersihkan rumah dan segala isinya berjam jam. Rumah ini cukup besar dan membuat aku hampir mati mengerjakannya.
Bersyukur pelayanan sebelumnya telah membersihkan rumah ini kemarin dengan teliti sehingga terasa lebih membantuku.
Aku melihat ke arah jam. Pukul 3 sore.
Damn! Aku bahkan belum mandi sama sekali dan pekerjaan kantor Ryan juga belum selesai!
Aku kalang kabut langsung ke kamar mandi membersihkan diri. Mengerjakan tugas kantor Ryan dan akhirnya bisa bernafas lega.
Dia sangat gila menyuruhku mengerjakan tugas yang tumpukkannya setinggi 40 cm ke atas dengan tumpukan sebanyak 3 tumpukan.
Aku bersender di kursi sambil bernafas menghirup oksigen lebih banyak ke paru paru ku.
Aku menoleh ke arah jam dinding kamar.
Kedubruk...
Terdengar suara tendangan keras sesuatu dengan kuat.
Aku keluar kamar dan melihat Ryan dengan marah dan kursi yang terbanting ke lantai.
"Kau ingin membunuhku?!" Amarahnya padaku membuat aku terlonjak kaget.
"Mana makan malam ku?! Kau melalaikan tugas mu!" Jeritnya.
Mataku terbelalak takut.
Ada apa dengan Ryan?
Aku segera ke dapur dan memasak sesuatu. Sungguh aku takut, namun aku tak dapat melawan. Aku memang salah karena pernah berduaan dengan Dion, yang aku sendiri bahkan tak tau lelaki yang di maksud Ryan kemarin itu siapa dan aku bahkan masih bingung apakah Dion adalah manusia atau bukan?
Aku melihat ke arah dapur. Sungguh aku tak terlalu paham mengenai makanan, yang aku tahu hanyalah nasi goreng dan telur karena hanya itu makananku selama ini di kehidupanku sebelumnya, aku tak pernah memasak yang lain karena tak ada uang.
__ADS_1
Kepalaku semakin buntu saat Ryan kembali menggubrak meja.
Aku melihat bahan yang sangat mahal dan aku sangat tak mengerti bagaimana cara memasaknya. Bahkan bawang dan cabai bahan pokok buat nasi goreng tak ada.
Yang ada dedaunan sayur yang aku tak tau namanya. Paprika. Dan bahan aneh lainnya..
Astaga... Aku mau buat apa?
Aku ingat sesuatu.
Burger!
Aku pernah memakannya. Tentu aku tau apa yang ada di dalamnya!
Aku mengambil roti, membelahnya. Kemudian aku memanaskan wajan dengan sedikit mentega dan kemudian aku meletakkan potongan roti itu di sana. Sembari itu aku mengocok telur dan mengambil sosis yang ukurannya sebesar kepalan tangan melonjong. Aku memotongnya setebal biasanya untuk daging yang ada di lapisan burger. Aku mengangkat roti dan meletakkannya dalam piring.
Kembali memanaskan mentega dan menggoreng telur, setelah itu aku menggoreng daging sosisnya pula dan kemudian ku sisihkan mereka dan kemudian mematikan kompor.
Aku mengambil daun seledri dan melapisi roti kemudian mengiris tomat dan timun serta meletakkan daging dan telur. Setelah itu aku tutupi lagi dengan irisan tomat dan timun kemudian penutupnya roti.
Aku memberikannya pada Ryan dan melihat ekspresinya saat memakan itu.
Pertanyaanku, memangnya burger udah di temukan belum ya?
"Hm." Dia berdehem setelah mengunyah dan menelannya sekali suapan. Kemudian dia menatap tajam, "Kenapa kau memandangku. Pergi sana!"
Aku terlonjak kaget dan kemudian pergi.
"Heh!"
Aku berhenti dan kembali menoleh saat Ryan memanggil, "I-iya Tuan?"
"Kau mau ke mana?" Tanyanya
"Ke kamar Tuan." Jawabku.
"Pergi ke kamarku dan kau tidur di kamar pembantu mulai hari ini dan kedepannya."
Aku terdiam tanpa kata.
Ryan sungguh menganggap ku sebagai budak yang sangat rendah sekarang. Rasanya aku ingin menangis namun aku tahan.
__ADS_1
Aku mengangguk dan kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan kamar Ryan. Aku pergi ke kamar pembantu tanpa komentar apapun.