
...Author POV...
Claire berjalan menuju gerbang pintu rumah bersama Dion. Sedari tadi Claire melihat Dion sangat sedih setelah pulang dari taman, "Kek, sudahlah. Ngapain juga mikirin cewe yang begitu."
Claire melihat kakek dengan serius dan Kakek membalas tatapannya, "Beneran kek. Dia itu cewe standard. Banyak mah cewe kaya dia. Udah deh lupain aja," ucap Claire mencoba memberi penghiburan.
Dion terkekeh singkat dan kemudian mengacak rambut sang cicit dari cicitnya itu, "Kau tau. Kau cici paling cerewet yang pernah ada."
Claire tersenyum kala melihat Dion mulai tersenyum tadi.
"Kau dari mana. Tak bisakah kau tak menyusahkanku untuk sehari saja." Suara bariton itu membuat atensi Claire dan Dion menatap ke arah sumber suara.
Claire berdecak malas, "Apa sih Bang, baru pulang juga." Ucap Clair malas melihat tingkah laku abangnya Brandon.
Claire kembali melihat Dion, "Kek, kita langsung masuk aja." Ucapnya mengajak Dion masuk.
Set
Tangan Brandon menahan dada Claire, menghalangi dia melanjutkan langkahnya, "Heh. Ini kakek siapa?" tanya Brandon.
Brandon menggelengkan kepalanya dan menatap adiknya penuh selidik, "Kau culik kakek orang ya?"
Ctak
Tersulut emosi, Dion menyentil jidat Calire sebelum Claire sempat menjawabnya, "Makin ngak waras kau ya. Ini kakek kakek bego.. Begitu banyak cewe cantik di luar sana dan kau malah milih kakek kakek? Curiga anjir, KAU NGAK PENYIMPANAN *** KAN CLAIRE?!" Emosi Brandon membuat Claire segera menutup mulut Brandon, takut takut ada orang yang salah tanggap dan memiliki otak secekat Abangnya ini.
"Woy setan! Aku normal bangsat!
Aku tadi utang budi sama nih Kakek, jadi aku mau kasih tumpangan tinggal beberapa hari loh bang!" Sargahku dengan menekan setiap kalimat.
Brandon manggut-manggut paham, "Oh. Ya udah kalau gitu."
__ADS_1
Aku hanya memutar bola mataku malas dan kembali menoleh ke Kakek, "Kek, masuk aja." Ucapku di balas anggukan oleh kakek.
***
Claire terbangun dari tidurnya kemudian berjalan ke luar kamar dan melihat apakah sang Kakek masih sehat atau tidak.
Claire tidak menemukan Dion, namun terdapat sepucuk surat yang terletak di meja kamar Dion. "Nak. Hari ini adalah hari terakhir aku di dunia, jadi teruslah berjuang dan jangan menyerah, ingat apa janjimu padaku semalam ya..."
Tertulis, sangat Kakek.
Membaca surat singkat itu lumayan menbuang Claire sedih, padahal dia baru berjumpa dengan sang Kakek tapi sang kakek malah pergi begitu saja.
Ah sudahlah... Semangat Kakek merasakan lebih bahagia di atas sana
***
Dion berjalan jalan menuju taman. Dion berharap dia akan berjumpa dengan Vie-nya untuk terakhir kalinya, dan Ya! Dion melihat Vie tengah berlari ke arah taman, namun bukan karena senang tapi tampak seperti rasa takut dan sedih.
Deg! Dion shock
Dion terus melihat Vie yang berlari melewatinya membuat Dion spontan mengikutinya.
Sesampainya di jembatan Vie melihat ke arah bawah jembatan yang lumayan sepi karena jam kantor.
Vie sudah putus asa dan akan mengakhiri semuanya! Dia ingin mati dengan tenang dan tak merasakan kejahatan dunia ini yang membullynya tak henti.
Dion mengejar Vie tanpa Vie sadari, hingga sekarang Vie berada di hadapan sebuah bahu pembatas titi dengan memandang air sungai yang deras di bawahnya. Vie sungguh putus asa.
Dion yang melihat itu menyadari betapa susahnya hidup Vie di jaman ini, dia mencoba menenangkan Vie,
"Hidupmu sekarang memang sulit nak. Tapi kehidupan mu akan tetap sama di manapun masa yang akan kau tempuh,"
__ADS_1
"KAKEK TAU APA?! HIDUPKU SUDAH HANCUR!! JANGAN HALANGI AKU!!" Vie menjerit sejadi-jadinya dengan begitu marah sambil menangis meratapi hidupnya.
Melihat Vie yang putus asa seperti ini membuatnya tergelitik kecewa, bagaimana seorang Vie bisa seputus asa seperti sekarang? Vie yang dia kenal adalah Vie yang kuat.
"Jadi kau ingin hidup lebih baik lagi?" Tanya Dion, "Kau akan mendapatkan kehidupan yang sama di manapun kau berada... Itulah garis kehidupanmu." Ucap Dion singkat.
Vie berfikir sejenak menelaah apa maksud kakek aneh ini. Dia berkata terlalu banyak dan memusingkan kepala Vie.
Langkah Fian sangat lebar dan cepat. Mencari keberadaan Vie dengan petunjuk radar yang telah di setel ya di ponsel Vie sehingga dia tau keberadaan Vie sekarang.
"VIE!!!" Panggil Fian dari kejauhan saat melihat Vie tengah berdiri di pembatas jembatan menuju sungai yang berarus deras.
Fian terus berlari dan hampir mendapatkan Vie.
Melihat Fian hampir mendekatinya Vie langsung memanjat dan melompat dari jembatan. Sungguh keputusannya sudah bulat...
Menghilang dari dunia ini...
Sangat tipis saat tangan Fian hendak mendapatkan tangan Vie.
Vie merasa tenang saat dia bisa melakukan ini... Dia akan terbebas dari kesusahan dunia... Ini adalah jalan terbaik...
Byur..
Vie terjun dan tenggelam di dalam sungai. Dia sama sekali tak bergerak dan membiarkan dirinya kehabisan nafas.
Pandangan Vie memudar dan menggelap.
Sesak terasa di dada.
Oksigen telah berganti dengan air yang memenuhi di paru paru Vie.
__ADS_1
Dan sungguh sekarang Vie bahkan tak merasakan apapun lagi sekarang. Seketika itu juga Dion menghilang bagaikan debu.