
...Author POV...
"Pa, Fian mau bicara." Ucap Fian sungguh.
"Mau bahas apa. Jangan bertele-tele." Ucap Papa Fian dingin. Lelaki paruh baya ini masih sangat marah dengan kelakuan anaknya yang telah berontak padanya.
"Pa. Maafin Fian." Ucap Fian membuat sang penerima telepon hanya diam. Walaupun sang ayah sangat marah pada anaknya ini, tetap saja ada secercah kerinduan pada hari beku ayahnya itu.
"Pa. Fian mau kita berjumpa, Fian rindu Papa," kata Fian berusaha selembut mungkin. Fian berharap dengan pertemuannya dengan sang Papa dapat merubah suasana hati dan membuat orang tuanya dapat menerima Vie dengan hari terbuka.
"Kenapa hm? Apakah kau telah menyesal menikahi gadis itu? Terlambat sekali untukmu menyesal. Tapi lebih baik menyesal dari pada tidak sama sekali." Ucap Papa Fian dengan sombongnya.
Fian mengeraskan rahangnya menahan emosi. Siapa bilang Fian menyesal dengan keputusannya menikahi Vie?! Walaupun tujuan utamanya dulu dan sekarang telah berbeda setidaknya Fian kini sangat sadar mencintai Vie apa adanya. Apapun kekurangan yang Vie miliki dia terima dengan sungguh.
Dengan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Pa, Fian mau jumpa doang. Ngak perlu bahas ke situ."
Papa Fian tersenyum, Pikir Papa Fian akhirnya anaknya bisa kembali kepadanya. "Baik, jumpai papa di kantor pusat papa yang ada di Jakarta, kita ngobrol di situ."
"Sama Mama juga sekalian ya pa." Pinta Fian.
__ADS_1
Papa Fian sedikit aneh dengan permintaan anaknya ini, biasanya juga Fian tak pernah mau kumpul keluarga dan kenapa sekarang Fian mau berkumpul?
Ingin rasanya papa Fian bertanya, 'Are you okey my son?' tapi rasanya bibirnya terlalu keluh untuk mengucapkannya karena gengsi.
"Gimana pa?" Tanya Fian membuyarkan lamunan Papanya.
"Oh iya. Nanti Papa usahain."
Fian menghembuskan nafas lega. Syukurlah mereka mau berjumpa denganku.
"Jadi kapan pa?"
"Oke Pa. Thanks Pa.."
"Hm."
Fian mematikan ponselnya dan segera berjalan menuju kamar kembali. Dia begitu senang hingga dia lupa sang istri masih tertidur pulas di ranjang.
Fian melompat dan memeluk Vie dan menggoncang goncang tubuh sang istri, "Sayanggggg..."
__ADS_1
Vie yang santak kaget langsung membuka matanya panik, "Kenapa? Ada apa?"
Fian tersadar telah membangunkan sang istri yang tertidur pulas tadi dan segera minta maaf, "Maaf sayang. Aku lupa kamu masih tidur."
"Iya, emangnya kenapa Fian? Kenapa sampai ngagetin gitu? Biasanya sih memang kamu sering ngagetin, tapi ngak waktu tidur juga."
Fian terkekeh, "Gak apa sayang. Aku tadi seneng aja menang main game tadi, jadi aku kaya tadi. Hehehe."
Bohong Fian, Fian tak ingin memberitahukan sang istri mengenai perjumpaan Fian dengan orang tuanya, takut takut orang tua Fian langsung memaki Vie dan pastinya tak di harapkan Fian. Jadi untuk hari ini Fian masih mau membujuk orang tuanya untuk mau berbincang lebih dekat dengan Vie, jika sudah di terima maka semuanya akan berjalan dengan lancar bukan?
Vie mendengus kesal mendengar kalimat dari suaminya ini. "Ih kamu ada ada aja! Udah ah aku mau tidur lagi, ganggu hari libur aja mah kamu!"
Fian terkekeh, "Iya deh.. maaf ya... Abisnya aku terlalu senang sih."
"Hm iya. Terserah."
Fian kembali mengeratkan pelukannya, "Oh ya Yang, nanti siang aku mau pergi sebentar. Ada urusan kerja sayang. Dari perusahaan Papa."
"Hm ya udah hati-hati nanti ya."
__ADS_1
"Iya sayang..."