
Catatan penulis:
Hai hai haiiiiii... Aku up lagi nich. Wkwk. Agak alay aku ya...
Oke oke. Done. Aku ngak mau alay.
Langsung ke poinnya aja.
Aku double up nih 😆....
Hai my readers tercinta. Yuk lah di like, komen dan vote guys... Jangan cuma di cicipi abis itu di buang gitu aja ya...
Aku lihat banyak yang baca cerita aku. Tapi jempolnya itu loh guys... Sulit amat klik likenya 🙂💔...
Padahal kan semakin banyak yang like komen dan vote jadi makin buat aku semangat up guyss...
Please lah guys ku terkasih. Jangan pelit pelit dungs ngasih jejaknya...
Biar author mu ini tau loh gimana dan siapa yang selama ini serius sama author, eh maksudnya cerita author nya😅...
Jadi... Ingat loh ya, jangan sampai lupa guyss..
Â
...Author POV...
Ryan menarik Vie duduk di pangkuan Ryan saat Vie berjalan di tepi ranjang. "Elus sekarang." Kata Ryan.
Vie menyerngitkan dahinya bingung, apanya yang di elus?
Ah. Mungkin kepala.
Vie mengelus kepala Ryan.
Bukan ini yang di inginkan Ryan untuk di elus tapi dadanya dan you know lah... Tapi Ryan tak menolak dan malah menyukainya.
Ryan memeluk Vie dan menenggelamkan wajahnya di bahu depan Vie. "Leher aku juga Vi..." Pintanya manja.
Wait. Kenapa Ryan jadi manja gini?
Tapi sungguh saat ini dia ingin di manja Vie. Sungguh.
Ryan tersenyum lebar di balik wajahnya yang di di tenggelamkan tadi saat Vie balas memeluknya.
Vie membalasnya karena Ryan tampak imut membuatnya gemas.
Vie mengelus lehernya dan kemudian punggungnya, "Cape?" Tanya Vie.
Mendapatkan perlakuan nyaman ini ingin sekali Ryan segera menerkam Vie, namun Ryan tahan dan hanya mengangguk tanpa menjawab.
Vie terkekeh singkat. Kemudian sedikit memijit punggung Ryan dengan sedikit menekan nekan perlahan.
Ryan menutup mata nikmat sambil mengeratkan pelukannya, "Enak. Lebih kuat Vi..."
"Tadi katanya ngak mau di pijitin."
__ADS_1
'Siapa yang akan menolak sentuhan lembutmu huh?' batin Ryan.
Ryan mengelus pinggang Vie, "Kau banyak bicara." Kesalnya sambil kepalanya mendusel di bahu Vie.
"Ya udah lepas dulu. Aku pijitnya dari belakang aja biar lebih mudah. Kalau gini jadi malah kaya pelukkan terus."
Anjur Vie.
Melepas? Tentu tidak. Ryan suka posisinya sekarang.
Ryan menggeleng, "Udah begini saja. Jangan di lepas."
Ryan menaikkan kepalanya dan menatap mata Vie dalam. Mengelus pipi Vie dan kemudian tersenyum kecil mencium Vie.
Wanita ini semakin lama semakin membuatnya gila. Dan bahkan Ryan tak ingin ada lelaki lain yang melihat Vie yang tampak sangat manis saat bermake-up atau tidak.
Tentu dia menyukai Vie bukan karena faktor cinta, namun ***** yang belum pernah tersalurkan.
Jantung Vie berdegup kencang, Ryan terus mencium Vie. Vie menghentikan ciuman Ryan dengan mendorong tubuhnya.
Rya menatap Vie kesal, Rian membaringkan tubuhnya di atas tubuh Vie. Sungguh matanya sudah gelap *****. "Kau tau, aku sangat benci penolakan dari wanita. Dan belum pernah ada yang menolakku selain kau."
Ryan menatap Vie datar, "Aku membenci setiap orang pribumi kau tau. Terutama orang yang menyebalkan sepertimu."
Ada rasa menolak di batin Ryan saat menyatakan bahwa dia membenci Vie. Dia bahkan tak mau melepaskan Vie apapun alasannya. Bahkan sewaktu Vie izin untuk ke kamar mandi saat ada pertemuan tadi, Fian langsung mencari keberadaan Vie.
Dia ingin membuat Vie sungguh berada di kungkungannya, memperhatikan nya dan tidak ada yang lain.
Dan satu cara membuat itu terjadi...
Ryan kembali mencium Vie ganas dan dia begitu liar. Begitu menggila saat dapat mengintimidasinya tak dapat melawan lagi.
Tak satupun yang tak di jamarinya. Dia begitu lihai memainkan jemarinya. Darah Ryan semakin mengalir kencang seperti berpacu hendak di puaskan.
Ryan membuat Vie polos tanpa apapun dan menatap *****.
Vie mengigit bibir bawahnya menahan sensasi aneh yang di terima secara tiba tiba.
"Please stop it..." Vie tak tau apa yang harus dia perbuat lagi. Segala upaya melepaskan diri gagal.
"I Will make you feel something that you never feel before... Arhh..." Erangnya bersamaan pekikkan Vie saat merasakan benda tumpul memasuki daerah sensitifnya.
***
Vie terbangun dan merasakan bagian bawahnya yang sangat nyeri. "Akh..."
Ryan terbangun mendengar rintihan Vie dan langsung seketika mengelus bagian itu bersama dengan dia menimpa paha Vie, "Nanti juga takkan sakit lagi."
Vie sangat geram dengan perlakuan Ryan yang membuatnya menjadi wanita kotor.
Tapi Ryan masih tak bisa bosan ingin melakukannya lagi.
Ini sangat aneh, biasanya Ryan hanya melakukannya sekali dengan wanita yang seperti Vie, yaitu wanita biasa dan sama sekali bukan model wanita yang menggugah selera alias tidak montok. Tapi... Ryan bahkan ingin melakukannya lagi.
Ryan menatap Vie masih dengan tatapan *****. "I want do it again."
__ADS_1
Vie menahan tangan Ryan, "Ryan gak mau. Sakit banget." Menahan menahan air mata.
Ryan memutar mata malas dan menyingkirkan tangannya kembali memeluk Vie. "Baru juga satu kali." Kesalnya.
"By the way, nanti aku ada rapat. Pulang agak malam." Kata Ryan seakan permisi pada Vie kalau dia ingin pulang lama.
Ini pertama kalinya Ryan permisi pada wanita. He don't know what happen, tapi Ryan ingin dia di tunggu sampai pulang ke rumah oleh Vie.
Vie masih menahan nyeri, bahkan Vie sekarang menangis.
'Apa aku terlalu kasar kemarin?' batin Ryan.
"Jangan manja." Bentak Ryan.
Vie menatap Ryan amarah, "Sakit banget kau tau... Kau bahkan tak memberikan ku jeda kemarin. Kau tak berhenti bahkan sedetikpun. Hu hu hu... Ryan sakitt..." Adu Vie karena begitu kesal.
Ryan mengingat kejadian kemarin, memang dia sungguh gelap mata dan terlalu menikmati tubuh Vie kemarin.
Tapi sungguh gerakan dan ******* Vie membuatnya menggila.
"Ya sudah kita mandi dulu. Nanti setelah mandi aku obatin." Ucap Ryan
Pada akhirnya, ntahlaj, dia merasa jadi tak tega.
Ryan menggendong Vie menuju kamar mandi dan memasukkan Vie ke dalam bathtub.
Ryan mandikan Vie sambil menahan gejolak ingin menerkam Vie, namun Ryan menahannya mati matian.
Setelah selesai mandi, mereka keluar kamar mandi sambil Ryan tetap menggendong Vie.
Ryan mendudukan Vie di tepi ranjang.
"Buka." Kata Ryan.
Sungguh Vie sangat malu. Udah mandi di mandiin dan sekarang... Arh... Sangat memalukan.
Ryan melihat Vie yang enggan mengangkang, Ryan langsung mengangkangkan Vie dengan dia berada di bawah Vie.
Ryan meneguk air liur berat.
Sekujur badannya semakin memanas dan sekarang sampai ke ubun ubun terutama saat dia mengoleksi genetalia Vie. Ryan mendesis.
Ryan naik ke atas ranjang memeluk Vie. "Kali ini aku akan melakukannya perlahan. Percayalah..."
***
Dan untuk kedua kalinya mereka mandi di pagi hari setelah beraksi panas tadi.
Lihatlah, Ryan bahkan tak mengikuti rapat agar dia bisa bersama Vie. Dan percayalah dia terus memeluk Vie seakan Vie akan pergi jauh.
Vie semakin lama semakin berfikir. Dia semakin membenci kehidupan, semua seakan sangat tak adil.
Ryan tak kuatir mengenai hal hamil, karena dia mengeluarkannya di luar. Jika Vie tetap hamil, dia akan menggugurkan anak itu, sungguh dia tak ingin memiliki anak, sungguh merepotkan, terutama anak dari seorang babu seperti Vie.
Terutama Ryan mengingat begitu menderitanya anak seorang Nyai (seorang wanita yang di jadikan sebagai pemuas ***** namun lebih di hargai di bandingkan seorang babu) sepertinya. Dia tak ingin melahirkan anak yang akan menderita nantinya yang selalu di beda bedakan dan bahkan terasingkan. Untung saja Ryan adalah anak yang pintar dan fiskal, itu yang membuat dia dapat perhatian khusus dari ayah biologisnya.
__ADS_1