Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Tak dapat dibayangkan


__ADS_3

catatan penulis:


jangan lupa dukungannya ya my readers..... like comment dan vote yauuu... semakin banyak dukungan aku bakalan semakin sering up... 😄❤️... happy reading guys 🥰


---------------------------------------------------------------------------


...Author POV...


Semenjak siang tadi kepala Fian terus di pusingkan dengan bayangan Vie.


"Ck. Menyusahkan saja! Kenapa dia harus muncul lagi?!" Kesal Fian sambil melemparkan gulingnya ke lantai.


Fian berbaring di ranjang dengan mendengus berat terus menerus.


Tidak berjumpa Vie saja sudah mampu membuat Fian terus memikirkan Vie, bagaimana lagi kalau berjumpa seperti sekarang huh?


Ck


Fian bangkit dari baringnya dan duduk menatap lurus dinding yang ada di hadapannya, "Mending aku jalan jalan aja keluar malam ini. Menghirup udara segar."


Fian memutuskan untuk mengambil jaketnya dan keluar berkeliling kota di malam hari menghilangkan suntuk.


Sedangkan Vie masih sibuk dengan pencatatan penghasilan untuk hari ini. Sedikit merugi karena tadi siang pesanan Fian tak di ambil bayarannya karena Vie gengsi. Ah sudahlah, Vie juga tak mempermasalahkan itu. Sungguh Vie sudah malas berfikir mengenai Fian.


Pukul sudah menunjukkan pukul 11 malam, Vie baru menyelesaikan tugasnya dan kini dia merenggangkan kedua tangannya dan kakinya karena pegal seharian ini.


"Euh... Cape juga ya An," ucap Vie pada ana yang berada di sebelahnya uang sedari tadi membantunya menyelesaikan semua tugasnya.


"Iya nih buk bos. Cape..."


Ana pun merenggangkan badannya.


Ana dan Vie sudah seperti kakak beradik, hidup di kesusahan kota metropolitan membuat mereka hidup menjadi wanita keras. Ana umurnya 1 tahun di bawah Vie, wanita muda itu masih belum menikah dan fokus pada kuliahnya sekarang sambil bekerja karena tuntutan ekonomi keluarganya yang susah.


"Ana, kamu hari ini menginap di sini atau mau ke rumah saya saja." Ajak Vie pada Ana. Dia tidak mungkin membiarkan Ana untuk pulang sendirian di malam seperti ini bukan.


Ana tampak berfikir, "Nginap di rumah ibu aja deh. Soalnya di sini serem Bu kalau malam, kaya di drama drama horor gitu." Celetuk Ana berlebihan.


Anak satu ini memang rada gesrek, tapi yang Vie suka dari pertemanannya dengan Ana adalah Ana memiliki sifat apa adanya, tidak di buat buat dan bukan seseorang yang munafik, oleh sebab itu Vie memberikan dia kuasa menjadi sekretarisnya walaupun wanita ini lebih muda.


Vie sedikit terkekeh, "Kamu ini. Mengada ada saja. Mana ada setan. Kalaupun ada pasti setannya malah takut sama kamu." Ledek Vie.


"Ih ibu ini. Suka banget meledek saya deh." Ana mengerucutkan bibirnya kesal, "Iya buk iya... Saya emang jelek. Cocok memang jadi pawang penangkal setan."


Lagi lagi Vie terkekeh jadinya. "Becanda kali. Jangan di monyongin tuh bibir. Ntar makin memble loh.."


"Ngak apa Bu. Kan seksi." Ana malah membanggakan dirinya.


Gendeng memang si Ana.


Mereka sama sama terkekeh jadinya.


"Ya udah ah. Kita pulang sekarang. Kita juga butuh tidur." Vie bangkit berdiri di ikuti oleh Ana.

__ADS_1


"Iya Bu."


Mereka pun berjalan keluar toko.


"Bu, ibu kan masih muda. Bisa tidak saya panggil kakak saja. Soalnya kalau panggil ibu gitu rasanya terlalu tua Bu." Kata Ana memecahkan keheningan jalan mereka.


"Hm. Terserah kamu aja." Ucap Vie tak mau ambil pusing.


"Ha... Gitu dong kak. Kan kalau gini berasa normal..." Kata Ana semangat.


Vie hanya terkekeh singkat.


"Btw kan kak. Tadi siang itu..."


"Gak usah di bahas. Pusing kepala saya mikirin itu." Patah Vie memotong kalimat Ana. Rasanya membahas Fian bisa membuat moodnya kembali memburuk.


Ana mengangguk paham. Sepertinya memang ada hubungan yang tidak baik antara bos cantiknya dengan cogan di perusahaan tadi.


Bib bib


Vie menekan tombol alarm mobilnya yang bergantung bersamaan kunci mobil untuk dapat membuka mobilnya.


Vie pun masuk ke dalam mobil bersama Ana.


Bak! buk! bak! buk!


Terdengar suara pukulan seseorang tak jauh dari mereka berada, Vie segera menoleh dan kembali keluar dari mobil.


Terlihat seorang laki laki yang di pukuli oleh 5 preman bengis yang ada di lingkungan ini.


Preman itu memang suka berbuat onar. Padahal Vie sudah pernah menghabisi mereka hingga mereka memohon. Ck! Kali ini mereka takkan bisa selamat dari Vie.


Vie menelpon polisi, "Selamat malam pak. Ada preman yang berbuat onar di jalan Melati Kembang persimpangan lampu merah." Lapor Vie.


"Baik bu. Kami akan segera ke sana."


"Segera pak. Kami sangat membutuhkan bantuan!" Desak Vie.


"Baik bu. Laksanakan." Ucap Polisi tersebut dan segera Vie mematikan ponselnya.


Vie yang tak suka menunggu pun segera berjalan ke arah 5 preman itu. Dia akan menghajar preman itu sebelum polisi datang, geram soalnya.


Sedangkan Ana, dia ketar ketir sendiri. Dia takut pada preman, karena memang dia tak seberani Vie. "Bu sudahlah. Kan sudah lapor polisi. Kita tinggal saja dia.." Ana takut.


Vie menoleh ke arah Ana, kasian juga anak buahnya ini, "Kamu tunggu di dalam aja. Saya yang ke sana."


Ana menahan tangan Vie, "Jangan kak. Nanti kakak di apa apain... Kak... Jangan!" Pekik Ana. Bagaimana pun dia sangat sayang pada bosnya ini. Karena hanya Vie bos yang dia jumpai sangat baik dan perhatian padanya saat bekerja.


Vie tersenyum, "Tak apa. Saya sudah belajar silat beberapa tahun lalu, dan sudah pernah melumpuhkan 10 lawan sekaligus. Tenang saja."


'Wadau... Ngerih juga nih bos. Cantik cantik keker.' batin Ana salut.


"B-baik kak. Ana tunggu dalam mobil aje ye... Hehe."

__ADS_1


"Hm. Iyaa," Vie tersenyum dan menyerahkan kuncinya pada Ana.


Ana segera masuk ke dalam mobil. Bodo ae.. dia mah takut.


Vie mendatangi kegaduhan itu. Seketika saat sang ketuanya melihat Vie dia terkejut setengah mati dan segera kincep mudur. "M-maaf. K-kami hanya bermain main saja dengan dia." Ucapnya ketakutan.


Para bawahan pun menoleh ke arah Vie, baru menyadari keberadaan Vie dan segera mundur alon alon ke belakang. "M-maaf buk, Tante, kak." Ucap salah satu bawahan takut sekaligus bingung mau memanggil Vie dengan apa.


Bodoh.


Vie memutar bola matanya, dan segera menyerbu mereka dengan beberapa gerakan silat yang membuat mereka babak belur dalam sekali hantaman.


Mereka bahkan tak dapat bergerak lagi dan tersungkur di aspal.


Vie segera meneguk orang yang di aniaya mereka, "Anda tidak apa?"


Lelaki itu mendongak dan melihat Vie.


Vie terkejut saat melihat Claire. Bagaimana lelaki ini bisa di sini?


"Claire?"


Claire mengangguk dan kemudian bangkit berdiri dengan tertatih, "Terimakasih telah menolongku," ucapnya.


Vie melihat wajah lelaki ini tak kenapa kenapa, hanya saja bajunya yang berantakan.


Mungkin Claire melakukan perlawanan tadi. Pikir Vie.


Tapi setau Vie lelaki ini bukanlah lelaki lemah. Bagaimana bisa dia kalah melawan 5 penjahat ini? Bisanya juga Claire melawan lebih dari segini. Claire itu juara nasional taekwondo di SMA! Bagaimana dia bisa kalah?!


Claire yang mengetahui kecurigaan Vie meringis kesakitan, "Aku tengah sakit, sungguh sulit bagiku melawan mereka saat kondisiku lemah."


Vie membulatkan bibirnya paham.


Tentu saja. Kalau orang sakit mana mungkin bisa konsen kan?


"Jadi kau bagaimana? Apakah perlu aku antarkan pulang?" Tanya Vie.


Claire menggeleng lemah, "Aku bisa pulang sendiri. Btw sekali lagi thanks ya." Claire segera ingin pergi namun dia kembali terjatuh lemah.


Vie segera menahan tubuh Claire, "Aku akan mengantarmu. Jangan menolak."


Claire menoleh, "Gak Vie. Rumah aku jauh. Kamu pulang aja deluan."


"Gak. Nanti kau kenapa napa. Tadi aja hampir di pukuli."


Claire hanya diam.


"Udah, nginap di rumah aku aja."


"Vie aku bisa pulang sendiri."


"Gak. Jangan membantah."

__ADS_1


Vie segera menarik tangan Claire dan menuntunnya ke mobilnya,


Claire tersenyum miring licik di belakang Vie, 'You are mine Vie.'


__ADS_2