
Catatan penulis:
Hai hai... jangan lupa like, comment dan vote yaa...
ingat... jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya...
semakin banyak dukungan semakin sering aku up ceritanya ya guysss
oke... happy reading guys 🤗😁
---------------------------------------------------------------------------
Aku merenggangkan badannya saat bangun tidur.
Deb
Ryan mengeratkan pelukannya dan menggesekkan kakinya di atas pahaku. Wajahnya tepat di leherku. "Morning.." katanya dengan suara serak ala bangun tidur.
Ryan hendak menurunkan wajahnya menuju dadaku. Aku menahannya shock, "Mau ngapain?!"
"Nyusu." Jawab Ryan singkat.
What The...
"Heh! Memang ngak punya ahlak kau ya!"
Ryan terkekeh singkat, "Why? Punyamu itu sangat kecil. I want to make it bigger than before." Goda Ryan.
"Wah memang udah rusak otaknya ni orang yak. Pergi pergi, aku mau mandi!" Usirku sambil mendorong tubuh Ryan.
Ryan terkekeh. Dan kemudian mencium bibirku singkat. "Majikan dulu yang mandi. Babu belakangan aja." Katanya sambil tersenyum miring dan kemudian meninggalkanku.
****... Bener bener ya! Kayanya bibirku ini udah ngak ada kesuciannya lagi.
***
"Pakaikan dasiku, cepatlah." Katanya sambil menyodorkan dasinya.
Aku menatapnya datar, "Idih. Biasanya juga kau pasang sendiri."
Dia menatapku tajam, "Udah pasang saja. Jangan banyak berontak."
Aku mendesah gusar sambil memasang dia dasinya. Dia mendekatkan wajahnya melihat ku datar.
Jantungku kembali berpacu kencang, kenapa dia terlihat setampan ini.
Aku dengan cepat memasang dasinya. Dia tersenyum kecil, "Wajahmu merah."
__ADS_1
Ah elah. Kenapa pipiku malah merona gini sih?!
"Mana ada, matamu tu rusak." Aku mengetatkan ikatan dasinya, "Itu udah siap."
Dia mengecup-ngecup pipi kananku kemudian kembali menatapku kembali. Dia tersenyum sambil menahan kekeh, "Semakin merah itu pipimu."
Aku memegangi pipiku, "Apaan sih!"
Dia kembali menegakkan badannya. "Hari ini ikut denganku. Ada pertemuan dengan pemimpin kongsi dagang belahan utara daerah, aku butuh kau membantuku mencatat setiap perkembangan."
Aku mengangguk, "Hm, iya."
***
Aku mengikuti Ryan yang tengah berbincang dengan lelaki yang tampak lebih tua darinya, aku diam sambil mencatat apa yang penting. Setelah berbincang bincang aku meminta izin untuk pergi ke kamar mandi dan setelah mendapatkan persetujuan aku pergi ke kamar mandi.
Setelah pergi ke kamar mandi aku melihat ada seseorang yang tengah duduk dan dengan pandangan lurus. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya, tampaknya dia seumuran denganku.
Ya ampun... Tampan banget.
"Kamu kenapa?"
Dia menatapku datar, "Kau siapa?"
"Oh aku, aku... Aku sebenarnya babu sih. Hehe," anjir.. rendah amat sih kedudukan aku. Malah masih nyengir lagi aku.
"Vie." Jawabku santai.
Dia tersenyum simpul sambil mengangguk.
"Oh ya. Kamu ngapain sendirian di sini." Tanyaku.
"Bosan aja."
Aku hanya ber-oh ria saja.
Sedangkan dia hanya tersenyum kemudian mencubit pipiku.
Aku kaget karena dia tiba tiba menyentuhku.
Aw.. Jadi suka deh..
"Heh. Kau ngapain." Terdengar suara tepat di belakangku. Ryan.
"Kau bicara sama siapa?" Tanya nya.
"Aku bicara sama.." aku memutar kepala kembali melihat lelaki itu.
__ADS_1
Deg!
Dia menghilang.
"Siapa huh?" Tanya Ryan lagi.
Anjir...
"T-tidak tadi ada dia. Kenapa sekarang hilang."
Dia menyerngitkan dahinya, "Dari tadi aku melihat kau berbicara sendiri."
Aku membelalakkan mataku, "Serius?!"
Aku menunjuk diriku sendiri, "A-aku Bicara S-s-sendiri?!" Kataku ketakutan.
"Sumpah tadi nyata banget!!" Jeritku.
Aku langsung berlari memeluk Ryan.
"Siapa huh?"
Aku mencoba tenang, karena katanya kalau itu setan kita ngak boleh terlihat takut, ntar di gangguin.
"Ngak ada apa apa. Lupakan aja." Kataku masih memeluk Ryan.
Ryan mendekatkan wajahnya padaku, dia diam sejenak, "Kenapa malah Makai makeup, bukankah aku sudah bilang padamu agar tak menggunakan makeup saat keluar."
Aduh... Lagi horor gini kenapa bahas make up anjir!!
"Please deh. Ngak usah bahas makeup dulu. Mending kita pulang aja."
Dia menatapku datar, "Gak bisa. Kau sudah melanggar peraturan, kau harus di hukum."
****!! Nyebelin banget!!
"Iya nanti aku pijitin di rumah... Udah lah. Cepetan kita pulang. Ah elah.." kataku ingin buru buru pulang, baru kali ini soalnya jumpa setan dan di ajak ngomong anjir...
"Elus bukan pijit." Dia menaikkan salah satu alisnya tersenyum miring.
Aku menyerngitkan dahi tak yakin apa yang di maksud dengan mengelus. Tapi iya-in ajalah. "Iya iya.. Udah, cepetan pulang."
Dia tersenyum sambil sedikit terkekeh.
Apasih? Udahlah.. aku menarik tangannya menjauh dari tempat ini.
Kami pun pulang ke rumah.
__ADS_1