Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Gak jadi di hukum


__ADS_3

Aku berjalan menuju koridor sekolah dengan lesu. Ntahlah, seperti tak ada semacam semangat hidup anjim.


Kaya aneh aja, masih sekolah udah nikah.


Ck. Aku bahkan semakin bingung dengan tujuan hidupku.


Kalau kalian bertanya di mana Fian, dia ada di belakang, aku kabur darinya saat keluar dari mobil. Ya kali berduaan sama dia ke sini, pasti bakalan jadi pusat perhatian dari sekolah.


Bruk


Aku jatuh terduduk karena seseorang menabarakku dari belakang. Dia terus berjalan saja tanpa memperdulikanku.


"WOY!!" Teriakku membuat dia berhenti dan membalikkan badan melihatku.


Aku bangkit berdiri dan menatapnya tajam, "Minta maaf sekarang!"


Dia merotasikan matanya malas, "Gak."


What?!


"Heh! Kalau udah salah itu sadar diri!


Cepetan minta maaf!" Kesalku.


Dia menatapku malas. "Maaf." Setelah itu dia berbalik dan berjalan kembali meninggalkanku.


"Heh!" Pekikku sambil berjalan ke arahnya. Dia berbalik dan menatapku malas, "Apa lagi?" Tanyanya singkat.


Aku mendongak melihatnya saat dia tepat di hadapanku karena memang aku hanya setinggi ketiaknya saja.


"Kalau minta maaf itu yang ikhlas. Masa minta maaf kaya gitu!"


Dia berdecak malas, "Kan udah sih. Mau apa lagi coba? Itu udah paling ikhlas."


"Aku ngak mau tau! Ulangi! Harus lebih ikhlas!"


"Maaf." Ucapnya cepat dan singkat. Setelah itu dia berbalik dan meninggalkanku seorang diri.


Ish! Dasar!


Bodo amat lah! Mending aku masuk kelas sebelum berjumpa dengan,

__ADS_1


Tep


Aku menoleh dan kemudian mendongak melihat seseorang yang manahan tanganku.


"Siapa dia?" Tanyanya.


Aku mendengus, "Memangnya kau pikir aku kenal dia siapa."


"Jangan sekali lagi aku lihat kau dengan lelaki lain. Atau aku akan menghukummu." Katanya dengan tatapan yang menusuk.


"Apa sih Yan, aku juga ngak kenal sama dia. Kan udah aku bilang tadi."


"Gak percaya."


"Ck. Apa sih. Alay banget."


Fian menatapku marah, "Siapa yang alay?"


Ntah kanapa melihat wajahnya yang memerah jadi terlihat sangat imut, "Fian alay... Fian alay..." Ledekku sambil melambai lambaikan kedua telapak tanganku di kedua telingaku meledeknya seperti mengejek anak kecil.


"VIE." Fian menekan kalimatnya dengan wajah yang semakin merona.


Dia berjalan menuju suatu tempat sedangkan aku terus memukulnya minta di turunkan, "Yan! Lepasin aku!"


"Gak."


Dan mataku terbelalak saat dia menggendongku menuju UKS dan menyuruh pergi para petugasnya dengan dagunya tanpa berkata.


Deg!


Kemudian Fian mengunci pintu UKS dan kembali berjalan menuju ranjang UKS.


Dia mendudukkanku di sana dengan dia menatapku datar, posisi badannya berada di hadapanku dengan di sanggah oleh kedua tangannya.


"Kau membuatku kesal."


Deg


Jantungku terus berpacu kencang. Rasanya seperti ingin copot dan tak dapat berkata kata lagi. Dia tampak menyeramkan.


"Aku akan menghuku.."

__ADS_1


"Maaf. M-maaf." Ucapku cepat sebelum dia akan menghukumku dengan hal yang aneh aneh.


Dia menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum miring, "Maaf tak cukup."


"Yah. Jangan gitu lah. M-masa kau tega sih samaku." Cicitku.


"Kenapa aku harus mengasihanimu huh?"


"Ya karna aku istrimu." Jawabku cepat.


Deg!


Wait a minute, kenapa aku malah jawab itu sih?! Dia pasti mikir kalau aku udah mulai ganjen sama dia!


Dia tersenyum miring mendengar kalimatku tadi.


"I-iya! Suami! Ya karena terpaksa!" Bantahku lagi.


"Oh ya?"


"Iya!" Ucapku mantap.


Dia terkekeh


Cup


Dia mengecup pipiku singkat, "Jangan terlalu benci. Nanti cinta baru tau." Ledeknya dengan suara lembut di telingaku.


Aku mendorong badannya, "Apaan! Gila ya?!"


Lah kenapa jadi aku yang salting?!


Seketika dia mengacak rambutku, "Aku mengampunimu saat ini. Pergilah belajar di kelas. Gurumu sudah menunggu."


Aku kembali mendorong tubuhnya dan bangkit berdiri. Namun setelah aku berdiri sebentar dia langsung mengukungku lagi dengan kedua tangannya mengunci pergerakan.


"Tapi ingat. Kalau di rumah, aku yang menunggumu sayang..." Bisiknya dengan senyuman miring, ciuman di pipi pun kembali melesat darinya membuat aku cengo. Kemudian dia pergi begitu saja.


Damn!


Dasar sialan!

__ADS_1


__ADS_2