Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Kebenaran atau Kebetulan? (Perlantiotika)


__ADS_3

Aku membaca sejarah besar yang pernah terjadi di dunia.


"Reinkarnasi yang tak berkesudahan," Aku membaca judul dalam daftar isi buku ini yang kuanganggap lumayan menarik. Ya kali aku baca buku setebal ini dari halaman pertama.


Aku membuka halamannya, "Dalam sejarah mencatat bahwa dalam dunia ini sihir sungguh ada. Banyak hal yang di luar nalar terjadi saat ini.


Pada abad ke-50 sebelum Masehi, perkumpulan rahasia sihir telah berkembang sangat pesat. Golongan Perlantiotika adalah awal sejarah tetua persihiran yang sangat di segani.


Dalam hidup mereka, tujuan hidup adalah untuk memperdalam kehidupan kekal dan membenci kematian.


Banyak dari mereka adalah manusia berkutuk karena memiliki kehidupan yang kejam dengan membunuh manusia di luar mereka. Membunuh dan membakar manusia yang tak abadi adalah kehidupan mereka karena di anggab sebagai kebiasaan dan kebaikan.


Bukan tanpa alasan, mereka membenci komunitas asing dan hanya menganggab diri sebagai yang terbaik.


Tidak bertuhan dan menyembah pimpinan sebagai dewa yang besar.


Tak ada yang dapat melihat sang dewa tanpa ada ritual, kalaupun ada, mereka akan segera melupakan rupa sang dewa saat sang dewa memasuki alam pikiran mereka melalui mimpi aneh.


Pada umumnya jika telah memimpikan sang Dewa, maka itu akan menjadi pertanda buruk dan berarti akan ada kekejian yang akan di lakukan dewa terhadapnya.


Memimpikan dewa berarti adalah musuh abadi dewa!"

__ADS_1


Aku berdecak kagum dengan kengerian bacaan ini. Serem juga eyy...


Aku kembali membaca buku ini...


"Dan hanya orang yang di anggap sang Dewa menarik mampu melihatnya dan mengingat rupa sang dewa dalam waktu lama sama seperti mengingat manusia pada umumnya. Dewa tertarik padanya dan akan menjadikannya sebagai permaisuri abadinya.


Namun itu tak pernah terjadi dalam sejarah Perlantiotika Dunia Sihir. 


Dewa tak pernah mencintai wanita namun hanya mensetubuhi wanita hingga dia puas kemudian membunuh wanita itu.


Para pemuja selalu mencari wanita sebagai pendamping sang dewa agar sang dewa tak murka dan menghabisi mereka semua. Namun yang terjadi hanyalah sebagai pemuas nafsu kemudian wanita itu di bunuh.


Sang penasehat, salah satu orang yang dapat melihat dewa dalam waktu buang cukup lama bersaksi bahwa dewa memiliki wajah yang sangat rupawan dan memikat. Tak ada wanita yang akan tahan dengan pesonanya.


Aku berhenti membaca. Tersentak akan sesuatu yang ku ingat. "B-bukannya D-dion baunya seperti itu?"


Aku meneguk air liurku berat, "D-dia tampan dan sangat menarik bukan?"


Aku kembali membaca, "Dewa itu bernama Hasassco Perlantiotika. Dewa kesaktian dan kematian."


Aku bernafas lega... Huf... Untung samanya bukan Dion.

__ADS_1


Huh... Dion cuma hantu biasa yang suka menolong. Ngak lebih dan ngak kurang.


Mungkin?...


Jantungku berdegup kencang. Kenapa jadi takut sendiri sih aku.


Aku kembali membaca, aku mencari keberadaan tulisan akan kematian sang dewa.


"Banyak yang berspekulasi kematian dewa telah terjadi. Tempat dan waktu berbeda beda dan sulit di simpulkan. Namu sang dewa sudah di yakini oleh pemujanya telah mati dan tak pernah di cari. Kesimpulan yang aneh, namun kemungkinan mereka ingin menyembunyikan suatu yang janggal."


Aku jadi semakin merinding.


Aku menutup bukunya dan mengembalikannya.


"Buat takut aja anjim," umpatku pelan. "Nyesel aku bacanya. Ck."


Aku kembali keluar dari ruangan ini sambil mengusap usap bahuku sendiri biar tak merinding.


"Udahlah Vie... Itu cuma mitos. Apaan sih kau ini, berlebihan!"


Aku menggeleng, "Ngak. Dion orangnya ngak jahat. Dia juga sangat baik bukan? Mana mungkin dia penyihir."

__ADS_1


"Dia itu cuma mantan kolonial kejam yang berubah jadi hantu yang bertaubat. Udah itu doang... Ngak lebih. Jangan mengadi ngadi Vie!" aku menenangkan diriku.


__ADS_2