Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Fian Sayang Vie


__ADS_3

...Author POV...


Fian terus tersenyum memandangi papan tulis yang ada di depan kelas. Bukan karena mengerti apa yang di ajarkan guru, pikirannya malah tembus membayang hal yang terjadi kemarin.


"Vie sungguh memberikan diri seutuhnya padaku. Dia mencintaiku!" Girang Fian dalam hati.


Senyuman Fian membuat setiap siswi malah melting dan baper. Padahal Fian tak perduli dengan mereka.


Fian mulai menulis nulis di bukunya.


Hal yang di tulisnya adalah gambar Love.


Fian sedikit terkekeh, kenapa dia jadi bucin begini? Bagaimana bisa orang setampan dan mempesona sepertinya menggila karena satu wanita?


Fian kembali mengingat kalimat Vie tadi pagi,


Flashback


"Belajar yang bener. Biar jadi ayah yang pinter." Ucap Vie memasangkan dasi Fian.


Fian yang merangkul pinggang Vie tersenyum mendengar penuturan sang istri. Terdengar begitu manis dan mood booster banget.


Fian mencium bibir Vie dan **********.


"Aku udah pinter sayang." Ucap Fian sambil terkekeh. Tapi sungguh, Fian merupakan murid yang pintar pula, terutama di bagian hitung menghitung. Dia memiliki tabiat pembisnis yang hebat sama seperti ayahnya.


Vie mencubit hidung Fian, "Apaan sih."


Fian terkekeh dan kembali mencium sang istri mesra. Vie membalas ciumannya itu dan membuat mereka larut dalam suasana hangat di pagi hari yang dingin ini.


And Flashback


Fian kembali terkekeh singkat dan mengigit bibir bawahnya. Bagaimana dia bisa salah tingkah begini sih? Sungguh alay. Tapi apakah begini rasanya jika mendapatkan balasan cinta dari seseorang yang di inginkan setengah mati? Hahaha. Lucu sekali.


Fian kemudian tersadar saat melihat Claire ada di seberang sana. Lelaki itu tengah duduk sambil memperhatikan guru yang sedang mengajar dengan serius. Fian menganalisis lelaki itu,


'Masih gantengan juga aku. Tapi tetap saja aku membencinya. Bagaimana pun Vie pernah tersenyum padanya. Bagaimana bisa Vie tersenyum padanya? Apa hebatnya dia? Apa yang di lakukan lelaki itu terhadap Vie? Sungguh menjengkelkan.' batin Fian.


Claire mengusap telinganya gatal. Tentu saja dia muak dengan suara batin Fian, bagi seorang indigo sepertinya hal mendengarkan batin seseorang membuat dia jengah sendiri. Claire melihat Fian tajam dan di balas tatapan tajam pula oleh Fian.


Tet tet tet


Bel istirahat berbunyi.


Fian segera berjalan menuju meja Claire. Claire yang hendak berjalan di jegat oleh Fian, "Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu. Jangan pernah dekati Vie. Dia wanitaku." Tekan Fian.


Claire membenci kalimat yang menekankan bahwa Vie adalah miliknya. Memangnya Vie barang apa?


Claire tak menjawab dan membalasnya dengan senyuman miring menghina Fian.


Merasa tersindir dengan senyuman Claire, Fian menarik kerah seragam Claire, "Apa yang lucu huh?"


Claire mendorong tubuh Fian dan kemudian memutar pergelangan tangan Fian hingga badannya berbalik dan membentur meja. Badan Fian tak dapat bergerak karena dadanya tertahan di meja dan tangan kanannya berada di punggung belakangnya tertahan.


"Jangan memancingku melakukan hal yang menyakitimu." Ucap Claire datar. Kemudian Claire melepaskan tangannya yang membuat Fian meringis.


Fian menatap tajam Claire. "Sial, kenapa aku malah kalah olehnya." Kesal Fian dalam hati.


Claire tak menggubris dan pergi begitu saja.


Fian menatap kepergian Claire. Satu hal yang harus di pelajari Fian, dia harus bisa lebih kuat dari Claire.


***

__ADS_1


Claire melihat Vie datar. Wanita itu tengah tersenyum sambil membaca buku novel di perpustakaan. Claire berjalan dan duduk di sebelahnya.


Vie belum menyadari keberadaan Claire dan sibuk dengan novelnya.


Claire mengusap kepala Vie, "Baca apa?"


Vie terkejut dan kemudian tersenyum, "Novel fantasi,"


Claire tersenyum. "Kau suka yang berbau mistis?"


Vie mengangguk, "Yups."


Claire terkekeh singkat dan tersenyum, ternyata Vie lumayan asik.


Vie berhenti tersenyum, dia mengingat Fian. Takut takut Fian mengawasinya dan malah marah padanya.


"Fian? Kau memikirkannya." Ucap Claire membuat Vie terkejut.


Bagaimana Claire tau?


Vie bingung.


Dret


Seketika ada seseorang datang dan duduk di sebelah Vie membuat Vie dan Claire menoleh ke arah mereka,


"Fian," Vie terkejut melihat Fian.


Dreb


Seketika Fian memeluk Vie, "Sayang."


Vie tersenyum melihat wajah Fian yang tertekuk dengan pipinya yang menggembung. Menggemaskan.


Fian tersenyum puas melihat Vie lebih memperdulikannya. Fian mencium pipi Vie dan kembali mengeratkan pelukannya, "Sayang kangen."


Vie terkekeh.


Claire menarik dan kemudian menggenggam tangan Vie, "Kamu suka baca novel Fantasi kan? Di rumah aku punya banyak. Sekali kali kamu bisa main ke rumah."


"Kamu?" Fian mengulang kata Kamu dengan emosi. "Eh kau siapa panggil panggil istriku pakai aku kamu!" Kesal Fian.


Seketika Vie merinding. Kenapa Fian malah membongkar bahwasanya mereka sudah menikah?!


Vie segera menatap Fian, "Fian. Stt."


Fian menatap kesal Vie, "Kenapa? Emang bener."


Claire menatap datar Vie yang tampak panik dan canggung. Dia tau Vie sudah berusaha keras untuk menjaga rahasia perkawinan mereka, tapi sifat kekanak-kanakan Fian malah membongkarnya. Untung hanya Claire yang ada di ruangan mereka sekarang.


Claire mengelus kepala Vie lembut, "Kalau ada apa apa. Hubungi aku aja. Suamimu lemah." Hina Claire menyindir Fian.


Claire segera pergi sedangkan Fian sangat tersulut emosi, "Dasar kau!"


Vie menarik tangan Fian dan memeluknya saat sudah kembali duduk. "Kamu jangan marah marah gitu."


"Abisnya dia ngeselin."


Vie menangkup pipi Fian dengan kedua tangannya, "Jangan ngambek. Jelek soalnya."


Fian mendengus kesal, "Oh jadi kamu ngeledek aku."


"Enggak sayang becanda doang." Ucap Vie sambil terkekeh.

__ADS_1


Fian memutar matanya kesal, "Ngeselin."


Vie mengecup kecup pipi Fian,


Cup


Cup


Cup


Cup


Vie terkekeh. Fian yang mendapat kecupan lembut seketika melunak dan tersenyum, "Kamu mau aku terkam hm?"


Vie terkekeh, "Jangan mengadi ngadi. Udah lah."


Fian kembali mengeratkan pelukannya. "Love you."


"Too," balas Vie.


***


Bel masuk berbunyi dan semua murid masuk ke dalam kelas masing masing.


Setelah guru menjelaskan guru membagikan tugas kelompok. Sialnya Fian dan Claire berada dalam satu kelompok yang sama. Lagi lagi Fian mendengus muak dan jengkel, sama halnya dengan Claire yang jengah di dengan hal yang belakang ini jadi semakin berhubungan dengan Fian.


"Tugas kelompok akan di kumpulkan besok. Selesaikan sebaik mungkin." Ujar guru sejarah membuat semua murid mengeluh karena tugas kelompok mereka sangat banyak.


Sang guru pun keluar kelas dan seketika bangku Fian dan Claire ramai, "Kita kerja kelompok di rumah siapa?" Tanya mereka.


Jarak bangku Fian dan Claire yang berseberangan memudahkan anggota kelompok berdiskusi di antara mereka.


"Mau ngak mau kita harus kerja kelompok hari ini. Besok udah di kumpul." Ucap Vinan.


Semua anggota kelompok mengangguk. "Bener."


"Ah. Kerja kelompok di rumah Claire aja. Rumahnya paling dekat dari sini." Usul Andri.


Semua anggota mengangguk, "Gimana Claire?" Tanya Fara.


Claire mengangguk, "Terserah."


Fian mengangguk, ada bagusnya juga di rumah Claire. Fian tak menerima tamu di rumahnya terutama itu adalah Claire, bisa bisa Claire malah makin dekat dengan Vie yang notabennya tinggal bersama Fian.


Mendapatkan persetujuan dari semua anggota akhirnya semuanya setuju akan keputusan itu.


***


Fian mengelus kepala Vie, "Aku antar kamu pulang dulu ya baru aku kerja kelompok."


Vie menggeleng, "Kamu kerja kelompok aja sana. Aku pulang naik bus aja atau ojek online. Ngak apa kok."


"Gak. Kamu harus pulang bareng aku."


Vie memeluk Fian dan tersenyum, "Gak apa sayang. Aku pulang sendiri aja."


"Vie... Jangan gitu..." Fian tak mau melepaskan Vie sendirian.


"Gak apa Fian ku tersayang... Aku pulang sendiri aja..."


Fian tersenyum, Vie sungguh sangat menggemaskan dam membuat Fian melemah. "Iya deh. Tapi sampai di rumah langsung telpon aku."


Vie mengangguk, "Iya. Aku pulang dulu." Fian tersenyum dan mengangguk pula. Vie pergi meninggalkan Fian yang terus menatap kepergian wanitanya itu.

__ADS_1


__ADS_2