
catatan penulis:
jangan lupa like, comment and vote yaaa... tencuu
...Author POV...
Ana di antar Claire pulang ke kos kosan Ana sendiri. Bagaimana Claire bisa mau? Apa lagi kalau ngak karena di paksa Vie.
Dia terpaksa mengantar wanita super duper menyusahkan ini.
Saat sampai, di depan pintu kosan udah menunggu seorang wanita tua dengan wajah kesal.
Ana menepuk jidadnya, 'Aduh. Mati aku. Lupa bayar kosan lagi. Malah udah kepake uangnya untuk UKT semeter ini. Mau bayar pake apa aku?'
Claire tersebut girang saat membaca pikiran Ana, 'Kena karma kau kan.' batin Claire bangga.
Dengan langkah kaki yang berat Ana terpaksa berjalan ke arah ibu galak itu sedangkan Claire buang seharusnya pulang sekarang malah menonton adegan Ana yang kena marah dan maki. Tentu saja. Ini kejadian langka bukan? Claire takkan melewatkannya.
"Minggu depan deh Bu. Janji!" Ucap Vie setelah kena marah habis habisan.
"Tidak! Sekarang juga atau kamu keluar malam ini juga!"
Ana menyatukan telapak tangannya memohon, "Please Bu... Udah malam juga, saya mau kemana Bu..."
Ibu galak itu menggelengkan kepalanya, "Terserah kamu mau di mana. Asal jangan di sini. Dengar ya Ana, kamu sudah 10 kali menunggak, saya sudah habis kesabaran!"
"Tapi please lah bu... Ini udah malam. Saya ngak tau mau ke mana.."
"Ya udah pulang aja sama pacar kamu itu. Dia tampaknya kaya," ucap ibu itu tanpa berfikir panjang.
"Gak bisa Bu! Dia bukan pacar saya! Lagi pula mana mau saya sama dia!" Bantah Ana.
Claire mengedikkan bahunya tak perduli, 'Kau pikir aku mau denganmu.' batin Claire muak.
Ibu kos segera mengeluarkan baju Ana yang sudah di susun dalam koper kemudian mengunci pintu. "Sudah. Kamu keluar dari sini. Menyusahkan saja."
"Please Bu..." Ana menarik tangan ibu itu namun malah di tepis oleh sang empunya dan pergi saja meninggalkan Ana.
Ada suatu pikiran jahat Claire.
Dia akan memberikan pelajaran pada Ana hari ini.
"Heh!" Panggil Claire membuat ana menoleh ke arahnya.
"Pulang ke rumahku saja." Ucap Claire lagi.
Ana menggeleng, "Gak akan!"
Claire memiringkan bibirnya singkat, "Ya terserah. Gak maksa juga."
Claire kembali membuka mobilnya.
Vie berfikir cepat, bagaimana pun dia butuh tempat tinggal. Tidak mungkin dia tidur di jalanan.
"Tunggu!" Panggil Ana pada akhirnya membuat Claire tersebut miring licik.
"Y-yaudah. Aku.. Izin tinggal sehari di sana, besok juga bakalan keluar." Ucap Ana dengan tertunduk.
"Ya udah cepat." Ucap Claire datar.
Ana pun segera berjalan ke arah Claire dan masuk ke dalam mobilnya.
***
"Aku mandi dulu. Kau tunggu di sini." Ucap Claire menyuruh Ana untuk tetap duduk di ruang tamunya.
Ana mengangguk.
Claire segera pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Ana memperhatikan segala hal yang ada di apartemen Claire. Mewah sekali! Bukan main!
Ana bahkan sangat segan duduk di sofa yang besar dan empuk ini. "Bisa bisanya sofanya lebih enak jadi tempat tidur di bandingkan ranjang kos-kosanku." Miris..
Tak lama berselang Claire kembali memastikan Ana tetap di posisinya.
Dan ya, Ana masih disana.
"Cepat mandi sana. Badanmu bau sekali." Hina Claire. Padahal badan Ana tak sampai bau seperti yang di katakannya itu.
Ana mengendus badannya, 'Emang iya ya?' batin Ana dengan polosnya.
"Di mana kamar mandinya?" Tanya Ana. Ana tak mau banyak komentar, takutnya Claire malah kesal dan tiba tiba mengeluarkannya di tengah malam seperti ini.
Claire menunjukkan lokasi kamar mandinya dengan dagu, "Sana."
Ana mengangguk dan segera pergi ke kamar mandi.
Lama menunggu Ana mandi Claire membuat kopi hangat untuknya sendiri. Apa perduli nya dengan Ana?
Dan beberapa saat Claire meneguk minumannya dia mendapat ide, dia tersenyum miring dan terkekeh.
Claire mematikan sensor sensitif asap dan api miliknya, agar saat dia menghidupkan asap nanti ruangannya tidak basah kuyup.
Claire menghangatkan kue di dalam panggangan dan sengaja di setel sepanas mungkin hingga kue tersebut bisa gosong nantinya.
Ana keluar dari kamar mandi.
Dia telah rapi dengan baju tidur murah yang dia punya.
Claire segera duduk di sofa dan menepuk sebelahnya, "Sini."
Ana berjalan ke arah Claire dan duduk di situ.
Claire mengambil cerutu terpanjang dan kemudian menghidupkan ujungnya dengan api.
Ana segera menarik cerutu dan pematik api Claire, "Bahaya!"
Claire menaikkan salah satu alisnya, "Kenapa?"
"Karna... Karna..."
"Apa?"
"Bisa buat kanker paru paru." Ucap Ana segera. Dia tak mungkin mengatakan kalau dia takut, jika tidak Claire akan terus meledeknya dan bahkan menjadi bulan bulanan Claire.
Ana mulai mengusap usap dada jantungan membuat Claire tersebut miring samar.
Beberapa saat kemudian Ana mencium bau terbakar dari suatu tempat, "Bau Terbakar! Kau masak apa?!" Panik Ana.
Claire mengedikkan bahunya santai, "Ntah."
Segera Ana bangkit dengan cepat dan melihat ke kanan ke kiri mencari apa yang terbakar itu.
Ana segera melihat ke dapur buang tak jauh dari situ dengan panik dan ketakutan bersama dengan tangannya mulai dingin. Dia kembali mengingat mengenai kejadian di mana suatu kebakaran yang membuatnya sangat trauma.
Ana mendapatkan Oven yang masih menyala. Segera Ana memastikan oven itu dan mengeluarkan isinya yang sudah sangat hitam pekat.
Ana segera berjalan dengan cepat dan menghentakkan kakinya ke arah Claire dengan marah, "Heh! Kenapa kau teledor begitu?! Kau memasak kue dan tak memperhatikannya! Kau ingin rumahmu terbakar!"
Claire memutar bola matanya, "Ah iya. Lupa." Ucapnya santai.
Dia berhasil membuat Ana jadi ketakutan bertubi tubi.
"Karena udah gosong. Masakan aku makanan sana." Suruh Claire santai sambil kemudian membuka ponselnya.
Mata ana mulai terbelalak, bukan hanya karena dia tak bisa memasak dia juga sangat takut dengan kompor. Kompor mengeluarkan api bukan?
"A-aku gak bisa masak. Pesan aja gimana?" Tawar Ana. Bisa saja dia marah juga karena Claire malah menjadikannya seperti pembantu. Tapi karena dia menumpang maka Ana tau berusaha untuk tau diri.
__ADS_1
"Aku alergi MSG. Jadi harus kau yang masak." Ucap Claire asal. Mana ada dia alergi, ckckck. Ada saja.
Ana menanggapi hal tersebut dengan anggukan karena dia pikir memang Claire berkata jujur.
"Hm. Tapi aku beneran ngak bisa masak."
Claire membuang nafasnya gusar, "Masak apa saja."
Ana mengerucutkan bibirnya. Mengesalkan sekali!
Ana segera ke dapur. Dia bingung mau masak apa. "Oo.. aku tau! Buat sushi aja ya kan? Kan ngak di masak."
Segera Ana sercing di google cara membuatnya.
"Em.. butuh tuna ya?"
Ana membuka kulkas, berharap dia menjumpai ikan tersebut. "Yes!" Dewi Fortuna sedang berada di pihaknya sekarang, Ana menemukan ikan itu.
Mungkin memang suatu kebetulan Claire menyukai tuna makanya dia membuat stok beberapa potong di kulkasnya.
Segera Ana menyiapkan makanan yang akan dia hidangkan.
"Aku tak suka masakan mentah." Ucap Claire datar.
Ana terkejut karena kehadiran Claire yang tiba tiba, "Bisa ngak sih ngak usah ngagetin!"
"Biasa aja kali. Lebay."
Ana mendengus. "Ck. Tadi katanya terserah mau masak apa. Jangan banyak permintaan napa sih."
Claire menggeser posisi Ana dan kemudian mengambil daging olahan. Dia memotong dan kemudian melumurinya dengan berbagai bumbu yang Ana sendi pun tak tau itu apa.
Jujur sebenarnya Claire memang cukup lapar.
Claire kemudian menghidupkan kompor.
Ana hendak berlari meninggalkan Claire. Dia takut api. Dan Claire menahan tangannya, "Udah di bantuin masak malah kabur!"
"Aku... Aku.."
"Kau harus di sini. Perhatikan wajannya. Kalau udah panas bilang. Aku mau motong sayur." Ucap Claire dengan sengaja menyuruh Ana di bagian kompor. Dia sangat suka melihat Ana menderita.
Ana sudah panas dingin. Sungguh ketakutan.
"Aku aja yang motong sayur... Please..." Ucap ana dengan memohon.
"Ck. Cuma di suruh liatin kompor doang. Manja!" Bentak Claire.
Ana mulai menangis. "Hu hu hu... Aku takut..." Dia sudah tak tahan lagi.
Ana punya trauma yang sangat mendalam mengenai api ataupun hal yang berkenaan dengan api.
Dia traumanya itu sangat kuat dan bahkan bisa membuat Ana menjerit, lemas, pingsan, step dan hal lainnya. Bahkan itu bisa memicu jantungnya berdegup kencang nafasnya tersengal.
Dropp
Dan ya. Ana sekarang pingsan.
Claire memutar bola matanya malas. Dia menendang nendang Ana di lantai, "Bangun. Ck."
"Makanya jangan coba coba menjauhkan ku dengan Vie. Kau akan kena akibatnya." Ucap Ana
Ana masih tak bangun.
Claire tak perduli dan kembali memasak dengan sesekali melangkahi Ana karena pingsan di lantai dapur.
Tanpa terganggu sedikitpun Claire menyelesaikan masaknya dan kemudian makan dengan tenang.
Sungguh lelaki yang tak memiliki hati.
__ADS_1