
...Author POV...
Vie duduk di bangku kelasnya, suasana menjadi riuh oleh gosip gosip tentang Vie dan Fian.
"Gila anjim. Aku pikir Vie polos otaknya, rupanya wanita murahan. Cih.."
"Is memang. Udah kelihatan kali... Semenjak dia dekat sama Fian aku udah curiga. Iuh... dasar rendahan."
"Ckckck. Udah jebol kali makanya di nikahi. Wkwk."
"Pake apa sih dia makanya Fian bisa nikahi dia?"
"Pake susuk kali. Biar jadi pemanis."
"Iuh. Najis..."
Begitulah hinaan seluruh kelas Vie. Tak ada teman ataupun salah seorang pun yang memihak padanya.
Malu tentu itu yang di rasakan Vie. Namun dia kembali mengangkat kepalanya dan menatap setiap orang yang menghinanya, "Heh kalian! Jangan sok tau! Mending kalian diam!" Amarah Vie.
Bukannya diam mereka makin menghina Vie, "Heh! Sial banget Fian nikah sama kau."
"Tau tu. Sadar banget mah aku... Ngak lama kalian pasti bakalan cerai..."
Vie sangat geram.
Kemudian ada satu tangan yang menjambaknya dari belakang membuat Vie menjerit. "Aa!! Sakit!!
"Heh! Ngak sadar diri banget sih! Gereget banget lihat cewe murahan kaya kau!"
Seketika ramai sekali yang mengepung Vie.
Plak
Pipi Vie di tampar oleh seseorang secara tiba-tiba dan yang lainnya menjambak rambut Vie. Vie tak dapat bergerak karena tangannya di tahan oleh mereka membuat Vie mudah menjadi bulan bulanan mereka. Vie menangis dan berharap ada seseorang yang menolongnya.
"BERHENTI!!" Jerit seseorang membuat seluruh atensi beralih pada orang tersebut.
Claire masuk ke dalam kelas membuat setiap orang tertunduk takut. Bahkan wanita yang tadinya sangat brutal menjadi kicep dan menunduk.
Siapa yang berani dengan Claire. Lelaki pendiam namun mematikan. Claire selain merupakan murid yang pintar Claire juga selalu memenangkan pertandingan taekwondo. Kalau kau berani dengannya siap siap patah tulang.
Claire lumayan terkenal di kalangan para siswa, walaupun tak terlalu tenar dan masih ada orang yang tak mengenalnya karena terlalu tertutup. Namun di kelas Vie, Claire cukup terkenal dan lumayan menjadi Idola wanita kelas.
Claire berdiri di hadapan Vie seketika mengeraskan rahangnya melihat pipi Vie terdapat bekas tamparan dan rambutnya acak acakan. Claire menatap tajam orang yang ada di dekat Vie yang menjambak dan menampar Vie tadi. "Udah lama aku gak patahin tangan orang." Tajam Claire dengan tatapan menusuk.
"D-dia wanita murahan Claire. M-masa dia masih SMA udah nikah... C-cewe apaan coba." Ucap wanita itu masih membela diri walaupun dengan nada ketakutan.
__ADS_1
Plak
Claire menampar wanita itu hingga jatuh ke lantai membuat wanita itu menangis dan menahan perihnya tamparan Claire.
"Sekali lagi ada yang menyentuhnya. Aku akan benar benar mematahkan tulang mu." Tajam Claire dengan mata elangnya.
Vie terdiam dan tak dapat berbicara lagi. Untuk kedua kalinya Claire menolongnya. Dan bukan Fian...
Claire mengusap wajah Vie dan menatapnya lekat, "Kamu jangan perduliin mereka. Aku akan selalu ada menolong mu." Kalimat terakhir Claire di akhiri dengan senyuman tulus dan menguatkan.
Vie tersenyum dan mengangguk. "Makasih."
Claire kembali menegakkan badannya dan berangkat ke luar kelas, mengingat sesuatu Claire menghentikan langkahnya membuat setiap orang yang menbully Vie yang melihat kepergiannya menahan nafas karena takut. "Sekali lagi aku telingaku mendengar kalimat hinaan kalian terhadap Vie, ku pastikan rahang kalian pecah." Ucap Claire.
Semua hening hingga Claire keluar dari kelas. Sungguh tak ada yang berani lagi dengan Vie hari ini. Mereka masih sayang nyawa.
***
Vie duduk sendiri di podium tempat duduk penonton basket. Fian bermain basket bersama teman temannya. Vie hanya diam, tak ada yang ingin duduk bersamanya dan bahkan malah menjauh dan berbisik bisik dari jauh menghina Vie.
Vie menunduk memandangi kakinya. Sungguh terasingkan dirinya.
Cup
Vie mendongak saat kecupan lembut pada pipinya membuat Vie kaget.
Wajah Vie kembali sendu saat melihat Fian. Dia kembali merunduk.
Fian mengenggam tangan Vie, "Kamu kenapa?" Tanya Fian.
Vie menggeleng, "Gak apa. Kamu main aja lagi sana." Ucap Vie tanpa melihat Fian.
"Kamu marah sama aku by?"
Vie menggeleng, "Gak Fian. Gak apa."
Fian memeluk dan menciumi pipi tembam sang istri bertubi tubi, "Sayang aku kenapa sih?"
Cup
Cup
Cup
"Cemberut mulu ih. Nanti aku gigit ya.." sambung Fian sambil mencumbu pipinya.
Semua orang makin membicarakan mereka namun tak bersuara. Mereka takut tapi tetap menggosip.
__ADS_1
Vie sungguh kesal. Kenapa jadi begini?!
Namun dia menahan amarahnya dan kembali menatap Fian, "Aku gak apa. Pulang sekolah nanti langsung ke rumah aja ya?" Pinta Vie.
Fian mengangguk, "Oke.."
***
Vie terus memandangi depan. Matanya lurus melihat jalannya tapi pikiran Vie tembus ntah kemana.
"Fian." Panggil Vie.
"Iya sayang," Fian sekali melihat ke arah Vie kemudian kembali melihat jalan agar memastikan mereka pada jalan yang benar.
"Fian. Aku boleh ngak pindah sekolah?" Tanya Vie dengan suara pelan. Dia takut dapat penolakan dari Fian.
"Kenapa sayang?" Tanya Fian mengkerutkan dahinya.
Sebenarnya Vie sedikit kesal dengan Fian. 'Kenapa dari tadi Fian hanya diam saja? Bukannya kemarin dia janji untuk melindungi ku?! Dan kenapa yang malah selalu ada itu Claire bukan Fian?!' batin Vie menggerutu.
"Aku mau pindah. Aku merasa ngak nyaman di kelas. Mereka membullyku." Vie menunduk dan hampir menangis.
Fian terkejut. "Kapan sayang? Kok bisa?! Katakan siapa yang melakukan itu, aku akan membunuhnya!"
Vie mendengus. "Claire udah marahi mereka tapi tetap saja mereka masih membicarakanku diam diam."
Fian membolangkan matanya, "Sayang. Kenapa dia masih dekat dekat kamu?! Aku nggak suka ya kamu terus terusan ngomong sama dia, deketin dia ataupun sekedar berpapasan sama dia! Ini udah kelewatan Vie, dia terus cari kesempatan padamu! Dia licik!"
Vie jadi tersulut emosi, "Kamu salahi aja dia terus! Kamu yang paling benar! Kamu paling benar terutama saat kamu ngak ada waktu aku di kasarin sama siswa lain di kelas! Kamu memang paling benar!"
Fian memiringkan kepalanya dan makin kesal, "Oh jadi kamu anggab dia lebih baik dari pada aku? Cuma karena dia nolongin kamu barusan doang? Kamu lebih pilih dia dari pada aku?!"
"Itu bukan soal pilih kamu atau dia. Ini masalah kamu yang suka nyalahin orang karena kamu merasa dia ngak pantes untuk di akui sebagai penolong selain kamu!"
"Vie! Kenapa kamu jalahin aku terus!"
"Aku ngak nyalahin. Kamunya aja yang bilang gitu!"
Fian mendengus dan membuang wajahnya malas, "Bilang aja kalau kamu suka sama dia! Kan memang dari dulu kamu ngak pernah cinta sama aku." Fian memelankan ucapan terakhirnya dan mengeraskan rahangnya.
"Fian aku memang dulu benci sama kamu. Tapi sekarang aku cintanya sama kamu. Kenapa kamu sensitif banget sih?"
Fian berdecih dan memilih bungkam.
Dia sungguh membenci topik pembicaraan kali ini.
'Lihatlah apa yang di lakukan Claire pada istriku! Vie jadi membangkang dan semakin suka membanding-bandingkan! Apa benar yang di katakan orang lain mengenai hubungan mereka hm?! Ck. Aku sungguh tak terima!"
__ADS_1