
...Ryan POV...
Aku melihat Vie yang tengah sibuk membenarkan genteng garasi di tengah malam melalui jendela. Terkekeh melihat tingkah bodohnya yang sama sekali tak paham memasang genteng baru.
Hiburan yang lumayan di malam hari bukan?
***
Aku memakan sarapanku dengan tenang dan beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki memasuki ruangan makan ini.
Papa?
Untuk apa Papa ke sini?
Aku berdiri dan melihatnya dengan wajah datar.
Dia bersama istrinya dengan angkuh berjalan masuk seakan akan rumah ini milik mereka, di belakang mereka terdapat seseorang yang menggunakan baju hitam dengan koper hitam pekat.
Papa berjalan mendekatiku dan tersenyum, "Selamat pagi anakku." Sapa papa dengan wajah penuh tipu muslihat.
"Ada apa kalian datang ke sini pagi pagi?" Tanyaku datar to the point.
Papa merangkulku, "Begini anakku. Kau adalah anak kebanggaan dan kesayanganku. Kau membuktikan bagaimana kau bisa menjadi manusia yang sukses dan membanggakan kami sebagai orang tuamu." Kata papa basa-basi.
"Langsung ke intinya saja. Ryan banyak kerjaan." Sambungku.
__ADS_1
Jika dia datang pasti akan ada suatu hal yang terjadi. Yang pastinya adalah hal yang merugikan.
"Kau tau anakku. Kau memiliki adik walau bukan dari ibu yang melahirkan mu bukan? Ayah ingin kau membagi hartamu dengan dirinya untuk membangun dia semakin sukses sepertimu kelak."
Aku menatap Papa tajam, "Maksudnya? Hartaku? Apa aku tak salah dengar?"
Berani sekali dia mengatur mengenai hartaku sedangkan dia sendiri tak pernah sama sekali memperlakukan aku sebagai anak dan mencampakkanku sama seperti sampah tanpa membiayaiku dulu.
Papa menepuk pundakku pelan, "Bantulah Papa mu ini nak. Dan berikan hartamu padanya. Papa sama sekali tak memiliki harta apapun nak. Sebagai anak yang tertua kau harus menjadi tulang punggung keluarga."
Aku merdecih, "Cih. Maksudmu, kau menikmati hartamu sendiri bersama istrimu ini dan kau membebani aku dengan anak mu ini huh?"
Aku menatapnya mengancam, "Apakah kau tak sadar betapa sadisnya dirimu memperlakukan aku sebagai anak. Kau mempermalukanku, mencaciku, makananku makanan sisa dan bahkan lebih sering bagiku untuk tidak makan, tinggal di luar rumah dan bahkan kau terus mengusirku setiap kali aku menampakkan diri padamu. Kau sebut kau orang tua?"
Papa malah menatapku rendah, "Itu karena kau adalah anak wanita ****** anakku. Kau seharusnya bersyukur masih tetap ku biarkan hidup dulu. Jadi kau harus berutang budi padaku."
Plakk
Papa menamparku membuatku menatap ke bawah akibat tamparan kerasnya, "Anak sampah! Beraninya kau berkata seperti itu padaku!"
Aku memegang pipiku dan merasakan ngilu dan cairan berasa besi mengalir di bibirku.
Aku menatap dia tajam, "Pergi dari tempat ini sekarang."
Dia meludah dan menatapku, "Dasar anak ****** sampah! Kau bukan anakku, Ibumu yang ****** itu telah bercinta dengan lelaki lain dan mengandung dirimu. Cih!" Dia pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Aku menggeleng dan kemudian berbalik badan. Aku terdiam saat melihat Vie tengah menatapku.
Cih. Pasti dia akan merendahkan ku setelah mengetahui ibuku adalah wanita rendahan. Dia berjalan ke arahku, pandangannya sulit ku tebak.
Aku membuang wajahku, "Pergilah dan kembali kerjakan.."
Kalimatku terpotong saat dia menjamah pipiku, "Sini biar ku obati."
Aku menatap wajahnya.
Ntah kenapa hatiku tersayat dengan sentuhannya.
Dia menarik tanganku dan menuntunku duduk di sofa yang di dekat kami.
Dia mengambil kompres dan mengompres pipiku.
Aku menahan tangannya, "Sudahlah. Jangan menyentuhku."
Dia menepis tanganku, dan kembali mengompresku, "Kau yang harus diam. Jangan menggangguku, aku akan mengobatimu."
Dia menatap dengan tatapan mata yang dalam, "Ada dua cara manusia dapat merubah diri. Pertama, Manusia yang belajar dari kesalahannya sendiri . Kedua, manusia yang belajar dari kesalahannya orang lain.
Kau bukanlah Ibumu. Bagaimana ibumu dulu lakukan itu hanyalah masa lalu."
Deg!
__ADS_1
Jantungku terus berdetak kencang saat dia mengatakan hal itu.