Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Terjebak


__ADS_3

...Author POV...


Fian menatap Vie yang tengah memasak untuknya. Dia memeluk Vie erat dari belakang, "Vie... Maafin aku."


Vie yang sedikit kaget karena pelukan itu menggerakkan badannya risih, "Lepas. Kalau ngak aku gak jadi masakin."


Fian mengerucutkan bibirnya sedih.


"Vie... Maafin aku." Ulang Fian.


"Maafin untuk apa. Semuanya udah ku lupakan. Intinya setelah perpisahan kita semua akan selesai." Vie masih bergerak tak nyaman beberapa kali.


Fian mulai menangis, "Mama sudah membohongiku. Dia menceritakan segala yang buruk mengenai kamu, dan bodohnya aku ngak cari kebenarannya dulu dan malah langsung mempercayainya. Vie aku minta maaf."


Vie sudah muak dengan ucapan Fian. Dia tak pernah percaya dan perduli lagi dengan Fian.


Vie mematikan kompornya dan membalikkan tubuhnya, "Kau ingin aku bahagia bukan?" Tanya Vie tiba tiba.


Fian mengangguk cepat.


"Maka ceraikan aku. Maka aku akan merasakan kebahagiaan yang teramat sangat." Ucap Vie dengan tatapan dingin.


Deg!


Fian terdiam.


Hatinya meringis merasakan sakit membatin.


Fian ingin kembali menjawab kalimat Vie dengan kata Tidak! Namun bibir Fian terkatup oleh kenyataan bahwa memang dia lah yang selalu membuat Vie menderita.


Fian menundukkan kepalanya menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya, sepertinya rasa sakit Vie sudah teramat dalam padanya hingga sangat benci padanya.


"Baiklah jika itu yang membuatmu bahagia. Aku akan lakukan itu."


***


Sidang perceraian telah selesai. Tak ada lagi yang perlu di bahas, kedua pihak telah setuju akan keputusan ini. Dan hak asuh anak ada di Vie,


Vie tak menuntut apa apa dari Fian. Intinya dia hanya mau pisah dari Fian untuk selama lamanya.


***


Hari demi hari berlalu. Vie telah membuka cabang toko nya ke kota lain dan menetap di sana sengaja agar jauh dari Fian.


Dan Fian. Dia kembali melanjutkan kehidupannya. Hidupnya penuh dengan dunia malam dengan pergi ke bar atau club mencari kesenangan namun tak pernah di dapatnya. Dia sama sekali tak pernah menyentuh wanita karena sama sekali tak bergairah dengan mereka.


Terkusus di malam ini Fian tak meminum apapun di Club dan hanya duduk sambil menghisap cerutu saja. Dan club kali ini bukan club biasa yang dia kunjungi.


Mata Fian terbelalak. Ntah ini mimpi atau tidak namun dia melihat Vie tengah bersama Claire. Kondisi Vie sangat mabuk sedangkan Claire masih sadar sepenuhnya.


Claire tampak menggendong Vie ala bridal style dan senyuman misterius. Membawanya ke suatu tempat.


Fian menggeleng, 'Apa yang di lakukan Claire?!' batin Fian sambil dia sendiri bangkit berdiri dan hendak mengejar Claire untuk menyelamatkan Vie. Namun seketika kaki nya terhenti.

__ADS_1


'Tapi, apa urusanku dengan mereka? Mungkin saja mereka sudah memiliki hubungan spesial, sudah menikah mungkin.' batin Fian lagi.


Namun sungguh hati Fian sangat tak tenang. Dia tak yakin Claire membawa Vie ke sini untuk hal yang biasa saja.


Fian kembali mengikuti Claire dan Vie.


Seingat Fian Club ini memiliki fasilitas kamar untuk bermalam yang sangat nyaman untuk suatu pasangan yang ingin menikmati malam setelah puas dengan minum minuman. Dan arah langkah kaki Claire persis mengarah pada kamar kamar tersebut.


"Claire... Panas... Panas..." Keluh Vie dengan tubuh yang bergerak tak nyaman.


'Panas?' Batin Fian yang menguntit di belakang mereka dan bersembunyi di balik tembok yang lebih menonjol dari tembok lainnya.


Claire tersenyum miring, "Aku akan membantumu Vie... Dan bahkan rasa lebih nikmat dari pada saat kamu bersama Si sialan itu."


Vie tak dapat menangkap apa yang di katakan Claire. Tubuhnya sungguh kepanasan setelah meminum minuman yang Claire berikan padanya tadi.


Seperti menahan gejolak yang aneh.


Vie segera memeluk Claire membuat Claire tersenyum miring. Claire kemudian mengubah posisi Vie menghadapnya seperti menggendong anak kecil membuat badan mereka saling berhadapan, sengaja membuat Vie lebih leluasa memeluknya.


Pikiran Vie sudah ntah kemana. Dia tak tau lagi.


Vie memeluk Claire erat erat, merasakan tubuhnya menjadi lebih bergairah. Vie mendesah membuat Claire semakin bersemangat dan mempercepat langkahnya.


"Aku senang kamu bercerai dengannya. Dan lihatlah aku akan menggantikannya sayang...." Ucap Claire dengan berbisik namun dapat di dengar Fian yang masih membuntuti.


Claire telah berada di depan pintu kamar sedangkan Fian agak sedikit jauh dari tempat mereka.


Claire masuk dan menutup pintu kamar secara perlahan, "Dengan menikmatimu kau takkan bisa lagi menolakku menjadi suamimu bukan?" Claire tersenyum miring licik di akhir kalimatnya.


Pintu terkunci.


Deg!


Fian tersentak.


"Brengsek!!"


Claire menjebak Vie dengan cara kotor.


Segera Fian berlari ke arah kamar itu. Dengan emosi yang membeludak membuat Fian mengedor ngedor pintu kamar itu.


Claire yang baru saja akan menindih Vie memutar bola matanya gusar. Apa lagi itu?!


Dengan sangat terpaksa dia kembali ke arah pintu dan membukanya.


Brakk Bukk


Pintu terbuka dan satu bogeman meluncur ke pipi Claire.


"Dasar brengsek!! Kau menjebaknya!!"


Claire meringis kesakitan, sungguh sakit pukulan Fian pada wajahnya, belum lagi tubuhnya yang tercampak ke lantai dan menghantam lantai dengan keras. Bagaimana Fian bisa berada di sini?

__ADS_1


Dasar sialan!


Fian menarik kerah Claire paksa membuat Claire yang tersungkur tadi tertarik berdiri.


Buk buk buk buk


Tinjuan bertubi-tubi menghujam di wajah Claire.


Fian menarik Claire ke ambang pintu dan mendorongnya keluar.


Claire terhuyung dan kembali memposisikan tubuhnya berdiri tegak. Karena tak ingin di hajar habis habisan oleh Fian, Claire memilih pergi terbopoh bopoh.


"Aku akan membalasmu!" Ancam Claire.


Fian dengan ngos ngosan emosi hendak mengejar Claire.


"Panass.... Please... Panas sekali..." Rintih Vie dari arah belakangnya.


Fian kesal tak bisa mengejar lelaki sialan itu untuk kembali memukulnya karena dia harus segera melihat keadaan Vie yang lebih penting.


Fian menutup pintu dan menguncinya.


Segera Fian berlari ke arah Vie berada.


Fian meneguk salivanya berat. Vie membuka dengan paksa pakaiannya hingga hampir terbuka seluruhnya.


Fian menggeleng. Tidak. Dia tidak boleh.


Vie yang tadinya menutup matanya kepanasan kini membuka matanya.


Dia melihat Fian tengah membuang pandangannya.


Kesadaran Vie telah hilang ntah kemana. Yang dia rasakan hanyalah naf*su sekarang.


Vie bergerak ke arah Fian dan kemudian menarik tengkuknya. Mencium lelaki itu.


Fian mencoba menahan Vie dengan menahan pinggangnya, namun dia pun kalah dengan keadaan ini. Dia sangat merindukan tubuh wanitanya ini.


Tangan Fian mulai masuk ke dalam baju Vie kemeja Vie yang sudah terlepas kancing depannya semua membuat Vie mulai mendesah.


Fian menurunkan ciumannya ke leher Vie dan mulai menyesapnya.


Vie mengeluh nikmat.


Fian menggendong Vie dan menindihnya di ranjang. Tetap dengan ciumannya Fian membuka pakaian Vie.


Kemudian Fian kembali tersentak. Dia tak bisa melakukan hal ini. Tidak.


Fian menahan tubuh Vie dan menggulung tubuh Vie dengan selimut hingga tampak seperti pocong.


Vie menatap Fian dengan kecewa dan menangis, "Hu hu hu..."


Fian menjambak rambutnya prustasi. "Arh....."

__ADS_1


Kalau saja Vie masih miliknya dia akan dengan senang hati dan bahkan lebih ganas memuaskan hasratnya.


Sungguh malang nasib Fian.


__ADS_2