Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Membenci Vie


__ADS_3

...Andra POV...


Aku melihat ke arah Vie sambil menyelidiki.


Apa bagusnya wanita ini sehingga membuat Ryan menjadikannya sebagai Nyai lebih dari pada 1 hari.


Aku sebenarnya sudah tau mengenai wanita yang di jadikan Nyai ini karena aku selalu menanyakan mengenai keadaan Ryan dengan pembantu yang ada di rumah Ryan tanpa sepengetahuan Ryan.


Aku sangat tau Ryan adalah lelaki yang cepat bosan jika berhubungan dengan wanita kecuali aku yang merupakan teman masa kecil Ryan. Aku sungguh sudah terikat dengannya dan bahkan sudah di jodoh jodohkan sejak kecil. Namun Ryan, Ryan bahkan menolak perjodohan ini karena dia berkata ingin melanjutkan karier terlebih dahulu.


Dan anehnya sekarang. Sekarang kenapa dia malah meminang seseorang menjadi Nyainya dan bertahan sampai selama ini?!


Sialan wanita ini!


"Em.. enak banget martabaknya," kata Vie membuat aku kembali fokus padanya dan kembali memasang topeng senyuman.


"Ah benarkah? Tentu saja. Ini adalah jualan martabak yang legendaris dan pasti memiliki resep rahasia," ucapku.


Cih. Apanya yang enak. Mana ada masakan pribumi yang enak dan lezat.. dasar kalangan bawah.


Lihatlah. Bahkan dia mengatakan makanan menjijikan ini lezat. Bagaiy lagi jika di merasakan Pizza, Sponge cake dan makanan elit lainnya.


"Wah.. kau tau sangat tau mengenai tempat tempat di daerah ini. Hebat sekali," ucapnya kagum.


Dasar bodoh! Kami kan menjajah negaramu, bagaimana kami bisa tidak tau kondisi pasar perdagangan di sini.


Aku terkekeh singkat, "Owh. Itu. Aku sudah pernah tinggal di sini 1 tahun. Jadi aku tau mengenai tempat tempat di sini," alasanku.


Dia tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Iuh... Bahkan dia makan berselemotan. Kotor sekali jadi wanita!


Aku menunjuk sudut bibirku, "Di bibirmu ada selai kacang."


"Eh. Iya kah?"


Aku memberikan dia sapu tangan untuk membersihkan bibirnya, dan yang pasti aku takkan mau memintanya kembali. Najis.


"Makasih," ucapnya sambil mengambil sapu tanganku dan menlap bibirnya. "Nanti akan aku kembalikan setelah aku selesai membersihkannya."


"Ah, tidak perlu repot-repot. Itu untukmu saja," aku tersenyum ramah.


"Eh ngak boleh gitu. Aku harus mengembalikan punyamu nanti," jawabnya.


Aku mengangguk, "Baiklah."


Iya, setelah itu aku buang.


"


Nah. Ini untuk kamu dan ini untuk Ryan," Aku memberikan 6 bungkus makanan. 3 untuknya dan 3 untuk Ryan.


"Aduh Andra, ini terlalu banyak. Kamu sudah mentraktirku banyak makanan tadi. Dan sekarang kamu memberikannya lagi. Aku sungguh tak enak hati," ucapnya sungkan.


"No problem. Ini makanan enak banget. Aku bawa jauh jauh dari Prancis, kue kering yang paling di gemari di sana. Belum lagi minumannya yang sangat segar. Kalian harus coba," kataku dengan senyuman yang masih merekah terutama karena ada Ryan di sini. Dia harus terus memperhatikanku.


Ryan tersenyum, "Baiklah, terimakasih. Kau boleh pulang sekarang, sudah malam." Ryan mengusap kepalaku lembut membuat aku merasa sangat di cintai, "Aku sudah menyuruh supir pribadiku mengantarkanmu pulang."


"Wait. Kau menyuruhnya pulang malam malam gini ke Belanda?! Gila! Ngak punya hati kau ya!" Pekik Vie dengan marah pada Ryan.

__ADS_1


Ktak


Ryan menjitak kepala Vie, "Mana mungkin. Dia punya rumah di daerah sini. Andra akan tinggal di Indonesia 1 minggu."


Vie hanya ber-oh ria tanpa bersuara.


"Sekaligus untuk mengadakan acara ulang tahunku besok! Kalian jangan lupa datang ya... Aku tunggu kehadiran kalian." Aku tersenyum riang.


Vie tersenyum lebar, "Tentu kami akan hadir. Ya kan Ryan?"


"Maaf aku tak bisa. Besok masih banyak kerjaan," tolak Ryan sambil melihat arlojinya.


Ck. Why?!


Tapi mau apa di kata, sekali Ryan sibuk dan menolak sesuatu pasti akan tetap di tolak. Dia keras kepala dan berhati batu.


"Ayolah Ryan. Andra kan udah datang jauh jauh. Masa kau sejahat itu sih..." bujuk Vie.


Apaan sih. Mana bisa Ryan dibuj..


"Hm. Iya." Setuju Ryan.


Mataku terbelalak saat melihat hal yang sangat tak mungkin bisa terjadi. Antara senang karena dia hadir dan tak percaya dia bisa mengikuti permintaan seseorang... Dan yang lebih parahnya itu adalah seorang wanita menjijikan ini.


Vie mengenggam tanganku dengan wajah berseri, "Kami akan hadir dan memeriahkan pesta ulang tahun mu!"


Aku mengangguk kaku dengan tersenyum di paksakan, "T-that's great. Aku tak sabar menunggu esok."


"Em. Aku pulang dulu. Bye.." kataku sambil berbalik meninggalkan mereka.

__ADS_1


Rasa kesal menyelimuti diriku. Aku membenci hal ini.


Intinya besok aku akan menjadi paling cantik di antara peserta yang hadir! Lihat saja!


__ADS_2