Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Pertanyaan Besar


__ADS_3

catatan penulis:


sebelum mohon maaf ya guys author lama up. bukan karena author sengaja lama lama up guys, hanya saja lagi banyak tugas yang mengharuskan untuk di kerjakan terlebih dahulu 😭...


Tapi karena suport kalian yang terus mengalir dari like dan vote buat aku jadi semangat untuk up guyss. Makasih yaaa....


dan untuk melepas kerinduan kalian, aku bakalan up 3 chapter yaaa... semoga kalian suka guysss...


dan jangan lupa dukungannya ya... Like, Comment and Vote yaaa... thanks...


---------------------------------------------------------------------------


...Author POV...


Fian tersenyum kecil saat melihat istrinya itu tengah memasak sarapan. Vie tak menyadari keberadaan Fian yang berada di belakangnya sampai Fian memeluknya dari belakang, "Masak apa?"


Vie kaget dan memukul lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya, "Kamu ih. Buat kaget."


Fian menciumi pipi Vie.


Cup


Cup


Cup


"Biarin." Fian terkekeh.


Fian membalikkan badan Vie dan kemudian mencium bibirnya dan mulai **********.


Vie mendorong tubuh Fian membuat Fian merenggut, "Fian. Aku mau masak." Ucap Vie.


"Ngapain masak sayang. Kan udah ada Bi Minah." Fian tak suka jika kesenangannya terganggu.


Vie memegang pipi Fian dengan sedikit menekannya, "Gak. Aku mau masak buat suami aku. Itu salah satu tugas istri."


Fian tersenyum kecil setelah merengut beberapa saat, "Hm... Iyaa."


Vie terkekeh dan sedikit menolak tubuh Fian. "Ya udah sana gih aku masak dulu."


Walaupun sedikit kesal karena Vie tak membalas ciumannya Fian terpaksa mengalah. 'Palingan nanti malam kan bisa minta jatah' Batin Fian sambil tersenyum smirk.


***


Hari ini adalah hari yang ruyem di sekolah. Semua murid maupun guru tengah sibuk dengan acara yang akan di adakan di sekolah. Acara Minat Bakat antar sekolah.


Banyak yang menantikan acara ini karena memang banyak yang akan mempertunjukkan kebolehannya. Terutama yang paling di tunggu adalah acara yang di hadiri oleh para cogan antar sekolah hadir.


Karena pada tahun ini sekolah Angkasa alias sekolah Fian yang menjadi tuan rumah maka pembelajaran hari ini di percepat dan lebih memfokuskan untuk acara yang ada.

__ADS_1


Fian yang merupakan salah satu dari anggota OSIS tak ambil pusing. Dia tak mau di ribetkan oleh masalah acara untuk besok, dia tak perduli. Yang hanya dia perduli kan hari ini harus cepat pulang dan berjumpa dengan Vie.


"Kak!" Panggil seseorang ke arah Fian. Fian menoleh.


"Kak. Kakak di panggil sama anggota OSIS lain kak." Ucap wanita mungil itu pada Fian.


"Gak! Pergi aja sana!" Bantah Fian.


Remaja pendek itu merenggut sambil menahan kesal. Untung saja Fian ganteng, kalau tidak wanita itu pasti bakalan lebih cerewet.


"Tapi kak. Kakak kan OSIS. Masa pergi gitu aja sih."


Fian kembali menatap wanita itu sangat tajam, "Bisa diam gak?! Atau aku patahin tulangmu!"


Wanita itu ketakutan dan akhirnya berlari meninggalkan Fian. Fian sangat tak ada akhlak.


Fian kembali berjalan melewati kerumunan karena baru pulang sekolah di tambah karena kesibukan membenahi acara untuk besok.


Fian terbelalak saat melihat Vie yang sudah pergi ke luar gerbang dengan membawa tas sekolahnya. Segera Fian berlari mendapatkan Vie. "Kenapa kamu ngak tungguin aku pulang?"


Vie mendengus berat, "Fian. Kalau aku dekat dekat kamu terus aku bakalan di bully. Mendingan aku cepetan pulang."


Fian menatap Vie sendu, "Siapa sih yang berani sama kamu? Kasih tau aja sekarang, mereka ngak akan selamat!"


Nada Fian penuh dengan ancaman yang beringas,


'Satu sekolah ini membenciku. Jadi mendingan kamu agak usah dekat dekat aku kalau di sekolah.' batin Vie dengan wajah menunduk.


"Gak bisa gitu Vie. Mereka udah keterlaluan!"


Vie yang melihat suaminya makin marah langsung memeluk suaminya, dia takut Fian makin berbuat nekad dan membuat huru hara di sekolah.


"Fian... Udah. Kamu jangan marah marah sayang."


Fian mendengus berat. Kalau tidak karena Vie yang nelerang


Fian memegang dagu Vie membuat Vie mendongak, "Kamu maunya gimana? Aku turutin apa yang kamu mau aja."


Vie menghembuskan nafas berat sambil berfikir sejenak, "Ya udahlah gak usah di pikirin. Toh juga kita di sini setahun lagi. Udah kelas tiga juga soalnya,"


Fian menatap Vie lekat, "Kamu serius? Bilang aja sayang, ngak usah di pendem. Aku ngak mau kamu jadi tertekan karena hal ini."


Vie tertegun, sebenarnya dia memang tertekan karena hal ini, tapi Vie tak mau Fian jadi susah karenanya.


"Gak apa Fian. Gak masalah." Vie mengangguk pasti.


Fian menatap Vie lekat, "Sungguh?"


"Iyaa sayang..."

__ADS_1


Fian masih ragu dengan ucapan Vie.


Vie tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher sang suami karena menyadari suaminya yang masih tak percaya seutuhnya padanya, "Fian jangan cemberut. Nanti gantengnya ilang." Ledek Vie.


Fian menggerutu, "Ih kamu mah. Aku kuatir malah di ejek."


Vie terkekeh dan memeluk Fian erat, "Udah ah. Kita mending pulang sekarang.


Ih iya! Kamu kan ada kegiatan OSIS bukan? Bantuin gih sana." Suruh Vie setelah mengingat bahwa Fian merupakan bagian dari OSIS.


Fian menggeleng. "Gak, males. Mending berduaan sama kamu," Fian menaik turunkan alisnya menggoda Vie.


Merasa tidak aman Vie mendorong tubuh Fian agar menjauh, tapi tangan Fian lebih dahulu menarik pinggangnya mempererat pelukannya. "Sayang... Mau..." Ucap Fian manja dengan mendekatkan wajahnya pada Vie.


Saat hendak di cium Vie mengelak, "F Fian. Kamu kan ketua OSIS. Masa malah pergi." Ucap Vie sedikit gerogi.


Fian terkekeh, "Kalau ketua mah bebas. Lagipun mereka yang memilihku bukan aku yang mau. Sooo...


Let's go home and make a love." Ucap Fian dengan senyuman miring dan langsung menggendong Vie ala bridal style.


Vie menyerngit saat Fian menggendongnya. "Fian malu!" Vie memukul dada suaminya.


Fian tak menjawab dan hanya tertawa puas.


***


Vie menulis nulis di bukunya. Tugasnya baru saja selesai dan sekarang pikirannya kembali bercabang. 'Kalau di pikir pikir, aku gak pernah jumpa sama kedua orang tua Fian secara langsung.' batin Vie.


'Aku juga cuma sekali jumpa sama mereka, itupun waktu pernikahan dan bahkan sebelum acara selesai mereka udah pergi gitu aja. Aku jadi tak pernah berbicara pada mereka sekalipun.


Hm... Kenapa ya?' Vie terus berfikir.


Dreb


Vie terkejut saat di peluk seseorang.


"Sayang.." ucap Fian sambil cengengesan.


Vie menoleh. Fian langsung merengut bibir Vie dengan mengeratkan pelukannya. Vie yang awalnya tak ingin membalas jadi terbawa suasana dan membalikkan badan sambil melingkarkan tangannya di leher Fian.


Fian tersenyum kecil dan dengan cekatan menggendong istrinya di depan tubuhnya.


Sambil membawa Vie ke atas ranjang Fian mulai menindih istrinya.


Fian menghentikan ciumannya dan menatap lekat Vie, "Sayang. Boleh ya?"


Vie kembali tersadar dan mengingat sesuatu, "Fian aku mau ngomong sesuatu dulu."


Fian mengerutkan keningnya, "Mau ngomong apa?"

__ADS_1


Vie memegang tengkuknya yang tak gatal, "Hm. Aku belum pernah jumpa sama mama dan papa kamu. Kapan kita bisa jumpa langsung sama mereka? Maksudnya, biar kita bisa ngobrol ngobrol gitu...."


Fian tertegun. Rasanya Fian langsung panik dan bingung harus jawab apa. Vie tak tau apa yang terjadi antara Fian dan keluarganya sebelum menikah, dan Fian yakin jika Vie mengetahuinya Vie akan marah besar.


__ADS_2