
...Author POV...
Vie dan Fian berjalan jalan di taman dekat tempat kediaman mereka.
Karena kelelahan Vie menghentikan langkahnya, "Cape." Keluh Vie dengan memayunkan bibirnya.
Fian terkekeh, "Cape?"
Vie mengangguk cepat.
Tingkah laku Vie membuat Fian gemas dan kemudian memeluknya, "Ya udah. Kita istirahat dulu ya?"
"Okee." Sahut Vie senang.
Dan akhirnya mereka duduk istirahat di bangku taman.
"Sayang haus ngak?" Tanya Fian yang di jawab anggukan Vie.
"Ya udah. Kamu tunggu disini ya. Aku beliin minum."
"Jangan lama lama." Ucap Vie ketika Fian hendak berjalan menjauh.
Fian menoleh dan tersenyum, "Iya sayang..."
Fian pun pergi.
Disaat yang bersamaan Vie melihat seorang wanita tengah kesulitan membawa belanjaannya membuat hati Vie tergerak untuk menolong ibu tersebut.
Vie berjalan ke arah wanita paruh baya itu. "Ada apa bu?" Tanya Vie.
Ibu tersebut mengangguk, "Ah. Tadi saya menjatuhkan kunci mobil dan ngak sengaja tertendang ke dalam kolong mobil. Saya kesulitan mencarinya karena banyak belanjaan di tangan saya nak."
Vie mengangguk, "Biar saya Carikan ya Bu."
Ibu tersebut tak enak hati, "Eh ngak usah nak. Ngak apa, ibu aja yang cari."
Vie tersenyum ramah, "Gak apa Bu. Ini juga masih kerepotan. Jadi saya bantu saja." Vie segera mencari kunci di bawah mobil wanita itu.
Beberapa saat kemudian Vie menemukannya. Vie kembali menegakkan badannya dan menunjukkan kunci mobil wanita itu, "Saya menemukannya Bu." Vie segera memberikannya pada ibu tersebut.
Wanita itu tampak bersyukur sambil menerima kuncinya, "Makasih banyak ya nak. Kamu baik sekali."
Vie tersipu, "Ah ibu bisa saja."
"Oh ya Bu. Saya harus segera kembali, sepertinya saya sudah di tunggu." Ucap Vie mengingat Fian akan segera kembali. Takut takut suaminya bakalan marah.
Ibu tersebut tampak sedih, "Yah, padahal saya mau ngajak kamu ngobrol tadi."
"Maaf banget Bu tapi saya ngak bisa. Mungkin lain kali kita bisa berjumpa lagi,"
Wanita itu menghela nafas panjang dan kemudian tersenyum kecil, "Ya sudah tidak apa. Oh ya, sekali lagi terima kasih ya bantuannya."
"Iya Bu. Sama sama. Saya luan ya Bu."
"Iya, hati hati yaa."
__ADS_1
Vie mengangguk, "Iya Bu." Lalu segera pergi.
Vie kembali berjalan ke tempat dia sebelumnya namun di sana telah menunggu Fian dengan wajah kesal melihat Vie yang hilang ntah kemana tadi.
Vie berjalan perlahan ke arah Fian yang sudah menyadari keberadaan Vie. Dengan cengiran kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal
Vie berdiri di sebelah suaminya, "Anu. Tadi aku bantuin ibu ibu nyariin kunci tadi."
Fian menatap tajam Vie, "Jadi kamu lebih perduliin ibu itu dari pada aku sekarang huh?"
"Kasian tau ibu ibunya. Masa kamu sama ibu ibu aja cemburuan sih yang."
"Ya cemburu lah. Kalau ibu ibu itu bawa anak laki lakinya gimana? Terus malah deketin anaknya itu ke kamu."
"Ya enggak lah sayang. Kamu berlebihan. Denger ya, sekali pun dia punya anak laki laki dan bawain ke aku anaknya itu aku ngak akan mau. Kan aku udah milik kamu." Gombal Vie.
Ingin rasanya Fian terkekeh. Namun dia urungkan karena masih kesal, "Tau ah. Aku kesel sama kamu."
"Jangan ngambek dong. Nanti gantengnya luntur."
"Biarin."
Vie terkekeh dan memeluk suaminya manja, "By... Makan yuk."
"Gak usah alihin perhatian deh. Aku masih marah." Fian menatap datar Vie.
Vie mengerucutkan bibirnya, "Em. Jangan marah dong yang..." Tapi memang benar nyatanya Vie sangat lapar setelah olahraga sore. Namun masih tak di jawab oleh sang empunya badan.
"Fian... Laper..." Keluh Vie lagi.
"Aku juga laper." Ucap Fian akhirnya.
"Kamu."
Vie menyerngitkan dahinya, "Huh? Oh. Maksudnya aku mau makan apa ya. Kalau aku mau makan hm... Bakso aja gimana?"
"Bukan." Ucap Fian dengan senyuman miring. "Aku mau makan kamu." Sambung Fian.
"Ih apaan!" Vie memukul dada suaminya dan membuat Fian terkekeh.
"Gak jadi lapar. Aku mau pulang aja." Vie mendengus.
Fian menoel hidung Vie, "Oh jadi sekarang malah ketularan ngambeknya hm?"
Vie mengangguk, "Hm. Kamu nyebelin."
Fian kembali terkekeh, "Iya deh. Maaf.
Kita pulang aja ya? Kamu yang masakin. Masakan kamu lebih enak."
Puji Fian dengan mengacungkan salah satu jempolnya dan tersenyum.
"Iya deh iyaa..."
***
__ADS_1
Fian menyantap masakan Vie dengan wajah berseri. Tidak pernah mengecewakan memang masakan Vie.
Vie tersenyum melihat Fian makan dengan lahap dan membuat dia jadi selera makan juga.
Saat hendak menyuapkan sesendok Nasik ke dalam mulutnya, Vie mengingat sesuatu. "Fian, kira kira kapan ya kita jumpaan sama papa dan mama kamu?"
Fian berhenti makan dan seketika senyumannya menghilang. Fian kembali mengingat kalimat orang tuanya yang sangat membuatnya jengkel.
"Senin depan Mama sama Papa mau jumpa sama kita." Kata Fian tanpa minat.
"Wah serius?!" Vie sangat gembira. Akhirnya dia bisa berjumpa langsung dengan martuanya. Vie bahkan tak mengingat wajah martuanya lagi kala itu.
"Hm." Fian hanya berdehem mengiyakan kalimat istrinya.
Vie segera berjalan menuju bangku di sebelah Fian dan memeluk suaminya. "Aku senang banget sayang..."
Fian melihat istrinya tak tega. Begitu menantinya Vie akan kedatangan orang tuanya tapi orang tuanya malah masih tak mempercayainya sebagai menantu.
Fian mendekap istrinya dan menatap Vie dengan serius. Vie yang di tatap jadi deg degan sendiri. "K-kenapa?"
"Apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Ucap Fian dengan nada suara yang sangat intens.
Vie mengangguk kaku, "Iya. Aku juga."
Tanpa aba aba Fian mencium bibir Vie dan memperdalam ciumannya perlahan. Vie sedikit kaget di tambah bingung, kenapa suaminya tiba tiba begini? Apakah ada sesuatu yang terjadi?
Fian melepaskan ciumannya perlahan dan tersenyum, "Kok ciuman aku ngak di bales?"
"Huh? Anu. Itu. Aku." Vie belum siap tiba tiba di tanya.
Fian terkekeh geli dan kemudian bangkit berdiri dan menarik tangan sang istri, "Sayang aku ngantuk. Kita istirahat dulu ya."
Vie semakin bingung. Tak biasanya suaminya setelah makan langsung istirahat. Ini pertanda hal buruk Pati terjadi. Tapi Vie tak tau apa.
Fian yang menyadari bahwa Vie ingin mempertanyakan sesuatu darinya langsung menggendong Vie, "Jangan berfikir yang ribet. Aku cuma kecapekan aja. Ngak ada yang lain."
"Tapi kenapa Fian..."
"Gak ada Vie... Ngak terjadi apa apa. Cuma cape doang." Fian langsung menyelah ucapan Vie.
"Udah ah. Kalau kita terus ngobrol buat tenaga kita makin habis. Kita langsung istirahat aja."
Mau ngak mau Vie terpaksa mengangguk.
Fian tersenyum dan kembali berjalan ke kamar.
***
Vie memperhatikan suaminya yang telah tertidur pulas sambil memeluknya. Suasana jadi semakin aneh, semakin Vie berfikir semakin pusing juga dia karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Fian tetap tak membuka suaranya.
Karena lelah Vie pun tertidur pula sambil mengelus rambut Fian.
Fian yang sebenarnya belum tetidur pun perlahan mengintip. Dia melihat sang istri sudah tertidur membuat dia kembali mencelos. Fian kembali mengeratkan pelukannya dan mendekap Vie dalam dada bidangnya. Dia sungguh mencintai Vie.
__ADS_1
Apapun yang terjadi Fian takkan pernah membiarkan Vie terluka oleh orang tuanya.
Tidak. Fian takkan pernah biarkan itu terjadi.