
Catatan penulis:
jangan lupa tinggalkan jejak ya guys 🤗
---------------------------------------------------------------------------
Aku membuka pintu kamar. "Iya Tuan?"
Dia menatapku tajam. "Tadi aku berkeliling. Halaman belakang banyak sekali rerumputan ilalang. Bagaimana kau ini huh? Tak becus sekali bekerja!" Tuntutnya tajam.
Aku mendengus kesal. Bagaimana bisa kau mengerjakan semua pekerjaan rumah sekaligus kebun belakang yang luasnya seperti lapangan sepak bola?!
"Kenapa. Kau mau menuntut?" Tanyanya dengan lembut.
Aku mendongak dengan mata berbinar mendengar nadanya seperti akan mengampuniku.
"Hukumanmu di tambah 100 kali push up," katanya tanpa ekspresi membuat aku shock berat.
Damn?!
"200," tambahnya.
Mataku terbelalak dan mulutku semakin mengaga. Huh?!!!
"300," katanya lagi. Dia tersenyum miring tajam.
Cih! Sepertinya semakin aku tak terima semakin dia akan menambah hukumanku!
Aku merundukkan kepalaku ke bawah. Aku terdiam sesaat sebelum akan menjawab. "Maaf Tuan. Besok akan saya kerjakan." Patuhku.
"Besok? S E K A R A N G." Ejanya sombong dengan tangan di lipat di dadanya.
Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya emosi. Apa Dia Gila?!!
"Push up 500 kali, keliling lapangan 100 kali dan bersihkan halaman belakang sampai mataku tak risih melihatnya."
SETAN!!!!
Aku langsung menutup mataku menahan amarah. Kalau tidak dia akan menambah hukumanku bukan?
"Tunggu apa lagi. Cepat." Katanya dengan tatapan mengintimidasi.
Aku langsung mengambil gunting kebun di gudang dan hendak pergi ke halaman belakang.
"Heh mau ke mana!" Panggil Ryan.
"Ya mau bersihkan halaman belakang lah Tuan..." ucapku dengan penuh penekanan karena menahan kesal. Udah dia yang suruh dia yang nanya!
"Keliling lapangan dulu baru push up. Setelah itu baru bersihkan halaman belakang." Ucapnya santai.
Ini orang minta kena tiban batu nih palanya!
__ADS_1
Arh...
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya meletakkan gunting rumput dan mulai berlari keliling lapangan.
***
Nafasku udah sesak berlari 100 putaran lapangan. Aku terkapar di lantai dan mengatur nafas yang menggebu-gebu tadi.
Dia berdiri di sebelahku dan melihat ke bawah melihatku, dia terkekeh singkat meremehkan. "Cepat push up sekarang."
Aku memicingkan mataku kesal, "Kakiku mau copot karena capek berlari. Tunggulah sebentar Tuan." Aku meminta keringanan.
"Siapa yang menyuruhmu berlari? Aku menyuruhmu keliling lapangan. Keliling bukan berarti berlari bukan?" Dia menaikkan salah satu alisnya tersenyum devil.
Aku bangkit duduk dan menatapnya marah, "Kenapa ngak bilang dari awal Tuan?..."
"Heh. Aku sudah menyatakan di awal tadi." Dia menunjuk jidadnya, "Makanya kalau orang bicara itu didengar dan di pahami pakai otak. Punya otak kan?"
Aku menggenggam tanganku menahan emosi.
Sumpah. Dia makin ngeselin aja.
"Cepat push up! Mau apa ku tambahi hukumanmu?" Dia menaikkan salah satu alisnya tersenyum jahat.
Aku berdiri dan melanjutkan untuk Push up.
Dasar iblis!
***
Ntah jam berapa ini aku pun tak tau. Badanku rasanya remuk dan bengek.
Aku menutup mataku mengistirahatkan diri sebentar.
Seseorang menendang bahuku dengan ujung sepatunya, "Heh. Mana sarapanku."
Aku membuka mataku, "Sabar lah. Baru siap babat rumput nih!"
"Sit up 50 kali." Hukumnya.
Arh!!!!
Tarik nafas... Buang... Tarik nafas... Buang.
Aku melihat ke arahnya dan mulai sit up.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50!
HAH SIAP!
Aku bangkit berdiri dengan linglung dan berjalan menuju rumah.
__ADS_1
"Mau kemana?"
Ish!!! Apa lagi sih?!
Aku menoleh dengan wajah tersenyum di paksa, "Mau ke dapur Tuan... Buat sarapan." Aku berhenti tersenyum di akhir kalimatku kesal.
"Bersihkan dirimu. Dasar jorok." Hinanya.
Jdjskejdjsk.. sabarrr... Astaga...
Aku kembali tersenyum lebar, "Baik Tuan!" Kemudian berhenti tersenyum dan pergi meninggalkannya.
***
Aku beberapa hari yang lalu telah banyak membaca cara masak memasak makanan bule yang simpel.
Dan hari ini aku memasak steak kambing.
Kemudian menyajikannya pada lelaki sialan ini.
Dia menyuap satu suapan ke mulutnya. Dia tersenyum miring, "Hm. Biasa saja."
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Sabar...
Dia menatapku tajam. "Heh. Sekali lagi aku mendengar kau mendengus mengeluh, menatapku marah, lama bekerja dan bahkan mengumpat, aku tak akan segan segan menghukummu."
Apa lagi ini Tuhan....
"50 push up." Hukumnya.
"Lah memangnya aku ngapain?"
"100." Tambahnya lagi.
Aku menahan ekspresi kesalku dengan senyuman.
"200." Tambahnya.
"Huh?"
Dia mengedikkan bahunya acuh, "Ntahlah. Aku suka saja menghukummu."
Aku mengusap wajahku perlahan dan kembali diam.
"Cepat lakukan."
Sabar...
Aku melakukan push up 200 kali sambil mengumpat dalam hati.
Dia tersenyum miring puas dan kemudian melanjutkan makannya.
__ADS_1