
Catatan penulis:
Hai my readers yang paling keceh membahanaaaa.... Aku kembali up ceritanya yauu...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ye, ingat guys... Like itu gratis. Okeyy
Lop yu oll
Eh btw... Happy New Year Guyssss... semoga kalian semakin bahagia, sehat dan sukses selalu.... Amin yaa.... hehe. Oke deh, langsung aja bacanya yaa
-----------------------------------------------------------
Guru pelatihku telah datang dan hari ini kami langsung melakukan suatu gerakan.
Aku berlatih berdansa dengan penuh kehati-hatian. Rasanya tulang dan persendian ku hampiri remuk seketika, latihan ini sangat melelahkan.
Ini aneh, padahal aku baru melakukan gerakan yang tak terlalu banyak, namun kenapa terasa begitu melelahkan?
Tiba-tiba rasanya perutku terasa sedikit keram. Dan membuat pandanganku menghilang dan keseimbanganku berkurang. Aku ambruk.
***
"Sudah ku katakan! Jangan memaksanya jika dia kelelahan! Dasar tak berguna!"
Terdengar amarah yang samar samar dari dekatku. Seperti suara Dion.
"Jika istriku kenapa-kenapa, kalian akan ku penggal!"
Aku berusaha membuka mataku, "Dion.." panggilku.
__ADS_1
Aku mulai dapat melihat siluet wajah Dion yang mendekat, "Sayang... Astaga, kamu hampir membuatku putus asa.." ucap Dion lemah sambil memelukku.
Tabib kerajaan yang sedari tadi memegang tanganku pada akhirnya tersenyum kecil, "Aku berbahagia untukmu Ya Mulia..."
Aku dan Dion saling tatap dan kemudian aku melihat ke arah tabib kembali bingung, sedangkan Dion tampak marah. "Apa kau bahagia karena istriku menderita?!" Jerit Dion dengan mata yang membolang.
Aku menahan dada Dion dan kembali melihat ke arah Sang Tabib yang tampak ketakutan meminta penjelasan.
""M-maaf Ya Mulia, m-maksud saya Ya Mulia akan berbahagia karena seorang anak kecil akan hadir di tengah tengah Ya Mulia."
Aku tertegun.
Sang Tabib merundukkan kepalanya, "Selamat Ya Mulia Ratu, anda sedang hamil."
Deg!
Aku... Hamil?
Saat aku menoleh dengan senyuman bahagia,
Cup
Dion menciumku dan memelukku erat, "Aku akan menjadi Ayah!"
Kami saling tersenyum bahagia.
"Sayang, mulai hari ini kau tetaplah di kamar dan..." Dion melihat ke arah para pelayan dan guru pelatihku, "Hei kalian. Kalian bisa keluar. Cepat!"
Mereka langsung mengangguk dan pergi keluar ruangan meninggalkan kami dan tabib bertiga.
__ADS_1
"Tabib apakah kondisi istri saya baik baik saja?, Bagaimana pun tadi dia sampai jatuh pingsan," tanya Dion cemas.
Sang tabib tersenyum, "Tak masalah Ya Mulia, Semua masih dalam kondisi wajar."
Dion bernafas lega, "Syukurlah."
Dion mengangguk dan kemudian menjabat tangan sang Tabib, "Terimakasih telah membawa kabar baik ini."
Sang tabib tersenyum, "Bukan saya yang membawa kabar baiknya Ya Mulia Raja. Tapi Ya Mulia Ratu lah yang membawa kabar baik ini."
Dion tersenyum dan kembali memelukku, "Tentu dia sumber kebahagiaanku."
Dion kembali melihat ke arah Tabib, "Baiklah, kau bisa keluar sekarang."
Sang Tabib menyatukan kedua telapak tangan menyembah, "Baik Ya Mulia, terimakasih."
Dion mengangguk kemudian sang tabib keluar ruangan di dampingi oleh Dion, pintu ditutup oleh Dion, dan kemudian Dion langsung datang menghampiriku kemudian menghamburkan tubuhnya memelukku,
Cup
Cup
Cup
Dion menciumiku pipiku berkali kali, "Sayang... Aku bakalan jadi ayah kan? Aku harus jadi suami yang siaga. Kamu gak boleh kemana mana, di sini saja. Pokoknya kamu harus sehat."
Aku tersenyum kecil namun sedikit kesal rasanya, "Ih kamu. Kalau aku di kamar terus yang iyanya aku jadi gendut dong."
Dia terkekeh singkat, "Tak masalah, aku suka kamu bagaimana pun kamu."
__ADS_1
Aku tersenyum malu. Kenapa Dion selalu membuatku jadi sangat istimewa sih.
Dan kami pun saling berpelukan tanda cinta.